Revival Of Islamic Faith Foundation
News Update :

Kajian

Bantahan

Fiqih

Sembilan Belas - Pendeteksi Keaslian Al-Qur'an

28 Januari 2013

Dalam kehidupan sehari-hari, tanda tangan ataupun sidik jadi digunakan sebagai pengenal keaslian seseorang. Dengan menandatangai suatu dokumen, atau dengan memberikan cap sidik jari kepada suatu dokumen, maka dapat dipastikan apakah memang dokumen tersebut disetujui oleh kita atau bukan.

Dalam ilmu komputer ada yang dinamakan checksum atau CRC. Mungkin kita pernah men-zip men-rar suatu file atau folder dikomputer. Ketika kita membuka suatu file zip atau rar, kadang-kadang kita memperoleh error "checksum CRC error". Itu artinya file zip atau rar kita corrupt, ada yang mengubah isi file tersebut, sehingga file tersebut dianggap tidak asli lagi dan akhirnya tidak bisa dibuka.

Di dalam fotografi, ada yang dinamakan watermark, seperti memberikan "tanda tangan" terhadap foto yang kita ambil, sehingga dapat dibuktikan keasliannya bahwa itu adalah hasil jepretan kita.
Allah, di dalam Al-Quran, ternyata memberikan pendeteksi keaslian (checksum) semacam ini. Bahkan Allah secara spesifik memberikan kuncinya kepada manusia dalam surah Al-Muddatstsir ayat 30 :

[74:30] Di atasnya ada sembilan belas
Note : kebanyakan terjemahan memberikan tambahan "(malaikat penjaga)" untuk terjemahan ayat ini. Perlu di catat bahwa dalam terjemahan Quran, yang berada di dalam kurung adalah catatan penerjemah. Allah tidak pernah menggunakan tanda "dalam kurung" di dalam Quran.

Bilangan "Sembilan belas" ada di atas, kata Allah, menunjukkan keistimewaan dari angka 19 ini yang akan di bahas selanjutnya. Di ayat berikutnya Allah bahkan menjelaskan tujuan diadakannya angka "Sembilan belas" ini :
[74:31] ... dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan :
- untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir,
- supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin
- dan supaya orang yang beriman bertambah imannya
- dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orang-orang mu'min itu tidak ragu-ragu
- dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?"
Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ...
Mari kita lihat sebagian kecil peranan angka 19 dalam penentuan keaslian Al-Qur'an. Di post yang lain akan dibahas lebih jauh mengenai peranan angka 19 ini.

Sebelumnya perlu diingat bahwa Al-Qur'an diturunkan berangsur-angsur, sedikit demi sedikit, dalam waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari, dan diturunkan tidak berurut (ayat-ayat yg pertama kali diturunkan adalah 5 ayat pertama surah ke 96). Pengaturan susunan surah dan ayat seluruhnya diwahyukan oleh Allah kepada nabi Muhammad SAW, membentuk kitab yg sangat sempurna yang akan di bahas dalam post ini dan post-post berikutnya

Checksum Pertama

Mari kita lihat struktur Al-Qur'an :
  1. Jumlah surah di dalam Al­-Qur'an adalah 114 (6 x 19).
  2. Angka 114 adalah angka yang unik, karena bilangan prima ke-114 adalah 619, dan 114 adalah (6 x 19).
  3. Ada 6346 ayat dalam Quran (termasuk bismillah di awal surah/ayat 0) (19 x 334) (6 + 3 + 4 + 6 = 19).
  4. Kita ketahui pula, isi Al-Qur'an terbagi dalam 30 juz. Angka 30 adalah bilangan komposit (bilangan asli yang lebih besar daripada 1 dan bukan bilangan prima) yang ke-19, yaitu: 4, 6, 8, 9,10,12,14, 15, 16, 18, 20, 27, 22, 24, 25, 26, 27, 28, 30.
  5. Ada 114 bismillah dalam Quran. Satu bismillah merupakan ayat 1 surah Al-Fatihah dan 112 bismillah lainnya menjadi pembuka semua surah surah akan tetapi tidak termasuk ke dalam ayat atau sering dikatakan sebagai ayat 0, dengan pengecualian surah ke-9 (tidak dibuka dengan bismillah) dan 1 bismillah di tengah-tengah surah yaitu surah 27 ayat 30. (114=19 x 6) .
  6. Bismillahirrahmanirrahim  terdiri dari 19 huruf (dalam bahasa arab).
  7. Satu-satunya surah yang tidak diawali dengan bismillah adalah surah ke-9, dan satu-satunya surah dimana bismillah muncul dua kali adalah surah ke-27. Banyaknya surah dihitung dari surah ke-9 sampai surah ke-27 (termasuk surah ke 9 dan surah ke 27) adalah 19 surah.
  8. Lima ayat pertama yang diturunkan terdiri dari 19 kata.
  9. Di dalam Quran di sebutkan 30 bilangan : 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 19, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 99, 100, 200, 300, 1000, 2000, 3000, 5000, 50000, dan 100000, yang apabila ke-30 bilangan-bilangan tersebut dijumlah menjadi 162146 ( 19 x 8534)
Terkait dengan poin ke-9, begitu konsistennya Quran menjaga angka 19 ini sehingga ketika menyebutkan umur nabi Nuh AS, Quran menggunakan kalimat "...seribu tahun kurang lima puluh tahun..." [29:14], bukannya ".. sembilan ratus lima puluh tahun ...".
 
Checksum Kedua

Al-Qur'an terstruktur dalam bentuk 6 x (10 + 9) atau 60 + 54, yaitu 60 surah yang banyak ayat-nya genap, dan 54 surah yang banyak ayat-nya ganjil.
Contohnya adalah Al-Fatihah dengan 7 ayat berarti surah dengan ayat ganjil.
Tetapi Al-Baqarah dengan 286 ayat merupakan surah dengan ayat genap.

Prof. Abdullah Jalghoom dari Yordania menemukan suatu ketentuan dengan kondisi di atas:
  1. Ke-60 surah dengan banyak ayat genap apabila nomor surahnya dijumlahkan diperoleh hasil 3450 atau 345 x 10.
  2. Ke-54 surah dengan banyak ayat ganjil apabila nomor surahnya dijumlahkan diperoleh hasil 3150 atau 345 x 9.
  3. Total jumlah seluruh nomor surah adalah 6555 atau 345 x 19 (1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6+7+....+114=6555) 
Dengan demikian, nomor surah dan banyaknya ayat-ayatnya tidak dapat dipertukarkan, yang jika tertukar maka struktur di atas tidak berlaku. Misalnya, surah Al-Fatihah ditukar tempatnya dengan surah Al-Baqarah maka jumlah ayat-ayat yang genap menjadi 3449 dan jumlah ayat-ayat yang ganjil menjadi 3151.


Checksum Ketiga

Al-Qur'an dengan 114 surah dapat dibagi dua berdasarkan susunannya:
  1. 57 (19 x 3) surah yang homogen, di mana jenis nomor surahnya sama dengan jumlah ayat yang dikandungnya, yaitu genap-genap atau ganjil-ganjil. Contoh surah Al-Fatihah atau "Pembuka­an' dengan nomor surah 1 atau ganjil, jumlah ayat yang dikandungnya juga ganjil, yaitu 7 ayat. Contoh lain adalah surah Al-Baqarah atau "Sapi Betina". Nomor surah 2 atau genap, jumlah ayat 286 atau genap pula. Surah-surah homogen ini, jumlah nomor-nomor surahnya ditambah dengan jumlah dari banyaknya ayat masing-masing surahnya adalah 6236, atau sama dengan banyaknya ayat dalam Al-Qur'an seluruhnya.
  2. 57 (19 x 3) surah yang heterogen, di mana jenis nomor surahnya berbeda dengan jumlah ayat yang dikandungnya, yaitu genap-ganjil atau ganjil­-genap.Misalnya, Surah Ali 'Imran, nomor surah 3 atau ganjil, jumlah ayat 200 atau genap. Jumlah nomor surah yang heterogen ini dan jumlah ayat-ayat dari surah-surah yang heterogen adalah 6555 atau sama dengan jumlah nomor surah dalam Al-Qur'an dari 1 sampai dengan 114, (1+2+3+4+....+114).
Bila kedua kelompok surah ini dijumlahkan, akan meng­hasilkan bilangan prima: 6236 + 6555 =12791 yang merupakan bilangan prima ke-1525.




Checksum Keempat

Pemilihan angka 114 sebagai banyaknya surah sangat luar biasa, karena dapat dibagi atau dipartisi menjadi 3 kelompok besar yang simetris yang tentu saja berkaitan dengan angka 19, seperti ditunjukkan tabel dibawah :




Checksum Kelima

Hanya ada 19 surah, tidak lebih tidak kurang - dari 114 surah - di mana nomor surah dengan banyaknya ayat dari surah tersebut apabila dijumlahkan, hasilnya adalah bilangan prima



Checksum Keenam

19 surah yang pertama yang banyak ayatnya merupakan bilangan prima apabila banyaknya ayat-ayat tersebut dijumlahkan, hasilnya merupakan kelipatan 19.




Checksum Ketujuh

Al-Qur’an juga dapat dibagi menjadi dua kelompok surah :
  1. 29 surah yang memiliki inisial (fawatih) di permulaan surahnya, yaitu suatu kombinasi misterius dari abjad, seperti nun, shad, alif lam mim. Semuanya ada 14 huruf Arab yang digunakan sebagai inisial. Kombinasi-kombinasi huruf itu meru­pakan awalan di surah-surah Makiah, dengan 2 surah pengecualian. Sekedar informasi bahwa Angka 29 adalah bilangan prima yang ke-10.
  2. Sisanya 85 surah (5 x 17, yang dua-duanya adalah prima) tidak mempunyai inisial di awal surahnya, dimana angka 5 x 17 berhubungan dengan perintah shalat, 5 kali sehari berjumlah 17 raka’at.
Dari 29 surah yang mempunyai inisial ini, dapat kategorikan lagi sebagai berikut:
  • 19 surah di mana kombinasi huruf (inisial) nya merupakan ayat tersendiri. Contohnya adalah surah Al-Baqarah, surah nomor 2. Sisanya, 10 surah, inisial-nya bukan merupakan ayat tersendiri, merupakan bagian dari suatu kalimat.
  • 19 surah di mana nomor surahnya bukan bilangan prima. Contohnya, surah Thaha, surah nomor 20. Sisanya,10 surah, bernomor bilangan prima: 2, 3, 7, 11, 13,19, 29, 31, 41, dan 43. Coba perhatikan, surah 19 ditempatkan pada urutan nomor 6 dari urutan bilangan prima pada 10 surah tadi, yang apabila dikalikan (6 x 19 =114), sama banyaknya dengan banyaknya  surah dalam Al-Quran. Jumlahnya pun: 2 + 3 + 7 + 11 + 13 + 19 + 29 + 31 + 41 + 43 = 198, dimana 198 merupakan bilangan tengah dari bilangan prima kembar (197,199). Bilangan prima kembar adalah pasangan bilangan prima yang memiliki sesilih dua.
  • Surah 19 , Maryam, merupakan surah yang ke-10 dari 29 surah ini.



Silakan perhatikan susunan surah pada tabel diatas.
  • Surah al-Ankabut atau "Laba-laba", terletak di posisi tengah, dengan nomor surah 29.
  • Sebelumnya terdapat 14 surah ber-inisial dan sesudahnya juga terdapat 14 surah ber-inisial. Surah ber-inisial ini mulai dari surah nomor 2 (Al-Baqarah) sampai dengan nomor 68 (Al-Qalam). Posisi ini simetris murni.
Mereka disusun sangat unik, simetris satu sama lain, dan surah nomor 29 diletakkan di tengah-tengah 29 surah. Kesimpulan lain yang dapat diperoleh dari tabel di atas adalah :
  • Di antara surah-surah ber-inisial, surah nomor 2 sampai dengan surah nomor 68, terdapat 38 surah yg tidak ber-inisial, atau sama dengan (2 x 19).
  • Lima surah sebelumnya jika dihitung dari tengah (nomor 15/surah Al-Ankabut) dalam tabel di atas adalah surah nomor 19 dan lima surah setelahnya adalah surah nomor 38, atau (2 x 19).
  • Dari surah nomor 19 (Maryam) sampai akhir, ada 19 surah ber-inisial.
  • Sebelum surah Shad nomor 38 (19 x 2), terdapat 19 surah ber-inisial.

wallahu a'lam
Maha benar Allah dengan segala firman-Nya

(dari berbagai sumber)
untuk melihat dan mencari ayat-ayat Quran dapat melalui http://www.quranplus.com

Snouck Hurgronje; Bapak Orientalis Imperialis yang Hafal Al Quran

21 Januari 2013

Nama lengkapnya adalah Christiaan Snouck Hurgronje; seorang orientalis Belanda terkenal dan ahli politik imperialis. Lahir pada 8 Februari 1857 di Oosterhout dan meninggal pada 26 Juni 1936 di Leiden. Ia merupakan anak keempat pendeta J.J.

Snouck Hurgronje dan Anna Maria, putri pendeta Christiaan de Visser. Perkawinan kedua orang tuanya didahului oleh skandal hubungan gelap sehingga mereka dipecat dari gereja Hervormd di Tholen (Zeeland) pada 3 Mei 1849.


Seperti ayah, kakek, dan kakek buyutnya yang betah menjadi pendeta Protestan, Snouck sempat bercita-cita ingin menjadi seorang pendeta. Oleh karena itu, pada 1874 ia memasuki Fakultas Teologi di Universitas Leiden. Setelah lulus sarjana muda pada 1878, Snouck melanjutkan ke Fakultas Sastra Jurusan Sastra Arab di Universitas yang sama. Ia berhasil meraih gelar doktor dalam bidang Sastra Semit pada 1880 dengan disertasi berjudul Het Mekkansche Feest (Perayaan Mekah). Beberapa orientalis terkenal menjadi guru dan sahabat Snouck serta sangat mempengaruhi pandangannya tentang Islam dan politik imperialis. Mereka antara lain adalah Abraham Kuenen, C.P. Tieles, L.W.E. Rauwenhoff, M.J. de Goeje, Ignaz Goldziher, Theodor Nรถldeke, dan R.P.A. Dozi.


Untuk memperdalam pengetahuan tentang Islam dan bahasa Arab, pada 1884 Snouck pergi ke Mekah. Di hadapan para ulama, ia menyatakan masuk Islam dan memakai nama Abdul Ghaffar. Ia mengadakan hubungan langsung dengan para pelajar dan ulama yang berasal dari Hindia Belanda. Pengetahuannya tentang Islam memang cukup luas. Ia sangat menguasai bahasa Arab, bahkan juga hapal Al-Qur’an. Kelak ketika bertugas di Hindia Belanda, banyak pribumi muslim memberinya gelar Syaikhul Islam Tanah Jawi karena terkagum dengan ilmunya dan menyangkanya benar-benar sebagai muslim. Padahal, menurut P. Sj. Van Koningsveld, keislaman Snouck Hurgronje hanyalah tipu muslihat. 


Karena sering menghadapi perlawanan jihad dari umat Islam, pemerintah kolonial Hindia Belanda pada 1889 mendatangkan Snouck Hurgronje ke Indonesia. Mereka mengangkatnya sebagai penasihat untuk urusan-urusan Arab dan pribumi. Tugasnya adalah melakukan penyelidikan mengenai hakikat agama Islam di Indonesia dan memberikan nasihat kepada pemerintah mengenai urusan-urusan agama Islam.


Deislamisasi dan Imperialisme
Sesuai dengan tugasnya, Snouck merumuskan kebijakan pemerintah Hindia Belanda dalam menangani masalah Islam. Ia membedakan Islam dalam arti “ibadah” dengan Islam sebagai “kekuatan sosial politik”. Ia membagi masalah Islam atas tiga kategori.

Pertama, dalam semua masalah ritual keagamaan atau aspek ibadah, rakyat Indonesia harus dibiarkan bebas menjalankannya. Snouck menyatakan bahwa pemerintah Belanda yang ”kafir” masih dapat memerintah Indonesia sejauh mereka dapat memberikan perlakuan yang adil dan sama-rasa sama-rata, bebas dari ancaman dan despotisme.

Kedua, sehubungan dengan lembaga-lembaga sosial Islam atau aspek muamalat, seperti perkawinan, warisan, wakaf, dan hubungan-hubungan sosial lain, pemerintah harus berupaya mempertahankan dan menghormati keberadaannya.

Ketiga, dalam masalah-masalah politik, Snouck menasihati pemerintah untuk tidak menoleransi kegiatan apa pun yang dilakukan kaum Muslim yang dapat menyebarkan seruan-seruan Pan-Islamisme atau menyebabkan perlawanan politik atau bersenjata menentang pemerintah kolonial Belanda. Dalam hal ini, Snouck menekankan pentingnya politik asosiasi kaum Muslim dengan peradaban Barat. Cita-cita seperti ini mengandung maksud untuk mengikat jajahan itu lebih erat kepada penjajah dengan menyediakan bagi penduduk jajahan itu manfaat-manfaat yang terkandung dalam kebudayaan pihak penjajah dengan menghormati sepenuhnya kebudayaan asal (penduduk).

Agar asosiasi ini berjalan dengan baik dan tujuannya tercapai, pendidikan model Barat harus dibuat terbuka bagi rakyat pribumi. Sebab, hanya dengan penetrasi pendidikan model Baratlah pengaruh Islam di Indonesia bisa disingkirkan atau setidaknya dikurangi. Dalam bukunya, Nederland en de Islam, Snouck menyatakan, “Opvoeding en onderwijs zijn in staat de Moslims van het Islamstelsel te emancipeeren”. Artinya, “Pendidikan dan pelajaran dapat melepaskan kaum Muslim dari genggaman Islam.” (hlm. 79)

Melalui pendidikan itu, pemikiran Snouck tentang Islam disebarkan. Seperti gurunya, Ignaz Goldziher, Snouck mengingkari turunnya wahyu kepada Rasulullah Muhammad SAW. Ia bahkan menuduh Al-Qur’an sebagai hasil saduran Muhammad dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. (Mohammedanism, hlm. 30-31) Snouck juga melecehkan syariat Islam. Ia menyatakan dalam Nederland en de Islam (hlm. 61) bahwa syariat Islam hanya cocok untuk peradaban abad pertengahan; bukan untuk abad modern. Oleh karena itu, poligami, mempermudah ikatan pernikahan, dan sikap tunduk wanita pada hegemoni laki-laki –misalnya– menghalangi tercapainya kemajuan keluarga yang normal.
Menurut ulama dan sejarawan Indonesia, Abdullah bin Nuh, pemikiran seperti itu sengaja disebarkan untuk menjauhkan pribumi Indonesia yang mengenyam pendidikan Barat dari agama Islam dan syariatnya, sesuai politik imperialis dan tujuan misi Kristen di Indonesia. (Darsun min Hayรขh Mustasyriq, hlm. 29). Oleh karena itu, dari sekolah-sekolah Barat yang didirikan pemerintah Hindia Belanda pada masa politik etis muncullah golongan nasionalis sekuler. Mereka sering melecehkan Islam meskipun mengaku sebagai muslim.


Dari Asosiasi Hingga Kristenisasi
Politik asosiasi yang direkomendasikan Snouck Hurgronje dalam kenyataan bertemu dengan politik Kristenisasi. Para misionaris Kristen berpendapat bahwa apabila asosiasi dapat dipenuhi, mereka dapat berusaha agar bisa lebih diterima oleh penduduk. Sebaliknya, pertukaran agama penduduk menjadi Kristen akan menguntungkan negeri Belanda. Sebab setelah masuk Kristen, mereka akan menjadi warga negara yang loyal lahir batin kepada pemerintahan Belanda. (Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, hlm. 26-27)

Snouck menggalakkan pembukaan sekolah-sekolah misi dengan harapan agar penganut Islam secara berangsur beralih ke agama Kristen. Cara demikian ditempuh karena ratusan ribu penduduk merindukan pendidikan, tetapi mereka tidak menyukai pendidikan Kristen untuk anak-anak mereka. Aktivitas mereka pun didasarkan pada politik asosiasi karena ia berpendapat bahwa penyebaran sekolah-sekolah berpola Eropa merupakan satu-satunya sarana untuk mewujudkan impian, sekali pun hal itu dilakukan melalui sekolah-sekolah misi. (Kumpulan Karangan Snouck Hurgronje, Jilid X,  hlm. 165-166)

Kepada para zendeling dan misionaris, Snouck mengingatkan bahwa Kristenisasi pribumi tetap harus dalam kerangka politik asosiasi. Snouck mengatakan, “Mereka yang percaya pada Kristenisasi umat Islam pribumi (telah saya katakan mengapa saya tidak ikut berharap) paling tidak harus melihat dalam penyatuan bangsa dan politik para kawula Belanda sebagai langkah pertama menuju ke sana. Oleh karena itu, mereka harus bekerja keras untuk menunjangnya. Memang seperti halnya orang Belanda mana pun, dari sekte dan kelas mana pun, misionaris lebih diterima oleh rekan setanah air kita di Timur, yang berperadaban kita, daripada oleh kawula pribumi yang berasal dari rezim yang lama, yang mudah-mudahan segera lenyap.” (Nederland en de Islam, hlm. 94)

Snouck memang telah meninggal pada 1936. Namun, semangat dan pemikirannya meninggalkan pengaruh besar di Indonesia. Ia telah memperlebar akses sekulerisasi dan Kristenisasi. Hingga kini, kedua hal ini menjadi tantangan dakwah terbesar umat Islam Indonesia. Wallahu a‘lam.[mzf]




Penulis: Muhammad Isa AnshoriPeneliti pada Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI)

Jawaban Bagi Orang yang Mengangap Bid'ah sebagai perbuatan baik, seperti maulid Nabi


 
 
JAWABAN BAGI ORANG YANG MENGANGGAP BID'AH SEBAGAI PERBUATAN BAIK SEPERTI MERAYAKAN MAULID NABI
 
Mohon diperhatikan masalah ini. Terjadi perdebatan antara mereka yang mengatakan bahwa perayaan maulid Nabi merupakan bid'ah dengan mereka yang mengatakan bahwa perkara tersebut adalah bid'ah. 
 
Mereka yang mengatakan bahwa merayakan maulid nabi adalah bid'ah, beralasan bahwa hal tersebut tidak terlaksana pada masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam, tidak juga dilakukan pada masa shahabat atau salah seorang tabi'in. Sedangkan kelompok lain menjawab dengan berkata, 'Siapa bilang bahwa semua yang kita lakukan sekarang harus terdapat pada masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam, atau pada masa shahabat dan tabi'in. 
 
Misalnya, sekarang kita mengenal apa yang dikenal 'Ilmu Ar-Rijal' dan ' Al-Jarh wa Ta'dil (ilmu untuk mengenal kapasitas seorang perawi dalam ilmu hadits) dan lainnya. Tidak ada seorang pun yang mengingkari hal tersebut. Oleh karena itu, prinsip dalam pengingkaran masalah ini adalah apabila perkara bid'ah tersebut telah bertentangan dengan pokok (agama). 
 
Adapun merayakan maulid, pokok agama mana yang telah dilanggar? Dan masih banyak lagi perbedaan pandangan seputar masalah ini. Merekapun beralasan bahwa Ibnu Katsir rahimahullah menyetujui pelaksanaan maulid Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Apa hukum yang lebih kuat dalam masalah ini berdasarkan dalil?

Alhamdulillah

Pertama,

Hendaknya diketahui bahwa para ulama berbeda pendapat tentang tanggal persisnya kelahiran Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdasarkan beberapa pendapat. Ibnu Abdul Bar rahimahullah berpendapat bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam dilahirkan pada tanggal 2 bulan Rabi'ul Awal. 
 
Ibnu Hazm rahimahullah menguatkan pendapat bahwa beliau dilahirkan pada tanggal 8 Rabiul Awal. Ada pula yang berpendapat tanggal 10 Rabiul Awal, sebagaimana dikatakan oleh Abu Ja'far Al-Baqir. Ada pula yang berpendapat tanggal 12 Rabiul Awal, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Ishaq. Adapula yang berpendapat bahwa beliau dilahirkan pada bulan Ramadan sebagaimana dikutip oleh Ibnu Abdul Bar dari Zubair bin Bakar.

Lihat As-Sirah An-Nabawiah, Ibnu Katsir, hal. 199-200.

Pendapat-pendapat ini cukup bagi kita untuk mengetahui bahwa orang-orang yang mencintai Nabi shallallahu alaihi wa sallam pada masa lalu tidak memastikan hari tertentu sebagai hari kelahirannya, apalagi untuk merayakannya. Telah berlalu sekian abad kaum muslimin tidak melakukan perayaan hari kelahiran beliau, hingga akhirnya kaum Fathimiah mengada-adakannya.

Syekh Ali Mahfuz rahimahullah berkata,

"(Perayaan maulid) pertama kali diadakan di Kairo, yaitu pada masa dinasti Fathimiah, abad ke 4. Ketika itu mereka mengada-adakan empat perayaan kelahiran (maulid); Maulid Nabi, Maulid Imam Ali radhiallahu anhu, Maulid Fatimah Az-Zahra' radhiallahu anha, Maulid Hasan dan Husain radhiallahu anhuma dan maulid Khalifah saat itu. Perayaan tersebut terus dilaksanakan hingga dihilangkan oleh Al-Afdhal, pemimpin tentara. Kemudian diadakan kembali pada masa khalifah Al-Amir bi Ahkamillah, pada tahun 524 H setelah nyaris dilupakan orang. Sedangkan yang pertama kali mengadakan maulid di wilaya Arbil adalah Raja Muzaffar Abu Sa'id pada abad ketujuh dan terus diadakan hingga hari ini. Bahkan orang-orang mengembangkannya dan melakukan bid'ah sesuka hati mereka dengan bisikan setan manusia dan jin."

Al-Ibda' Fi Madhari Al-Ibtida', hal. 251

Adapun pertanyaan yang diajukan oleh mereka yang merayakan maulid nabi, ''Siapa bilang bahwa semua yang kita lakukan sekarang harus terdapat pada masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam, atau pada masa shahabat dan tabi'in' Hal itu menunjukkan bahwa mereka belum paham makna bid'ah yang telah diperingatkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam banyak hadits.

Dalam masalah ibadah, tidak dibenarkan seseorang bertaqarrub (beribadah) kepada Allah dengan cara yang tidak disyariatkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada kita. Kesimpulan inilah yang dapat kita ambil dari larangan beliau tentang bid'ah. Maka bid'ah adalah beribadah kepada Allah Ta'ala dengan sesuatu yang tidak dia ajarkan. Karena itu, ulama kalangan mazhab Hanafi radhiallahu anhu berkata,

'Semua ibadah yang tidak dilakukan para shahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, hendaklah jangan kalian beribadah dengannya.'

Ungkapan senada juga dinyatakan oleh Imam Malik rahimahullah,

'Apa yang pada hari itu bukan bagian dari agama, maka pada hari inipun bukan bagian dari agama.'

Maksudnya adalah sesuatu yang tidak dianggap agama pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan tidak dijadikan sebagai ibadah kepada Allah, maka hal tersebut tidak dianggap agama setelah itu.

Adapun contoh yang disebutkan penanya, yaitu ilmu jarh wa ta'dil, yang dinyatakan sebagai bid'ah yang tidak tercela. Kesimpulan ini dipakai oleh mereka yang membagi bid'ah menjadi bid'ah hasanah (bid'ah yang baik) dan bid'ah sayyi'ah (bid'ah yang buruk). Lalu mereka tambahkan pembagian bid'ah dalam hukum taklifi yang lima (wajib, sunah, mubah, haram, makruh). Pembagian ini dinyatakan oleh Al-Izz bin Abdussalam rahimahullah, kemudian diikuti muridnya, Al-Qarafi.

Asy-Syatibi telah membantah Al-Qarafi atas persetujuannya terhadap pembagian tersebut, dia berkata,

'Pembagian ini merupakan perkara baru, tidak ada landasannya dari dalil syar'i, bahkan pembagian itu sendiri bertolak belakang. Karena hakikat bid'ah adalah sesuatu yang tidak dilandasi dalil syar'i, baik dari teks syar'i, maupun dari prinsip-prinsip. Sebab, jika ada dalil dari syariat yang menunjukkan wajib, sunah atau mubah, maka hal tersebut tidak dapat disebut bid'ah, dan amalnya dapat digolongkan sebagai amal yang diperintahkan secara umum atau dipilih. Maka menjadikan satu masalah sebagai bid'ah sementara dalil-dalil yang ada menunjukkan wajib, atau sunnah atau mubah, merupakan kesimpulan yang bertolak belakang.

Adapun perkara makruh dan haram dapat diterima sebagai bid'ah dari satu sisi, tapi tidak dari sisi lain. Karena, seandainya ada dalil yang melarang suatu perkara, atau memakruhkannya, maka hal tersebut tidak tepat dikatakan bid'ah, tapi lebih tepat disebut maksiat, seperti pembunuhan atau pencurian, minum khamar dan semacamnya. Maka tidak ada bid'ah yang dapat digambarkan dalam pembagian tersebut selain pembagian haram dan makruh sebagaimana telah disebutkan dalam babnya.

Apa yang dinyatakan Al-Qarafi tentang disepakatinya penolakan terhadap bid'ah adalah benar. Akan tetapi pembagian yang dia lakukan tidak benar. Uniknya, pengakuan adanya kesepakatan terebut dibenturkan dengan sesuatu yang berlawanan, padahal dia tahu perkara-perkara yang dapat merusak ijmak. Sepertinya dia mengikuti gurunya dalam masalah pembagian ini, yaitu Ibnu Abdussalam, tanpa memperhatikan lagi.

Kemudian dia, Asy-Syatibi, menyebutkan dipahaminya kekeliruan Al-Izz bin Abdusssalam rahimahullah dalam masalah pembagian ini, dan bahwa dia menyebutkannya sebagai Al-Mashalih Al-Mursalah sebagai bid'ah. Lalu dia berkata, 'Adapun Al-Qarafi, tidak dapat diterima kekeliruannya yang mengutip pembagian bid'ah tersebut tidak sesuai yang dimaksud oleh gurunya, juga tidak sesuai dengan yang dimaksud orang lain. Karena dia telah berbeda pendapat dengan semua pihak dalam pembagian ini. Maka itu artinya bahwa pandangannya bertentangan dengan ijmak."

Al-I'tisham, hal. 152-153. Kami nasehatkan untuk merujuk kepada kitab tersebut. Sebagian beliau telah membantah dengan sangat baik dan sangat bermanfaat.

Al-Izz bin Abdussalam telah memberikan contoh bid'ah yang wajib dalam pembagiannya. Dia berkata,

Contoh pertama, "Bid'ah yang wajib memiliki beberapa contoh, di antaranya, 'Menyibukkan diri dengan ilmu nahwu (gramatika bahasa Arab) untuk memahami Kalamullah (Al-Quran) dan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Ini adalah kewajiban, karena memelihara syariah adalah kewajiban, dan hal tersebut tidak akan terealisir kecuali dengan mengetahuinya. Sebuah kewajiban yang tidak terlaksana dengan sempurna kecuali dengan suatu perkara, maka perkara itu menjadi wajib.'

Contoh kedua, 'Menjaga kosa kata yang sulit dalam Al-Quran dan Sunnah.'

Contoh ketiga, 'Membukukan Ushul Fiqih.

Contoh keempat, 'Membincangkan Al-Jarh Wat-Ta'dil (ilmu untuk membedakan mana perawi yang dapat diterima dan mana yang tidak) untuk membedakan hadits shahih dan hadits lemah.

Kaidah dalam syariat telah menunjukkan bahwa memelihara syariat merupakan fardhu kifayah apabila telah melampaui batasan fardhu ain. Memelihara syariah tidak dapat terlaksana kecuali dengan apa yang telah kami sebutkan."

Qawa'idul Ahlam Fi Mashalih Al-Anam, 2/173.


Asy-Syatibih juga telah membantah perkataannya dengan berkata, 
Adapun apa yang dikatakan oleh Izzuddin, maka telah dibicarakan sebelumnya. Contoh-contoh tentang perkara wajib yang dikemukakan, berdasarkan bahwa sebuah kewajiban tidak dapat diwujudkan kecuali dengan perkara tersebut, seperti yang dia katakan, tidak disyaratkan terlaksana di kalangan salaf, juga tidak disyaratkan memiliki landasan khusus dalam syariat, karen hal itu termasuk dalam bab 'Al-Mashalih Al-Mursalah', bukan bid'ah."

Al-I'tisham, hal. 157-158.

Kesimpulan dari bantahannya adalah bahwa ilmu-ilmu ini tidak pantas jika dikatagorikan sebagai bid'ah syar'iah yang tercela. Karena kebenarannya dikuatkan oleh nash-nash yang umum dan kaidah syariah yang umum yang memerintahkan untuk memelihara agama dan sunah serta perintah untuk menyampaikan ilmu syariah dan nash-nash syar'I (Al-Quran dan Sunnah) kepada manusia dengan cara yang benar.

Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata,

"Bi'dah menurut defenisi syariat adalah tercela, berbeda menurut definisi bahasa. Karena semua perkara yang diada-adakan tanpa contoh sebelumnya (menurut bahasa) adalah bid'ah, apakah yang terpuji atau tercela."

Fathul Bari, 13/253.

Dia juga berkata,

"Bid'ah adalah segala sesuatu yang tidak memiliki contoh sebelumnya. Maka dari segi bahasa bid'ah dapat mencakup perkara yang terpuji dan tercela. Sedangkan menurut pemahaman syariah bid'ah khusus memiliki sifat tercela. Jadi kalau disebutkan dalam katagori terpuji, maka maksudnya adalah pemahaman bid'ah dari segi bahasa."

Fathul Bari, 13/340

Syekh Abdurrahman Al-Barrak ketika memberi penjelasan tentang hadits no. 7277 dalam bab Al-I'tisham bil Kitab was-Sunnah, pasal 2 dalam kitab Shahih Bukhari, beliau berkata,

"Pembagian ini benar jika bid'ah dipahami secara bahasa. Adapun bid'ah menurut syariat, semuanya adalah sesat. Sebagaimana hadits Rasululllah shallallahu alaihi wa sallam 'Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bid'ah adalah sesat." Dengan kaidah yang umum ini, maka tidak dibenarkan jika dikatakan, di antara bid'ah ada yang sifatnya wajib, sunah, mubah. Tapi yang namanya bid'ah dalam agama, apakah masuk dalam perkara haram atau makruh. Di antara perkara bid'ah yang dimakruhkan dan ada pula bahwa ini adalah perkara yang mubah, adalah mengkhususkan waktu Shubuh dan Ashar untuk saling berjabat tangan setelah shalat.."

Yang layak dipahami dan diperhatikan adalah hendaknya diperhatikan tersedianya semua sebab dan tidak adanya penghalang dalam suatu perbuatan pada zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam serta para shahabatnya. Maka perayaan maulid Nabi shallallahu alaihi wa sallam serta kecintaan para shahabat terhadapnya merupakan dua sebab yang terdapat pada masa shahabat yang mulia untuk menjadikan hari maulid sebagai perayaan yang mereka rayakan. Tidak sesuatu yang mencegah mereka untuk melakukna hal itu. Maka ketika hal tersebut tidak dilakukan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, juga para shahabatnya tidak ada satupun yang melakukannya, maka dapat disimpulkan bahwa perkara tersebut tidak disyariatkan. Sebab seandainya hal itu disyariatkan, niscaya mereka akan lebih dahulu dari kita untuk melakukannya."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata,

"Demikian pula apa yang diada-adakan sebagian orang. Apakah hendak menyerupai kaum Nashrani dalam merayakan hari lahirnya Isa alaihissalam, atau karena kecintaannya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam serta penghormatannya kepadanya, maka boleh jadi Allah akan memberi mereka pahala atas kecintaan dan kesungguhannya, bukan atas perbuatan bid'ahnya, yaitu dengan cara menjadikan hari kelahiran Nabi sebagai perayaan dengan perbedaan yang ada di antara mereka. 
 
Sesungguhnya hal ini tidak terdapat di kalangan salaf, padahal sebabnya ada, dan penghalangnya tidak ada. Jika perkara itu murni sebuah kebaikan, atau lebih besar kemungkinan benarnya, niscaya kalangan salaf lebih layak melakukannya ketimbang kita. 
 
Karena mereka adalah orang-orang yang lebih mencintai dan memuliakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam daripada kita, dan mereka adalah orang yang sangat gemar pada amal kebaikan. Sesungguhnya kesempurnaan cinta dan pengormatan kepadanya terwujud dengan mengikuti jejaknya, taat kepadanya, mengikuti petunjuknya, menghidupkan sunahnya lahir batin seta menyebarkan ajarannya dan berjihad untuk itu, baik dengan hati, tangah dan lisan. Ini merupakan petunjuk generasi awal dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta yang mengikuti mereka dengan baik."

Iqtidha Ash-Shiratal Mustaqim, hal. 294-295.  

Ini adalah ucapan yang tepat, menjelaskan bahwa cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terwujud dalam bentuk mencintai sunahnya, mengajarkannya dan menyebarkannya di antara manusia serta membelanya. Inilah jalan yang ditempuh para shahabat radhiallahu anhum.

Adapun orang-orang yang datang belakangan, mereka menipu diri mereka sendiri, dan mereka ditipu oleh setan dengan perayaan-perayaan tersebut dengan pandangan bahwa semua itu sebagai ekspresi kecintaan mereka terhadap Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Sementara mereka jauh dari tindakan untuk menghidupkan sunah, mengikutinya, mendakwahkannya, mengajarkannya dan membelanya.

Ketika.

Adapun bantahan orang tersebut yang berdalil dengan ucapan Ibnu Katsir rahimahullah, bahwa dia membolehkan pelaksanaan maulid Nabi, hendaknya dia menyebutkan kepada kami dimana dia dapatkan ucapan Ibnu Katsir seperti itu. Karena kami tidak mendapatkan ucapan Ibnu Katsir rahimahullah seperti itu. Kami yakin Ibnu Katsir jauh dari tindakan membela dan mengajarkan bid'ah seperti itu.


Wallahua'lam.

Rhonda: Islam Membuatku Lebih Dekat dengan Tuhan

17 Januari 2013



Dalam pencarian menemukan Tuhan, Rhonda keluar dari agama lamanya. Memasuki usia dewasa, tepatnya usia 17 tahun, Rhonda mulai mempelajari Buddhisme. Namun, itu tidak lama, karena ia beralih pada ajaran Hindu.

Usai lulus sekolah menengah, Rhonda yang sempat mempertanyakan keberadaan Tuhan, memutuskan menetap di Inggris. Di Negeri Ratu Elizabeth itu Rhonda mengikuti kuliah perbandingan agama. Selama kuliah itu, ia mempelajari banyak agama seperti Hindu dan Islam. Ketika pada akhir kuliah, ia merasakan ada kedekatan dengan Islam. Saat itu, ia teringat dengan salah seorang temannya yang berasal dari Australia. Kebetulan ia baru saja kembali dari Palestina.

Ia memiliki sebuah buku yang berjudul ‘The Question Arab Israel’. Dari buku itu, ia mendapat pengetahuan tentang Islam. Usai membaca buku itu, ia kembali ke rumah. Ia duduk sejenak sembari menyaksikan layar televisi lalu muncul program tentang Islam.

“Inilah yang membuat aku ingin lebih dekat, Alhamdulillah,” kata dia, seperti dinukil dari onislam.net.

Penghalang Mendapat Kebenaran

9 Januari 2013



Penghalang Mendapat Kebenaran
Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala semata, shalawat dalam salam semoga selalu tercurah kepada Nabi yang tidak ada nabi sesudahnya.
Ini adalah sebelas penghalang manusia menerima kebenaran, siapa yang mengetahuinya ia bisa menolaknya dan siapa yang tidak mengetahuinya ia mengikutinya.
Penghalang pertama: sombong. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Aku memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak berfirman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tak mau menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya. (QS. al-A’raf:146)
Contoh penjelasan di atas: 
Contoh pertama: Iblis. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Lalu seluruh malaikat-malaikat itu sujud semuanya * Kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir. (QS. Shaad:73-74)
Contoh kedua: Yahudi. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh. (QS. Al-Baqarah: 87)
Contoh ketiga: orang-orang musyrik. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka:"Laa ilaaha illallah" (Tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. (QS. ash-Shaaffat:35)
Contoh Keempat: Walid. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, (QS. al-Mudatstsir:23)
Contoh Kelima: orang kafir dan ahli bid’ah, mereka memperdebatkan al-Qur`an karena sombong. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkah hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah.Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Ghafir :56)
Penghalang kedua: iri dengki. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya.. (QS. an-Nisa`:54)
Contoh penjelasan di atas.
Contoh pertama: Iblis. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
   
Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada malaikat:"Sujudlah kamu semua kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata:"Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah" * ia (iblis) berkata:"Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil". (QS. al-Isra`:61-62)
Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Allah berfirman:"Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu". Menjawab iblis:"Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". (QS. Al-A’raaf:12)
Contoh kedua: Yahudi. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguh-Nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 2:109)
Contoh Ketiga: Qabil. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain(Qabil). Ia berkata (Qabil):"Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil:"Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa". (QS. al-Maidah:27)
Penghalang Ketiga: mengikuti hawa nafsu. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). (QS. 28:50)

Contoh penjelasan di atas:
Contoh pertama: seorang ulama bani Israel. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. * Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah,. (QS. Al-A’raaf:175-176)
Contoh Kedua: orang-orang musyrik. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya (QS. Al-Jatsiyah:23)
...dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi:28)
Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu binasa". (QS. Thaha:16)
Penghalang keempat: pengagungan dan panatisme terhadap makhluk, bukan terhadap kebenaran. Contoh-contohnya adalah:

Contoh pertama: pengagungan dan panatisme terhadap seseorang. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Apabila dikatakan kepada mereka:"Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab:"Cukuplah untuk kami apa yang kamu dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuki (QS. al-Maidah:104)
Mereka mengikuti jejak para leluhur, bukan mengikuti para nabi. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. *Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu. * Dan sesungguhnya telah sesat sebelumm mereka (Quraisy) sebagian besar dari orang-orang yang dahulu, (QS. ash-Shaffat:69-71)
Jika para leluhur melakukan perbuatan keji, anak cucu juga melakukan yang sama. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata:"Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya. Katakanlah:"Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji". Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS. al-A’raf:28)
Dan jika para leluhur melakukan perbuatan syirik, anak cucu juga melakukan hal yang sama. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya:"Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?" * Mereka menjawab:"Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya". (QS. al-Anbiya`:52-53)
Maka apa saja yang dilakukan oleh leluhur, dilakukan pula oleh para keturunan. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Mereka menjawab:"(bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian". (QS. asy-Syu’ara:74)
Contoh kedua: panatik terhadap ulama. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, (QS. at-Taubah:31)
Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dan mereka berkata:"Ya Rabb Kami, sesungguhnya kami telah menta'ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). (QS. 33:67)
Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar". (QS. al-Ahzaab:67-68)
Contoh ketiga: panatik terhadap makhluk bukan terhadap kebenaran, seperti panatik terhadap mazhab atau negeri atau keturunan atau warna atau bahasa.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 
“Barangsiapa yang berperang di bawah bendera kebutaan, yaitu marah karena kekerabatan, atau mengajak kepada kekerabatan, atau menolong karena kekerabatan, lalu ia terbunuh maka ia terbunuh secara jahiliyah.” HR. Muslim. 
Dan dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Kami berada dalam satu peperangan, lalu seorang laki-laki dari kalangan muhajirin memukul pantat seseorang dari kalangan anshar. Maka orang anshar tersebut berkata:

‘Wahai orang-orang anshar.’ Dan orang muhajirin berseru: ‘Wahai orang-orang muhajirin.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar hal itu seraya bersabda: ‘Kenapa ada panggilan jahiliyah? Mereka menjawab: ‘Seorang laki-laki dari kaum muhajirin memukup pantat laki dari kaum anshar.’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Biarkanlah, sesungguhnya ia sesuatu yang busuk.”  HR. Al-Bukhari no. 4622
Penghalang kelima: Merasa mulia dan angkuh. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: 
Dan apabila dikatakan kepadanya:"Bertaqwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. (QS. 2:206)
Penghalang keenam: hamiyyah.
Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah (QS. al-Fath:26)
Penghalang ketujuh: nifaq. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Apabila dikatakan kepada mereka:"Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS. 4:61)
Penghalang kedelapan: marah. 
Dari Sulaiman bin Syard radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata: dua orang laki-laki saling mencela di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kami sedang duduk di sisi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, salah seorang dari keduanya mencela temannya sambil marah dan mukanya sudah merah padam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimah yang jikalau ia mengatakannya niscaya hilang kemarahan darinya, jika ia membaca: ‘Aku berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari gangguan syetan yang terkutuk.’ Mereka berkata kepada laki-laki tersebut: ‘Apakah engkau tidak mendengar apa yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Ia menjawab: ‘Sesungguhnya aku bukan orang gila.’HR. al-Bukhari.
Penghalang ke sembilan: teman. 
Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata:"Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. * Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku). (QS. Al-Furqan:27-28)
Penghalang  kesepuluh:  khawatir kehilangan kekuasaan, kedudukan dan pengikut. 
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu mengabarkan kepadanya bahwa Heraclius berkata: ‘Sungguh aku sudah mengetahui bahwa ia (nabi akhir zaman) pasti akan muncul namun aku tidak pernah menduga bahwa ia berasal dari golonganmu. Maka jika aku mengetahui bahwa bisa sampai kepadanya niscaya aku berusaha untuk menemuinya. 
Jika aku berada di sisinya niscaya aku membersihkan kedua kakinya. Lalu ia memanggil para pembesar Romawi di tempat peribadatannya di Aleppo. Kemudian ia menyuruh pintu di tutup kemudian ia berpidato: ‘Wahai semua bangsa Romawi, maukah kalian mendapat keberuntungan dan petunjuk, dan kerajaanmu tetap langgeng, maka kamu membai’at nabi ini.’ 
Lalu mereka berdesakan menuju pintu, ternyata pintu sudah dikunci. Maka tatkala ia melihat berlarinya mereka dan tidak mau beriman, ia berkata: ‘Kembalikan mereka kepadaku dan berkata: Sesungguhnya aku mengatakan hal ini untuk menguji kesungguhan kalian terhadap agama kalian, sungguh aku telah melihat hal itu, lalu mereka sujud kepadanya dan ridha terhadapnya. Maka itulah akhir berita Heraclius. 
Penghalang Kesebelas: Perasaan
Dari Ibnu Syihab, ia berkata, Sa’id bin Musayyab mengabarkan kepadanya dari bapaknya,  ia menceritakan bahwa tatkala Abu Thalib hampir meninggal dunia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepadanya ternyata di sampingnya ada Abu Jahal bin Hisyam dan Abdullah bin Abu Umayyah bin Mughirah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Thalib: Wahai pamanku, ucapkanlah ‘laa ilaaha illallah’ kalimat yang aku bersaksi dengannya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Abu Jahal dan  Abdullah bin Abi Umayyah berkata: Apakah engkau membenci agama Abdul Muthalib?

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menawarkan hal itu kepadanya dan keduanya mengulangi kalimat tersebut, hingga akhirnya Abu Thalib berkata di akhir ucapannya bahwa ia tetap di atas agama Abdul Muthalib dan enggan mengucapkan ‘laa ilaaha illallah’.
Semoga shalawat selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Keteladanan Salafusshalih (khotbah)




Keteladanan Salafusshalih
~Syaikh Husain bin AbdulAziz Alu Syaikh

Khutbah pertama
Segala puji hanya untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla yang telah memuliakan tauhid beserta para pembela dan pengusungnya, menghinakan perbuatan syirik serta para pelakunya. Saya bersaksi bahwasannya tidak ada ilah yang berhak di sembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla, tidak ada sekutu baginya. 
Dan saya juga bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad  Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan Allah Shubhanahu wa ta’alla. Sholawat serta salam dan keberkahan semoga selalu tercurah kepada beliau, keluarga serta para sahabatnya.
Allah Shubhanahu wa ta’alla Ta'ala berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar".  (QS al-Ahzaab: 70-71).

Kaum muslimin…
Pada saat ini, begitu terasa ujian yang sedang menimpa umat, cobaan yang di bebankan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla kepada umat ini, semakin hari semakin bertambah, dan terus bertambah musibah yang di alami oleh saudara kita sesama muslim di belahan barat dan timur, yang sudah tidak asing lagi di kalangan kita semua. 
Saudaraku seakidah…
Sesungguhnya umat Islam -dan umat ini sedang dalam ujian serta fitnah yang sangat besar- sangat membutuhkan kepada pemahaman sempurna terhadap sejarah kemulian para pendahulu kita salafus shalih radhiyallahu 'anhum, sebuah potret sejarah yang mengandung kejayaan umat, mengantarkan perjalanan hidup di atas manhaj yang benar dan petunjuk yang lurus. 
Sungguh sebuah sejarah yang penuh dengan pelajaran, yang mengenyangkan jiwa, memperbaiki perilaku, menyinari akal, memberi pelajaran dan ibroh, yang mampu memompa semangat serta menguatkan cita-cita, dan memecut keinginan. Sejarah untuk di ambil sebagai pelajaran oleh umat, guna mempersiapkan diri meraih kembali puncak-puncak kejayaan, menilik tempat-tempat yang bisa mendatangkan pertolongan Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan pendorong kekukuhan umat.
Saudaraku kaum muslimin…
Pada zaman Umar al-Faruq radhiyallahu 'anhu, seorang khalifah yang Rasyid (mendapat petunjuk), penaklukan demi penaklukan negeri kafir terus berlanjut, sebuah kepemimpinan yang mengantarkan kepada kebahagian dan kesejahteraan umat manusia, serta ketentraman pada setiap lini kehidupan.
Diantara sekian banyak penaklukan yang dapat di capai oleh kaum muslimin pada saat itu adalah di taklukannya negeri Syam, yang masuk padanya dapat direbutnya kota al-Quds dari tangan penjajah, sebuah penaklukan yang memiliki peran penting dalam barisan umat. Sedangkan penaklukan itu sendiri, terjadi pada tahun ke enam belas Hijriyah.

Kaum muslimin rakhimakumullah…
Sungguh dengan di taklukannya kota ini, di dalamnya membawa sebuah pelajaran yang sangat agung serta ibroh yang mulia bagi kita semua, di antara pelajaran yang dapat kita petik dari penaklukan ini yaitu; Bahwa suatu keharusan bagi kaum muslimin adalah mempunyai rasa percaya diri yang tinggi serta merasa lebih mulia dengan agamanya, percaya kepada Rabbnya. 
Dengan tidak mengeyampingkan ajaran tauhid, bertawakal kepada -Nya, menyerahkan segala usaha dan upaya guna meraih ketakwaan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan tunduk didalam bingkai ketaatan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam. Maka, inilah kaidah dan pondasi yang bisa mengantarkan kepada kemuliaan dan kejayaan umat, inti dari sarana untuk meraih pertolongan -Nya, serta segera di angkatnya bencana dan ujian serta ditolaknya segala bentuk fitnah.
Di kisahkan dalam sejarah, Setelah berhasil menguasai negeri ini dan kedudukannya berubah menjadi di bawah kekuasaan Umar radhiyallahu 'anhu, maka beliau memerintahkan Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhum 'ala Shohabah 'ajma'in, untuk ekspedisi menaklukan negeri berikutnya, dan sebelumnya beliau memberikan surat wasiat kepadanya, yang isinya antara lain; Amma Ba'du: 
"Saya jadikan dirimu sebagai panglima dalam ekspedisi ini, maka laksanakan perintah ini, berangkatlah ke Qoisaariyah, mintalah pertolongan hanya kepada Allah Azza wa jalla dan perbanyaknya mengucapkan; 'Laa haula walaa quwata ilaa billahil 'Aliyil 'Adhim' (Tiada daya dan upaya melainkan dari Allah Shubhanahu wa ta’alla yang Maha Tinggi lagi Maha Agung)."
Dan para Sahabat, mereka adalah orang-orang yang sangat paham betul dengan makna kalimat  yang terkandung didalamnya. Di antara kelanjutan wasiat beliau adalah; 'Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah satu-satunya Rabb kita, kita serahkan segala urusannya hanya kepada -Nya, tempat untuk mengharap dan mengadu, dan -Dia lah sebaik-baik tempat mengadu dan meminta pertolongan".  Maka Mu'awiyah pun berangkat –Sembari membawa makna yang sangat agung ini dari wasiat-wasiat Umar – yang pada akhirnya Allah Shubhanahu wa ta’alla memenangkan mereka dan dapat menguasai negeri tersebut.
Tatkala Umar mengunjungi kota Syam, di saat penaklukan-penaklukan ini sedang terjadi, dalam keadaan naik keledainya dan kedua kakinya berada di satu sisi, Abu Ubaidah radhiyallahu 'anhu berkata kepadanya: 
"Wahai Amirul mu'minin, sekarang engkau akan bertemu dengan para pembesar Romawi". Maka terucaplah dari Umar sebuah ucapan yang sangat mashur: "Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla telah memuliakan kalian dengan Islam, kalau sekiranya kalian berusaha untuk mencari kemulian dari selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, maka -Dia pasti akan menghinakan kalian". Kemudian beliau berkhutbah dengan khutbah yang ringkas namun sangat agung isinya, yang kaya makna dan petuah, di antara isi khutbahnya adalah: 
"Barangsiapa di antara kalian yang merasa senang dengan kebaikannya, dan merasa sedih dengan kejelekannya, maka di adalah seorang mukmin". Sebuah kalimat yang harus menjadi pegangan hidup dalam masyarakat muslim.
Di antara sikap Umar al-Faruq radhiyallahau 'ahu yang ada pada saat itu, yaitu menulis surat kepada Abu Ubaidah untuk berangkat jihad di tengah-tengah penaklukan-penaklukan tersebut, seraya berkata: "Keselamatan semoga tercurah atas kalian, sesungguhnya saya memuji kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla baik dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan, dan saya peringatkan kalian semua dari perbuatan maksiat kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla Ta'ala, saya juga peringatkan dan melarang kalian agar jangan sampai menjadi orang-orang yang tersirat dalam firman -Nya:
"Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, sanak keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul -Nya dan dari berjihad di jalan -Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan -Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik."  (QS at-Taubah: 24).
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada penutup para Nabi dan Imamnya para utusan. Alhamdulillahi rabil 'alaimin".
Sebuah wasiat yang ringkas namun penuh makna. Maka tatkala surat ini di bacakan di hadapan kaum muslimin, tidak ada seorang pun melainkan meneteskan air matanya karena menangis.
Beliau juga pernah menulis sebuah wasiat kepada Sa'ad bin Abi Waqash radhiyallahu 'anhu dan orang-orang yang bersama dia dari pasukan yang ada, beliau mengatakan: "Amma Ba'du; Sesungguhnya saya menyuruh kepadamu serta orang-orang yang ada di sekelilingmu dari para pasukan agar senantiasa bertakwa kepada Allah Azza wa jalla pada setiap keadaan, karena sesungguhnya ketakwaan kepada -Nya merupakan sebaik-baik benteng untuk melawan musuh, dan tameng yang paling kuat di dalam peperangan. Dan saya juga memerintahkan kepadamu dan orang-orang yang ada, dari para pasukan, agar menjadi orang-orang yang sangat berhati-hati dengan perkara maksiat, melebihi sikap kehati-hatian kalian dari serangan musuh, sesungguhnya dosa-dosa yang di lakukan oleh pasukan lebih saya takuti atas kalian dari pada musuh-musuhmu, (ketahuilah) hanya saja kaum muslimin di tolong oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla di karenakan perbuatan maksiat yang di lakukan oleh musuh kalian kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla Ta'ala".
Dan perhatikanlah, di sana, dalam buku-buku sejarah yang berbicara kepada kita perjalanan anak manusia, salah satu di antara mereka yang telah mengikuti metode ini dan menjadikanya sebagai metode hidupnya adalah Sholahudin al-Ayubi, di mana di kisahkan bahwasannya beliau di dalam peperangan yang beliau lakukan selalu bersedekah  (pada fakir miskin) secara sembunyi-sembunyi, lantas di dalam sujud sholatnya ia berdo'a: "Wahai Rabbku, sungguh telah habis usaha yang dapat saya berikan untuk bisa menolong agama -Mu, tidak ada yang tersisa dari hamba -Mu melainkan ikhlas kepada -Mu, berpegang teguh kepada agama -Mu, dan bersandar kepada keutamaan -Mu, Engkaulah tempat meminta pertolongan dan sebaik-baik penolong". Berkata salah seorang ulama yang hidup sezaman dan melihat beliau: "Sungguh saya pernah melihat beliau dalam keadaan sujud sedangkan air matanya mengalir deras, sampai membasahi jenggot dan tempat sujudnya". 
Mereka semua adalah sosok kaum yang sangat sedikit sekali berbicaranya namun banyak menyimpan ilmu, banyak bersedekah serta ikhlas di dalam amalannya, maka Allah Shubhanahu wa ta’alla mewariskan kepada mereka kemulian dan kemenangan di dunia dan akhirat kelak, adapun sekarang, kita sangat jarang sekali mendapati, di mana ada di kalangan umat ini yang mau meniti pada manhaj yang lurus dan jalan yang lurus ini!
Sedangkan jawabannya maka sudah bisa di tebak di dalam akal pikiran kita, yang tidak samar lagi kecuali bagi orang yang lalai, kita hanya bisa mengadu kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, Laa haula walaa quwata ilaa billah. Mana wacana dan opini yang biasa di lontarkan oleh politikus, atau penulis, kritikus, yang mau menyeru umat sebagaimana halnya Umar dan para Sahabat Rasulullah Shalallahu 'alahi wa sallam serta orang-orang yang mau mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat kelak.
Saudaraku kaum muslimin…
Di antara pelajaran-pelajaran mulia dan ibroh yang penuh barokah ini adalah; Bahwa umat Muhammad  Shalallahu ‘alaihi wa sallam termasuk di antara tanda-tanda wujudnya mereka adalah adanya umat yang lebih mengutamakan perkara akhirat daripada perkara dunianya, bukan umat yang senang hidup mewah dan boros, senang bersendau gurau dan bermain-main, namun, umat ini adalah umat yang hidup di atas semangat tinggi, serta menerapkan makna yang tinggi yaitu merealisasikan peribadahan hanya kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan memurnikan tauhid kepada -Nya, menjadikan dunia ini sebagai ladang amal shaleh agar bisa di petik hasilnya di akhirat kelak, bukan menjadikan dunia sebagai tujuan utama sebagaimana yang menjadi ambisi kebanyakan umat manusia pada hari ini.
Tatkala Umar berkunjung ke Syam beliau berkata kepada Abu Ubaidah radhiyallahu 'anhum 'ala ash-Shahabah, -beliau merupakan salah satu panglima kaum muslimin- dalam penaklukan Syam: "Bawalah kami ke tempat tinggalmu". 
Ia berkata: "Apa yang akan engkau lakukan, wahai Umar? Tidaklah yang engkau inginkan melainkan akan membikin dirimu menangis". Tatkala Umar masuk kedalam rumah, beliau tidak melihat perabotan apapun, lantas beliau bertanya keheranan: "Mana perabotan rumahmu wahai Abu Ubaidah? Saya tidak mendapati kecuali ada karpet lusuh, periuk, dan sedikit air, kamu seorang panglima, apa kamu punya makanan? 
Maka Abu Ubaidah berdiri menuju bawah tangga lalu mengambil remukan roti. Umar pun menangis melihat kondisinya. Abu Ubaidah berkata kepadanya: "Saya sudah bilang padamu, bahwa kamu pasti akan menangis kasihan kepadaku wahai Amirul mukminin, cukup bagiku  sesuatu yang bisa menegakkan tulang punggung". Lantas Umar berkata –beliau adalah seorang yang sangat zuhud, wara' dan sangat sederhana kehidupannya-: "Dunia telah menipu kami semua, kecuali kamu wahai Abu Ubaidah".
Mereka adalah generasi terbaik dari kalangan umat ini, yang tidak mengenal dunia, kekuasaan, kedudukan, keindahan, kekayaan, dan rongsokannya –sebagaimana kebanyakan orang pada hari ini-.
Lihatlah pada kisahnya pedang Allah Shubhanahu wa ta’alla, Khalid bin Walid ini. Dirinya adalah orang yang pertama kali mengetahui surat dari Umar yang diperuntukan untuk Abu Ubaidah, isi suratnya mengabarkan tentang berita wafatnya Abu Bakar Shidiq radhiyallahu 'anhu dan pujian untuk dirinya dari Umar serta menggantikan kepemimpinannya dengan Abu Ubaidah di negeri Syam. 
Surat ini membawa pesan pencopotan Khalid dari jabatan gubernur dan perintah untuk membantu gubernur baru, karena dirinya sangat di butuhkan sekali bantuannya oleh Abu Ubaidah. Tatkala Khalid bin Walid mengetahui hal tersebut, ia bergegas menemui Abu Ubaidah dan berdiskusi dengannya, sebuah perbincangan yang agung dan penuh adab, tinggi kedudukannya, yang menunjukan keikhlasan yang luar biasa besarnya dan kejujuran yang sempurna. 
Khalid berkata kepadanya: "Wahai Abu Ubaidah, semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla mengampunimu. Telah datang kepadamu surat dari Amirul mukminin dengan penunjukan dirimu sebagai pemimpin, kenapa engkau tidak memberitahuku sebelumnya, sehingga dirimu masih sholat di belakangku, sedangkan pemimpin adalah pemimpinmu juga?". Maka Abu Ubaidah berkata kepadanya: "Demikian juga engkau wahai Khalid semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla mengampunimu. Saya enggan untuk memberitahumu sampai sekiranya engkau mengetahui sendiri dari orang lain, saya tidak mau membuatmu terburu-buru sampai semuanya selesai, sehingga pada nantinya saya segera memberitahumu –Insya Allah-". 
Abu Ubaidah mengatakan: "Bukanlah kekuasaan dunia yang saya inginkan, dunia bukanlah tujuan saya bekerja, karena sebagaimana kita lihat, semuanya pasti akan fana dan sirna. Kita hanyalah saudara seiman yang tunduk terhadap perintah Allah Shubhanahu wa ta’alla Ta'ala, tidak ada cela bagi seseorang yang di gantikan oleh saudaranya dalam agama bukan dunianya, namun Amirul mukminin mengetahui bahwa dirinya harus memilih mana dari keduanya yang lebih sedikit membawa fitnah dan terjatuh ke dalam kekeliruan yang akan menghancurkan dirinya, kecuali orang yang di jaga oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan sangatlah sedikit golongan mereka".
Lalu Abu Ubaidah menyerahkan surat wasiat Umar kepada Khalid. Apa yang di perbuat oleh Khalid? Beliau berada di bawah kepemimpinan Abu Ubaidah selama kurang lebih empat tahun, dan tidak pernah di ketahui bahwa dirinya mangkir dari perintah pemimpinnya walau pun hanya satu kali. Namun, dirinya selalu memenuhi perintahnya sampai pada peperangan besar dan penting yang sangat genting sekalipun. Khalid berkata kepadanya: "Ini adalah bagian saya, dan saya akan menyelesaikannya insya Allah". 
Maka Abu Ubaidah mengatakan: "Saya malu kepadamu wahai Abu Sulaiman". Lantas Khalid menjawab: "Kalau sekiranya saya di perintah oleh anak kecil yang datang dari Waliyul 'amr pasti saya akan taati titahnya, bagaimana mungkin saya akan menyelisihimu, sedangkan engkau adalah orang yang lebih dulu beriman daripada saya dan lebih dulu masuk Islam, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam telah menamai dirimu sebagai 'al-Amiin'?". Kemudian Khalid bersaksi bahwa dirinya telah menjadikan jiwa dan raganya untuk berjihad dan tidak menyelisihi perintah pemimpin selama-lamanya.
Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla meridhoi al-Faruq Umar bin Khatab tatkala dirinya menulis surat untuk seluruh penjuru negeri Islam yang berisi pernyataanya: "Sesungguhnya saya mencopot Khalid (dari kepemimpinanya) bukan karena kebencianku padanya bukan pula karena dirinya khianat, akan tetapi, manusia telah terfitnah dengan Khalid, dan saya khawatir mereka menyerahkan segala urusan kepadanya, dan mereka akan di uji olehnya".
Sebuah pelajaran tauhid, yang para Sahabat dapatkan dari sistem pendidikan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam–beliaulah pendidik tauhid yang sejati-, kemudian Umar mengatakan kepada Khalid: "Wahai Khalid. Demi Allah, sungguh dirimu bagi saya mempunyai kemuliaan, dan engkau adalah orang yang saya cintai". Beliau melanjutkan: "Saya berbuat seperti halnya orang berbuat namun tidak seperti apa yang kamu lakukan, tidak ada yang di lakukan oleh seorang hamba melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla lah yang menciptakannya".
Ketika Abu Ubaidah memegang tampuk kepemimpinan Qonnisiriin beberapa lama setelah di copotnya Khalid dari jabatannya, Berkata Umar –tatkala negeri tersebut dapat di taklukan oleh Khalid-, Umar berkata kepadanya: "Khalid telah menjadi amir dengan sendirinya, Khalid telah menjadi amir dengan sendirinya. Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla merahmati Abu Bakar, semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla merahmati Abu Bakar, dirinya lebih mengetahui keadaan ar-Rijal (orang) dari pada saya".  
Khalid menjawab sembari memuji Umar: "Adalah Umar, beliau adalah orang yang selalu menginginkan wajah Allah Shubhanahu wa ta’alla pada setiap langkah dan keputusannya". Hal ini tidaklah mengherankan, mereka adalah para Sahabat Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam, sebuah sekolahan yang memberikan buah indahnya pada tiap keadaan dan zaman.
Di antara salah satu pendidikan dan pelajaran terbaik yang bisa kita ambil dari mereka adalah; apa yang telah di tulis oleh para sejarawan bahwa Sholahudin al-Ayubi –Siapa yang tidak kenal dirinya, beliau adalah orang yang banyak menaklukan negeri kafir-, dirinya tidak pernah meninggalkan di dalam simpanannya uang kecuali satu dinar dan tiga puluh enam dirham, dan tidak mempunyai harta selain itu, baik istana megah maupun rumah mewah.
Mereka adalah orang-orang yang menjadikan seluruh hidupnya berjalan di bawah timbangan syari'at, merealisasikan ketakwaan serta ketundukan penuh kepada Allah Azza wa jalla. Orang-orang yang selalu berhubungan bersama Allah Shubhanahu wa ta’alla Jalla wa 'ala serta merasa mulia dengan agamanya, mereka meraih kemenangan dengan sebab bertawakal kepada     -Nya. Di mana keadaan umat pada hari ini, yang ada hanyalah perselisihan, bermusuhan, karena kekuasaan dan ingin menjadi seorang pemimpin, sebagaimana tidak samar lagi bagi seorangpun.
Adalah Ubadah bin Shaamit radhiyallahu 'anhu pernah berdiri di tengah-tengah pasukan kaum muslimin tatkala tengah mengepung Qoisaariyah sembari memberi semangat serta nasehat kepada mereka sambil mengatakan: 
"Wahai umat Islam, sungguh diriku adalah orang yang paling berumur dan sudah banyak menghabiskan usia di antara kalian, dan Allah Shubhanahu wa ta’alla telah mentakdirkan diriku untuk masih hidup sampai saat ini, berperang bersama-sama kalian. 
Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan -Nya, tidak ada yang membawaku untuk berada diantara kalian untuk memerangi orang-orang kafir melainkan agar mereka mau memberikan kebebasan bagi kita (untuk menyebarkan agama Allah Shubhanahu wa ta’alla), dan Allah Shubhanahu wa ta’alla akan memberi kemenangan kita atas mereka. Apa yang membawa kalian untuk memerangi mereka, kenapa tidak menghabiskan mereka?". Kemudian beliau menjelaskan pada mereka yang menjadi kekhawatiranya atas mereka, beliau berkata: "Sungguh demi Allah, saya khawatir atas kalian dua perkara, kalian berkhianat dan kalian enggan untuk menasehati di dalam peperangan ini".
Maka pada akhirnya mereka pun mendapat pertolongan dan kemenangan atas orang-orang kafir dengan sebab kejujuran dan keikhlasan. Dengan penuh percaya diri dan kemauan yang keras, kecintaan yang murni untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul -Nya.
Pelajaran lain yang masih bisa kita petik; Bahwa kaum muslimin yang bertauhid tidak mempunyai istilah putus asa, tidak pula terjepit pada kalimat patah semangat sama sekali, selagi mereka mau berpegang teguh dengan Allah Shubhanahu wa ta’alla dan mau bertawakal kepada -Nya, yang mereka pahami bahwa yang namanya gelap malam pasti akan diiringi dengan cerahnya cahaya pagi, kesusahan akan di akhiri dengan kesenangan, kesulitan akan di gantikan dengan kemudahan. 
Walaupun keadaan mereka berada dalam kesulitan yang luar biasa dan kesulitan makanan yang mengitarinya, namun mereka dengan keimanannya tetap naik menanjak, dan dengan rasa tawakalnya yang tinggi, terhadap Rabbnya meraka bahagia.
Amr bin al-Ash pernah menulis surat dan mengirimnya kepada Umar yaitu tatkla beliau mampu menaklukan al-Quds, salah satu isinya, mengabarkan kepadanya tentang kemenangan yang di raih kaum muslimin dan meminta pendapatnya berkaitan keadaan para panglima Romawi yang cerdik dan bisa mengatasi musuh-musuhnya, dan mengabarkan bahwa mereka mempunyai pasukan yang sangat besar di Palestina dan Ilia.
Maka Umar pun membalas suratnya dan mengatakan dengan kata-kata emas yang menumbuhkan keimanan penuh dan percaya kepada Allah Azza wa jalla; "Sungguh mereka (panglima Romawi) telah memulai peperangan ini melawan para panglima Arab, maka lihatlah oleh kalian siapa yang akan mendapat pertolongan Allah Shubhanahu wa ta’alla". Dan peperangan tersebut adalah peperangan yang pada akhirnya Amr bin al-Ash mendapat pertolongan Allah Shubhanahu wa ta’alla dan mampu mengalahkan mereka, dan dengan kemenangan tersebut membuka jalan bagi kaum muslimin untuk menuju Palestina.
Dan perlu di ketahui oleh umat Islam semuanya kalau Masjidil Aqsho itu berada di bawah tangan parap penjajah dari kalangan kaum Salibis yang iri dengan kaum muslimin kurang lebih selama Sembilan puluh dua tahun lamanya sampai akhirnya dapat di taklukan kembali –segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla- melalui tangannya Sholahudin al-Ayubi sehingga dengan keutamaan –Nya, agama Allah Shubhanahu wa ta’alla bisa tegak kembali, bertawakal kepada -Nya dan merealisasikam ajaran tauhid yang murni. 
Manusia pun bergembira mendengar berita di taklukannya Baitul maqdis yang membahagiakan tersebut, dengan sebab apa yang mereka lihat dari adanya perubahan pada umat Islam, dan kembalinya mereka pada rasa percaya kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, -sampai berkata Ibnu za-Zakki, beliau adalah seorang ulama- dia mengatakan: "Kemenanganmu atas kota al-Halab –dia mengatakan kepada Sholahudin- dengan pedang pada bulan Shofar memberi tanda akan datangnya kabar gembira segera di taklukannya al-Quds di bulan Rajab yang akan datang".
Dirinya merasa begitu percaya akan kekuasaan Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan harapannya, maka dia mampu menguasai al-Quds pada bulan Rajab tahun 583 H.
Kaum muslimin, Bertakwalah kalian kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan tempuhlah jalan yang lurus dan mendapat petunjuk ini sehingga kalian akan meraih kebahagian di dunia dan akhirat kelak.
Khutbah kedua
Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla atas segala kemurahan -Nya, rasa syukur kita haturkan atas taufik dan nikmat-nikmat -Nya yang sangat banyak sekali. 
Saya bersaksi bahwasannya tidak ada ilah yang berhak di sembah melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata tidak ada sekutu bagi -Nya, dan saya juga bersaksi bahwasannya Sayyidina dan Nabi kita Muhammad  Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan Rasul -Nya, sholawat serta salam dan keberkahan atasnya kita pintakan kepada -Nya, kepada keluarga dan para sahabatnya. Amma Ba'du:
Kaum muslimin yang dirahmati Allah Ta'ala.
Saya wasiatkan kepada diri saya pribadi dan kepada kalian semua agar selalu bertakwa kepada Allah Azza wa jalla.  Karena takwa merupakan wasiat Allah Shubhanahu wa ta’alla bagi kaum terdahulu dan sekarang.  
Kaum muslimin…
Sesungguhnya bahaya yang sedang mengancam umat Islam pada hari ini adalah perselisihan di dalam tubuh umat serta terpecah belahnya barisan kaum muslimin. Sedangkan nash-nash dari al-Qur'an dan Sunah secara mutawatir, datang menunjukan wajibnya untuk bersatu di atas panji tauhid dan ketakwaan, serta haramnya berpecah belah dan saling berselisih. 
Ambillah pelajaran dari keadaan generasi pertama yang ada pada umat Islam ini, di mana ketika mereka di hadapkan pada ujian dan kesulitan maka mereka sangat bersemangat sekali untuk selalu bersatu dan berpegang serta merapat kebarisan kaum muslimin.
Lihatlah salah seorang ulama muhaqiq lagi fakih ini, beliau bernama Ali bin Thahir as-Sulami ad-Dimasqy Asy-Syami, beliau pernah menulis sebuah risalah yang di tujukan kepada umat –setelah jatuhnya Baitul Maqdis ketangan pasukan salib pada tahun 429 H- yang tertera di dalam kitabnya 'Al-Jihaad', ringkas isi risalah ini yaitu: 
"Apabila para pemimpin kaum muslimin enggan untuk menggiring rasa saling mendendamnya –seakan-akan perkataanya ini, ditujukan kepada para pemimpin zaman kita sekarang-, maka sesungguhnya mereka  masih di atas watak jahiliyah yang tidak mencontoh kepada generasi pertama; tatkala di dalam kesulitan maka rasa saling mendendam itu hendaknya di hilangkan". 
Maha Benar Allah Azza wa jalla tatkala berfirman:"Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."  (QS al-Anfaal: 46).
Kemudian, ketahuilah bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta’alla Jalla wa 'ala telah menyuruh kepada kita suatu perkara yang sangat agung, yaitu; Bershalawat serta memberi salam kepada Nabi -Nya yang mulia. 
Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam serta berkatilah Nabi dan Rasul kita Muhammad  Shalallahu ‘alaihi wa sallam, Ya Allah, berilah keridhoan -Mu pada Khulafaur Rasyidin serta para Imam yang mendapat petunjuk, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta para Sahabat semuanya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat kelak, jadikanlah kami bersama golongan mereka, dengan kemurahan rahmat dan kasih sayang -Mu, yang Maha Penyayang.
Ya Allah, berilah kemulian dan kejayaan kepada kaum muslimin dan agama Islam, Ya Allah, kami serahkan kepada -Mu para musuh-musuh kaum muslimin, Ya Allah, jangan jadikan mereka sebagai pemimpin, dan jadikanlah generasi yang berikutnya mau mengambil pelajarannya.
Ya Allah, berilah taufik kepada kaum muslimin yang membawa kebaikan pada urusan agama dan dunia mereka, Ya Allah, berilah mereka taufik semuanya, yang membawa kebaikan pada agama dan dunianya. 
Ya Allah, limpahkanlah taufik -Mu atas mereka agar mau bertauhid secara murni, dan mengikuti sunnah, wahai Dzat yang mempunyai Kemuliaan dan Ketinggian. 
Ya Allah, berilah taufik kepada Pelayan dua tanah suci pada setiap perkara yang Engkau ridhoi dan cintai, 
Ya Allah, jadikanlah orang yang memimpin kaum muslimin, orang terbaik di antara mereka, wahai Dzat yang mempunyai Kemuliaan dan Ketinggian.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.
Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.
Ya Allah, Engkau adalah ilah yang tidak ada ilah yang berhak di sembah selain Engkau, Engkau Maha Kaya sedangkan kami adalah orang miskin, ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, turunkanlah hujan kepada kami, turunkanlah hujan kepada kami. 
Ya Allah, berilah hamba -Mu air, wahai Dzat yang mempunyai Kemuliaan dan Ketinggian. 
Ya Allah, Yang Maha Kaya lagi Terpuji berilah kami hujan, ya Allah yang maha kaya lagi terpuji berilah kami hujan, ya Allah, yang maha kaya lagi terpuji berilah kami hujan, tidak ada kekayaan bagi kami melainkan atas kemurahan -Mu, wahai Dzat yang mempunyai kemuliaan dan ketinggian, yang maha pengasih.
Kaum Muslimin hamba-hamba Allah Shubhanahu wa ta’alla….
Banyaklah berdzikir kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan khusyu.

Hukum Menggunakan Kata "Seandainya.."

6 Desember 2012





Tentang seorang yang mengatakan: Seandainya dahulu Anda dahulu melakukan begini, tentu tidak akan terjadi demikian." 
Orang lain yang mendengarnya berujar: "Kata-kata semacam itu sudah dilarang oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Itu kata-kata yang dapat mengiring orang yang mengucapkannya kepada kekufuran." 
Lalu ada lagi yang bilang: "Tetapi dalam kisah tentang Musa dan Khidir, Nabi pernah bersabda: "Semoga Allah memberi rahmat kepada Musa. Kalaulah beliau mau bersabar, tentu Allah akan menceritakan kepada kita lanjutan kisah mereka.." 
Orang yang lain lagi berdalil dengan sabda Rasulullah: "Mukmin yang kuat itu lebih baik dari mukmin yang lemah," hingga ucapan: "…karena kata "seandainya" itu membuka amalan syetan." Apakah hukum dalam hadits ini menghapus hukum dalam kisah Musa di atas atau tidak?
Semua yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya itu benar. Kata 'seandainya' itu Apabila digunakan sebagai ungkapan kesedihan menyesali yang telah lampau dan kecewa terhadap takdir, itulah yang dilarang, sebagaimana dalam firman Allah:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang:"Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh". Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam di hati mereka.." (Ali Imraan : 156)
Itulah yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau bersabda:
"Kalau engkau tertimpa musibah, janganlah engkau mengatakan: "Kalau tadi aku lakukan begini, tentu jadinya akan begini dan begini..". Tapi katakanlah: "Sudah takdir Allah, Allah melakukan apa saja yang Dia kehendaki. 
Karena kata "seandainya," itu membuka pintu amalan syetan (yakni akan membuka pintu kesedihan dan kekecewaan. Yang demikian itu hanya berbahaya dan tidak bermanfaat. Tapi ketahuilah, bahwa apa saja yang menimpamu tidak akan pernah meleset. Dan segala yang meleset tidak akan pernah menimpamu. 
Allah berfirman:
"Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.." (At-Taghaabun : 11)
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam ayat itu adalah seseorang yang tertimpa satu musibah lalu ia menyadari bahwa musibah itu berasal dari Allah, sehingga ridha dan berserahdiri.
Yang kedua, penggunaan kata "seandainya," untuk menjelaskan satu pengetahuan yang bermanfaat. Seperti firman Allah:
"Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain Allah, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa.." (Al-Anbiya : 22)
Atau untuk menunjukkan kecintaan terhadap perbuatan baik dan keinginan melakukannya. Seperti ucapan:"Kalau saja aku memiliki apa yang dimiliki oleh Fulan, tentu aku akan melakukan apa yang dia lakukan.." dan sejenisnya. Ungkapan semacam itu boleh-boleh saja. Adapun sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Kalaulah beliau mau bersabar, tentu Allah akan menceritakan kepada kita lanjutan kisah mereka.." Itu termasuk jenis yang kedua. Seperti juga firman Allah:
"Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu.." (Al-Qalam : 3)
Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam akan senang dapat mencerikan kisah kedua Nabi itu. Maka beliau mengutarakan dengan kata-kata itu untuk menjelaskan kesenangan beliau bila kesabaran yang seandainya dilakukan Musa kala itu. Beliau memberitahukan manfaat yang ada dalam kesabaran itu. Tak ada unsur kekecewaan dan kesedihan dalam unggkapan beliau, juga tidak meninggalkan kewajiban bersabar terhadap takdir..Wallahu A'lam.
Majmu' Al-Fatawa Ibnu Taimiyyah IX : 1033

revival of Islamic faith foundation

Sejarah

 

© Copyright revival of Islamic faith foundation 2012 | Design by Atmadeeva Keiza | Published by Borneo Templates | Modified by Blogger Tutorials.