Revival Of Islamic Faith Foundation
News Update :

Kajian

Bantahan

Fiqih

Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Inilah 7 Ciptaan Allah yang Tidak Akan Hancur saat Kiamat Tiba

4 November 2016




Ketika kiamat terjadi, kita mengetahui bahwasanya semuanya akan binasa dan mengalami kehancuran. Tak aka nada satu makhluk pun yang mampu bertahan hidup. Alam semesta juga ikut hancur. Bahkan, malaikat Israfil, malaikat peniup sangkakala juga mengalami kematian.

Meski kita tahu bahwa semuanya akan hancur, ternyata ada pula hal-hal yang tidak akan hancur. Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki sesuatu yang tidak akan binasa meski kedahsyatan suatu kebinasaan terjadi. Lantas, apa saja yang tidak akan hancur di hari kiamat?

1. Surga dan Neraka
Jika sangkakala ditiupkan, ternyata ada yang tidak hancur, yakni Surga dan Neraka. Dalam hal ini Allah telah menyatakan kekekalan surga dan neraka dalam banyak ayat. Salah satunya dalam QS. Huud, 106-108, “Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih), mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.”

Maksud dari ayat tersebut ialah tersirat bahwa surga dan neraka itu adalah kekal, tidak akan binasa serta tidak akan ditetapkan kematian kepada keduanya

2. ‘Arsy atau Singgasana Allah
Selanjutnya yang tidak akan hancur adalah Arsy Allah SWT. Dimana Arsy ini adalah singgasana Allah. Hal ini diungkapkan dalam firman-Nya, “Dan mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah memberikan tempat ini (surga) kepada kami sedang kami (diperkenankan) menempati surga di mana saja yang kami kehendaki. Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.’ Dan engkau (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat melingkar di sekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; lalu diberikan keputusan di antara mereka (hamba-hamba Allah) secara adil dan dikatakan, ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam’,” (QS. Az-Zumar, 74-75).

3. Kursi Milik Allah
Selain singgasana Allah, ada pula kursi milik Allah. Seperti apa kursi Allah? Rasulullah ๏ทบ bersabda, “Tidaklah langit yang tujuh dibanding kursi kecuali laksana lingkaran anting yang diletakkan di tanah lapang,” (HR. Ibnu Hiban, No.361, Shahih). Sesungguhnya kursi Allah tidak akan hancur sebagaimana halnya ‘Arsy berdasarkan ulama.

4. Lauh Mahfuzh
Jika singgasana Allah yaitu Arsy tidak akan hancur, maka sama halnya dengan Lauh Mahfuzh. Dimana ini adalah kitab tempat Allah untuk menuliskan segala catatan alam semesta. Adapun nama lain Lauh Mahfuzh dalam Al-Qur’an yaitu Ummu Al-Kitab, sebagaimana yang telah dikatakan Allah, “Tiada sesuatu pun yang ada di langit dan di bumi, melainkan terdapat dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh),” (QS. An-Naml: 75). Maka dari itu Lauh Mahfuzh pun tidak akan hancur berdasarkan Ij’ma ulama

5. Qalam atau Pena
Qalam atau pena ternyata juga termasuk ciptaan Allah yang tidak akan hancur ketika sangkakala ditiupkan. Menurut beberapa ulama, Qalam atau pena merupakan makhluk yang pertama diciptakan oleh Allah. sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya makhluk yang pertama kali Allah ciptakan adalah Al-Qalam, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Tulislah!’ Kemudian Al-Qalam berkata, ‘Wahai Rabb ku, apa yang akan aku tulis?’ Kemudian Allah berfirman, ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai datang hari kiamat’,” (HR. Abu Dawud, shahih).

6. Tulang Ekor
Selain itu, meskipun tiupan sangkakala itu dapat menghancurkan manusia, tapi ternyata sangkakala tidak bisa menghancurkan tulang ekor manusia. Rasulullah SAW rsabda, “Tiada bagian dari tubuh manusia kecuali akan hancur (dimakan tanah), kecuali satu tulang yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit kembali pada hari kiamat,” (HR. Bukhari, No.4953).

7. Ruh
Dan yang terakhir adalah ruh. Ruh ini tidak akan hancur atau binasa saat sangkakala ditiupkan. Karena makhluk yang binasa di saat itu akan dicabut ruhnya dan meninggal dan kemudian ruh ini dikembalikan ke jasadnya di saat hari kebangkitan. Hal ini disepakati ulama bahwa ruh tidak akan hancur. Wallahu ‘alam.

------------------------

Sumber: Infoyunik.com

Sebaik Baik Manusia Adalah Yang Paling Bermanfaat Bagi Orang Lain

28 Februari 2016



Sahabat dunia islam, salam sejahtera untuk kita semua semoga Allah SWT memberikan selalu keberkahan untuk kita semua. Sebagai manusia yang hidup dalam bermasyarakat tentu kita selalu bersinggungan dengan orang lain. Menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain merupakan perkara yang sangat dianjurkan oleh agama. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
ุฎَูŠْุฑُ ุงู„ู†ุงุณِ ุฃَู†ْูَุนُู‡ُู…ْ ู„ِู„ู†ุงุณِ
Sebaik Baik Manusia Adalah Yang Paling Bermanfaat Bagi Orang Lain”
Hadist di atas menunjukan bahwa Rasullullah menganjurkan umat islam selalau berbuat baik terhadap orang lain dan mahluk yang lain. Hal ini menjadi indikator bagaimana menjadi mukmin yang sebenarnya. Eksistensi manusia sebenarnya ditentukan oleh kemanfataannya pada yang lain. Adakah dia berguna bagi orang lain, atau malah sebaliknya menjadi parasit buat yang lainnya.
Setiap perbuatan maka akan kembali kepada orang yang berbuat. Seperti kita Memberikan manfaat kepada orang lain, maka manfaatnya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri dan juga sebaliknya. Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman:
ุฅِู†ْ ุฃَุญْุณَู†ْุชُู…ْ ุฃَุญْุณَู†ْุชُู…ْ ู„ِุฃَู†ْูُุณِูƒُู…ْ
Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7)
Tentu saja manfaat dalam hadits ini sangat luas. Manfaat yang dimaksud bukan sekedar manfaat materi, yang biasanya diwujudkan dalam bentuk pemberian harta atau kekayaan dengan jumlah tertentu kepada orang lain. Manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain bisa berupa :

 
Pertama Ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum/dunia;
Manusia bisa memberikan kemanfaatan kepada orang lain dengan ilmu yang dimilikinya. Baik itu ilmu agama maupun ilmu umum. Bahkan, seseorang yang memiliki ilmu agama kemudian diajarkannya kepada orang lain dan membawa kemanfaatan bagi orang tersebut dengan datangnya hidayah kepada-Nya, maka ini adalah keberuntungan yang sangat besar, lebih besar dari unta merah yang menjadi simbol kekayaan orang Arab.
Ilmu umum yang diajarkan kepada orang lain juga merupakan bentuk kemanfaatan tersendiri. Terlebih jika dengan ilmu itu orang lain mendapatkan life skill (keterampilan hidup), lalu dengan life skill itu ia mendapatkan nafkah untuk sarana ibadah dan menafkahi keluarganya, lalu nafkah itu juga anaknya bisa sekolah, dari sekolahnya si anak bisa bekerja, menghidupi keluarganya, dan seterusnya, maka ilmu itu menjadi pahala jariyah baginya.

“Jika seseorang meninggal maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal; shadaqah jariyah, ilmu
yang manfaat, dan anak shalih yang mendoakan orang tuanya” (HR. Muslim)

Kedua Materi (Harta/Kekayaan)
Manusia juga bisa memberikan manfaat kepada sesamanya dengan harta/kekayaan yang ia punya. Bentuknya bisa bermacam-macam. Secara umum mengeluarkan harta di jalan Allah itu disebut infaq. Infaq yang wajib adalah zakat. Dan yang sunnah biasa disebut shodaqah. Memberikan kemanfaatan harta juga bisa dengan pemberian hadiah kepada orang lain. Tentu, yang nilai kemanfaatannya lebih besar adalah yang pemberian kepada orang yang paling membutuhkan.
Ketiga Tenaga/Keahlian
Bentuk kemanfaatan berikutnya adalah tenaga. Manusia bisa memberikan kemanfaatan kepada orang lain dengan tenaga yang ia miliki. Misalnya jika ada perbaikan jalan kampung, kita bias memberikan kemanfaatan dengan ikut bergotong royong. Ketika ada pembangunan masjid kita bisa membantu dengan tenaga kita juga. Saat ada tetangga yang kesulitan dengan masalah kelistrikan sementara kita memiliki keahlian dalam hal itu, kita juga bisa membantunya dan memberikan kemanfaatan dengan keahlian kita.

Keempat, Sikap yang baik
Sikap yang baik kepada sesama juga termasuk kemanfaatan. Baik kemanfaatan itu terasa langsung ataupun tidak langsung. Maka Rasulullah SAW memasukkan senyum kepada orang lain sebagai shadaqah karena mengandung unsur kemanfaatan. Dengan senyum dan sikap baik kita, kita telah mendukung terciptanya lingkungan yang baik dan kondusif.
Semakin banyak seseorang memberikan kelima hal di atas kepada orang lain -tentunya orang yang tepat- maka semakin tinggi tingkat kemanfaatannya bagi orang lain. Semakin tinggi kemanfaatan seseorang kepada orang lain, maka ia semakin tinggi posisinya sebagai manusia menuju “manusia terbaik”.
mari kita belajar dari penggalan kisah diceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahman Asy-Syafii, berkata kepada kami Al-Qasim bin Hasyim As-Samsar, ia berkata : telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Qais Adl-Dlibbi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Sukain bin Siraj, berkata kepada kami Amr bin Dinar, dari Ibnu Umar bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW, maka ia bertanya: “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling dicintai Allah? Dan apakah amal yang paling dicintai Allah azza wa jalla?” Rasulullah SAW bersabda : “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain…” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir li Ath-Thabrani juz 11 hlm.84). Wallahu a’lam*
Semoga bermanfaat

Mengendalikan Nafsu Dengan Bijak Menilai Diri Sendiri


Sahabat dunia islam, Selain akal, manusia juga dibekali hawa nafsu. Nafsu ibarat mesin yang selalu mendorong manusia untuk melakukan sesuatu, sementara akal ialah tali kekang untuk mengontrol dan mengendalikan keinginan tersebut. Kedua hal ini mesti dijaga keseimbangannya. Memenangkan salah satu keduanya akan berdampak buruk bagi kehidupan manusia. Manusia akan menjadi benda mati bila tidak memiliki nafsu dan sebaliknya, dia dapat berubah menjadi mesin penghancur jika akal sudah hilang di dalam dirinya.

Mengendalikan Nafsu tentu bukan pekerjaan ringan. Ia lebih sulit dibandingkan mengendalikan kuda liar. Bahkan menaklukan musuh di medan perang jauh lebih ringan ketimbang menaklukan nafsu yang ada di dalam diri kita sendiri. Saking sulitnya mengendalikannya, seorang penyair menendangkan:

“Hatiku selalu mendorongku terhadap sesuatu yang merusakku
Bahkan ia sering kali membuatku sakit
Bagaimana aku bisa membentengi diriku dari musuhku
Sementara musuhku bersembunyi di balik tulang rusukku”
Untuk menuju proses keseimbangan tersebut, perlu dilakukan penilaian, evaluasi, dan koreksi atas diri sendiri. Dalam perjalanan kehidupan ini, kira-kira apakah kita pernah salah melangkah, berbuat salah, sudah baikkah tingkah laku kita kepada orang lain? Pertanyaan kritis seperti ini perlu ditujukan sesekali untuk diri guna menimbulkan perbuatan positif pada tahap berikutnya.

Implementasi Bijak Menilai Diri Sendiri Dalam proses introspeksi diri, seseorang juga mesti adil terhadap dirinya. Hal ini sama ketika mengintrospeksi dan mengadili orang lain. Mesti adil dan tidak boleh berat sebelah.
Seseorang insan juga tidak boleh berlebih-lebihan dalam memuja kebaikan yang pernah dilakukannya dan dia juga tidak boleh menganggap dirinya makhluk paling hina, buruk, dan jelek karena pernah melakukan kesalahan. Seberat apapun kesalahan yang dilakukan, arif lah ketika menilai. Sebagaimana yang dijelaskan al-Mawardi dalam Adabud Dunia wad Din:

“Prasangka baik terhadap diri sendiri secara berlebihan akan membuat keburukan ‘di pelupuk mata tidak terlihat’, sedangkan terlalu berlebihan berprasangka buruk akan membuat kebaikan diri sendiri ‘di pelupuk mata tidak terlihat’. Cara seperti ini tidak akan menghilangkan keburukan dan tidak mengarahkan kita pada kebaikan. Al-Jahizh mengatakan di dalam al-Bayan, ‘Kita perlu adil dan bijak dalam menilai diri.’”
Setiap manusia tentu tidak ada yang sempurna dan tidak ada pula manusia yang sepanjang detik, menit, dan hari mengerjakan maksiat terus-menerus. Sudah dimaklumi bahwa perjalanan kehidupan manusia selalu diwarnai dengan sifat baik dan buruk. Sebab itu, jangan berlebihan menilai diri. Apapun hasil evaluasi tersebut, harus diterima dengan lapang dada supaya menimbulkan perubahan yang positif. Wallahu a‘lam.


--------------------
Sumber : NU.or.id

Mukjizat Al Quran dan Keajaiban Proses Terciptanya Awan

24 Mei 2013





Awan yang terdapat di langit, pada mulanya terbentuk dari air yang berada di permukaan bumi yang mengalami penguapan. Setelah terbentuk, awan ini digiring oleh angin dari tempat penguapannya ke tempat pengendapannya atau ketempat di mana ia akan dicurahkan sebagai hujan.
 
Kecepatan angin yang menggiring awan lebih cepat dari awan itu sendiri. Angin ini berfungsi untuk mengumpulkan gumpalan-gumpalan awan yang satu dengan yang lainnya sehingga terhimpun di satu wilayah tertentu di kawasan atmosfir bumi. Di mana di tempat ini terdapat arus udara yang menekannya dari arah bawah gumpalan awan tersebut, dan terdapat butiran-butiran es dari arah atas dan bulir-bulir air dari bawahnya.
 
Awan yang telah terhimpun di suatu tempat, tidak hanya terhimpun karena proses pertemuan antara beberapa gumpalan awan yang dibawa oleh angin. Namun hal itu juga disebabkan arus dan aliran listrik yang terdapat pada awan-awan tersebut, baik arus positif maupun arus negatif, di mana pertemuan kedua arus, mengakibatkan percikan listrik yang berpengaruh pada awan.
 
Proses terhimpunnya awan ini terbentuk dalam pola yang menumpuk, di mana awan yang telah terkumpul, masih terus ditambahi oleh awan yang berikutnya. Dan berdasarkan penelitian para ilmuwan, penumpukan awan ini berbentuk seperti gunung, di mana pada bagian bawah lebih luas daerahnya dan bagian atas lebih menyempit.
 
Pergesekan yang terjadi antara himpunan awan yang berbeda-beda dengan kilat sebagai percikan listrik mengakibatkan terjadinya suara halilintar yang menggelegar dan mengguncangkan siapa saja yang dekat dengan tempat kejadiannya, sebagai akibat dari gelombang suara yang memiliki tingkat frekwensi yang sangat tinggi. Suara halilintar ini sering terjadi, sambil mengiringi jatuhnya air hujan ke bumi.


 
Demikianlah proses terjadinya awan, halilintar dan hujan. Hakikat ilmiah ini, tidak diketahui secara pasti dan detail, kecuali setelah kemajuan pesat dalam bidang penelitian luar angkasa dan ilmu meteorologi. 
 
Padahal Al-Qur'an sendiri, sejak 14 abad yang lalu, telah memberikan petunjuknya berkaitan dengan fenomena alam ini, dalam surah An-Nur ayat 43. Allah SWT berfirman:
"Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan."
 
Dari ayat di atas, kita mendapatkan Al-Qur'an telah menjelaskan proses terciptanya awan dan proses pengumpulan awan-awan yang kecil sehingga menjadi gumpalan awan yang besar. Sebagaimana, ia juga menjelaskan tentang akibat dari himpunan gumpalan awan tersebut, yaitu terjadinya kilat dan halilintar dan bentuk dari gumpalan awan tersebut, yang berbentuk seperti gunung.

Sebagaimana firman Allah SWT: "dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung"(rol/DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal/Ensiklopedi Petunjuk Sains dalam Al-Qur'an dan Sunna

Makan dan Minum Sambil Berdiri, Alasan Ilmiah dan Hadits Nabi

8 April 2013



Orang tua sering melarang kita makan dan minum sambil berdiri. Mungkin kedengarannya seperti nasihat biasa saja, tapi ternyata hal itu ada benarnya dan dapat dibuktikan dari segi agama maupun kesehatan. Mau tahu?
Anda merasa sudah melakukan diet dengan benar tapi berat badan belum berkurang juga? Mungkin ada yang salah dengan cara makan Anda. Kebiasaan makan sambil berdiri bisa jadi salah satu penyebab mengapa Anda tidak kurus-kurus.

Di zaman yang serba cepat ini, makan bukanlah kegiatan yang spesial lagi. Dulu, orang-orang selalu makan dalam keadaan duduk untuk menghargai berkah yang diberikan sang pencipta. Namun kini, makan sambil berdiri bahkan berjalan sudah jadi hal yang lumrah.

Secara ilmiah, makan sambil duduk dan tetap pada satu tempat membuat otak tidak akan memikirkan makanan lain selain yang ada di hadapannya saat itu. Hal itu karena tubuh akan memberikan sinyal pada otak untuk tidak perlu mencicipi makanan lainnya dan fokus pada satu makanan ketika sedang duduk, dan hal itu membuat Anda lebih sedikit memasukkan kalori dalam tubuh.
Mengapa Rasulullah melarang ummatnya minum berdiri. Dalam hadist disebutkan “janganlah kamu minum sambil berdiri”
Ini dibuktikan dari segi kesehatan. Air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh sfringer. Sfringer adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal.

Nah, jika kita minum berdiri, air yang kita minum tanpa disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih. Ketika langsung menuju kandung kemih, maka terjadi pengendapan di saluran ureter. Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter. Inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang berbahaya. Susah kencing itu penyebabnya.

Dari Anas r.a. dari Nabi saw.: “Bahwa ia melarang seseorang untuk minum sambil berdiri. Qatadah berkata, “Kemudian kami bertanya kepada Anas tentang makan. Ia menjawab bahwa itu lebih buruk.”
Pada saat duduk, apa yang diminum atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lembut. Adapun minum sambil berdiri, maka ia akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus, menabraknya dengan keras, jika hal ini terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan melar dan jatuhnya usus, yang kemudian menyebabkan disfungsi pencernaan.
Adapun rasulullah saw pernah sekali minum sambil berdiri, maka itu dikarenakan ada sesuatu yang menghalangi beliau untuk duduk, seperti penuh sesaknya manusia pada tempat-tempat suci, bukan merupakan kebiasaan. Ingat hanya sekali karena darurat!





Manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ keseimbangan dalam pusat saraf sedang bekerja keras, supaya mampu mempertahankan semua otot pada tubuhnya, sehingga bisa berdiri stabil dan dengan sempurna. Ini merupakan kerja yang sangat teliti yang melibatkan semua susunan syaraf dan otot secara bersamaan, yang menjadikan manusia tidak bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat terpenting pada saat makan dan minum.

Ketenangan ini bisa dihasilkan pada saat duduk, di mana syaraf berada dalam keadaan tenang dan tidak tegang, sehingga sistem pencernaan dalam keadaan siap untuk menerima makanan dan minum dengan cara cepat. Makanan dan minuman yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus.

Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf (vagal inhibition) yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak. Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus-menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung.

Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa berbenturan dengan makanan atau minuman yang masuk. Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokkan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan minum. Dari segi kesehatan air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh sfringter. Sfringter adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada pos-pos penyaringan yang berada di ginjal.

KEUTAMAAN BERWUDHU

21 Maret 2013




Bismillah ..

Wudhu’ adalah sebuah syari’at kesucian yang Allah -Azza wa Jalla- tetapkan kepada kaum muslimin sebagai pendahuluan bagi sholat dan ibadah lainnya. Di dalamnya terkandung sebuah hikmah yang mengisyaratkan kepada kita bahwa hendaknya seorang muslim memulai ibadah dan kehidupannya dengan kesucian lahir dan batin. Sebab asal kata ini sendiri berasal dari kata yang mengandung makna kebersihan dan keindahan sebagaimana yang dijelaskan para ahli bahasa Arab. [Lihat An-Nihayah (5/428), dan Ash-Shihhah(2/282)]

Syari’at Kesucian ini mengumpulkan banyak hikmah, faedah, dan fadhilah (keutamaan) yang menjelaskan urgensi dan kedudukannya di sisi Allah -Azza wa Jalla-. Sebab suatu amalan jika memiliki banyak faedah dan fadhilah, maka tentunya karena memiliki makanah aliyah (kedudukan tinggi).

Wudhu’ disyari’atkan bukan hanya ketika kita hendak beribadah, bahkan juga disyari’atkan dalam seluruh kondisi. Oleh karena itu, seorang muslim dianjurkan agar selalu berada dalam kondisi bersuci (wudhu’) sebagaimana yang dahulu yang dilazimi oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya yang mulia. Mereka senantiasa berwudhu, baik dalam kondisi senang atau dalam kondisi susah dan kurang menyenangkan (seperti, saat musim hujan dan musim dingin). Kebiasaan berwudhu’ ini butuh kepada kesabaran tinggi, sebab kita terkadang terserang perasaan malas. Perasaan malas ini akan hilang –Insya Allah- saat kita mengetahui keutamaan wudhu’.

Selain itu wudhu  adalah amalan ringan, tapi pengaruhnya ajaib dan luar biasa. Selain menghapuskan dosa kecil, wudhu’ juga mengangkat derajat dan kedudukan seseorang dalam surga. Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

"Maukah kalian aku tunjukkan tentang sesuatu (amalan) yang dengannya Allah menghapuskan dosa-dosa, dan mengangkat derajat-derajat?" Mereka berkata, "Mau, wahai Rasulullah!!" Beliau bersabda, "(Amalan itu) adalah menyempurnakan wudhu’ di waktu yang tak menyenangkan, banyaknya langkah menuju masjid, dan menunggu sholat setelah menunaikan sholat. Itulah pos penjagaan". [HR. Muslim (586)]

Abul Hasan As-Sindiy -rahimahullah- berkata saat menjelaskan amalan-amalan yang terdapat dalam hadits ini, "Amalan-amalan ini akan menutup pintu-pintu setan dari dirinya, menahan jiwanya dari nafsu syahwatnya, permusuhan jiwa, dan setan sebagaimana hal ini tak lagi samar. Inilah jihad akbar (besar) yang terdapat pada dirinya. Jadi, setan adalah musuh yang paling berat baginya". [Lihat Hasyiyah As-Sindiy ala Sunan An-Nasa'iy (1/114)]

Jadi, seorang yang melazimi amalan-amalan tersebut dianggap telah melakukan pertahanan untuk menutup pintu-pintu setan. Barangsiapa yang ingin dijauhkan dari setan, maka hendaknya ia melazimi wudhu’, menghadiri sholat jama’ah, dan bersabar menunggu sholat jama’ah lainnya.

     Tanda Pengikut Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- telah mengabarkan kepada kita bahwa beliau akan mengenali ummatnya di Padang Mahsyar dengan adanya cahaya pada anggota tubuh mereka, karena pengaruh wudhu’ mereka ketika di dunia.

"Perhiasan (cahaya) seorang mukmin akan mencapai tempat yang dicapai oleh wudhu’nya". [Muslim dalam Ath-Thoharoh, bab: Tablugh Al-Hilyah haits Yablugh Al-Wudhu' (585)]

Seorang muslim akan dikenali oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dengan cahaya pada wajah dan tangannya. Maka hendaknya setiap orang diantara kita menjaga cahaya ini dengan menjaga wudhu, dan sholat. Abdur Ra’uf Al-Munawiy -rahimahullah- berkata, "Barangsiapa yang lebih banyak sujudnya atau wudhu’nya di dunia, maka wajahnya nanti akan lebih bercahaya dan lebih berseri dibandingkan selain dirinya. Maka mereka (kaum mukminin) nanti disana akan bertingkat-tingkat sesuai besarnya cahaya". [Lihat Faidhul Qodir (2/232)]

     Separuh Iman

Seorang tak akan meraih pahala sholat, selain ia melakukan wudhu’, lalu mengerjakan sholat. Jadi, wudhu’ ibaratnya separuh dari iman (yakni, sholat). Ini menunjukkan kepada kita tentang ketinggian nilai dan manzilah wudhu’ di sisi Allah -Azza wa Jalla-. Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

"Bersuci (wudhu’) adalah separuh iman. Alhamdulillah akan memenuhi mizan (timbangan). Subhanallah wal hamdulillah akan memenuhi antara langit dan bumi. Sholat adalah cahaya. Shodaqoh adalah tanda. Kesabaran adalah sinar. Al-Qur’an adalah hujjah (pembela) bagimu atau hujatan atasmu. Setiap orang keluar di waktu pagi; maka ada yang menjual dirinya, lalu membebaskannya atau membinasakannya". [Muslim dalam Ath-Thoharoh, bab: Fadhl Ath-Thoharoh (533)]

Al-Hafizh Ibnu Rojab -rahimahullah- berkata, "Jika wudhu’ bersama dua kalimat syahadat mengharuskan terbukanya pintu surga, maka wudhu menjadi separuh iman kepada Allah dan Rasul-Nya menurut tinjauan ini. Juga wudhu’ termasuk cabang-cabang keimanan yang tersembunyi yang tak akan dilazimi, kecuali seorang mukmin". [Lihat Iqozhul Himam (hal. 329)]

    Jalan Menuju Surga

Jalan-jalan surga telah dimudahkan oleh Allah -Azza wa Jalla- bagi orang yang Allah berikan taufiq dan hidayah. Perhatikan Bilal bin Robah -radhiyallahu anhu-, beliau mendapatkan kabar gembira bahwa ia termasuk penduduk surga, sebab ia telah berusaha menapaki sebuah jalan diantara jalan-jalan surga. Dengarkan kisahnya dari Abu Hurairah -radhiyallahu anhu-, ia berkata,
 "Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda kepada Bilal ketika sholat Fajar, "Wahai Bilal, ceritakan kepadaku tentang amalan yang paling engkau harapkan yang pernah engkau amalkan dalam Islam, karena sungguh aku telah mendengarkan detak kedua sandalmu di depanku dalam surga". Bila berkata, "Aku tidaklah mengamalkan amalan yang paling aku harapkan di sisiku. Cuma saya tidaklah bersuci di waktu malam atau siang, kecuali aku sholat bersama wudhu’ itu sebagaimana yang telah ditetapkan bagiku". [HR. Al-Bukhoriy dalam Al-Jum'ah, Bab: Fadhl Ath-Thoharoh fil Lail wan Nahar (1149), dan Muslim (6274)]

Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwa berwudhu’ lalu sholat sunnah setelahnya merupakan amalan yang berpahala besar. Ibnul Jauziy -rahimahullah- berkata, "Di dalam hadits ini terdapat anjuran untuk melakukan sholat usai berwudhu’ agar wudhu tidak kosong (terlepas) dari maksudnya". [Lihat Fathul Bari (4/45)]

     Pelepas Ikatan Setan

Setan senantiasa mengintai dan mengawasi kita. Bahkan ia selalu mencari jalan untuk menjauhkan kita dari kebaikan yang telah digariskan oleh Allah dan rasul-Nya. Diantara makar setan, ia membuat buhul pada seorang diantara kita saat kita tidur agar kita berat bangun beribadah. Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

"Setan membuat tiga ikatan pada tengkuk seorang diantara kalian jika ia tidur. Setan akan memukul setiap ikatan itu (seraya membisikkan), "Bagimu malam yang panjang, maka tidurlah". Jika ia bangun seraya menyebut Allah (berdzikir), maka terlepaslah sebuah ikatan. Jika ia berwudhu’, maka sebuah ikatan yang lain terlepas. Jika ia sholat, maka sebuah ikatan akan terlepas lagi. Lantaran itu, ia akan menjadi bersemangat lagi baik jiwanya. Jika tidak demikian, maka ia akan jelek jiwanya lagi malas". [HR. Al-Bukhoriy (1142 & 3269) dan Muslim (1816)]

Al-Qodhi Abul Walid Sulaiman bin Kholaf Al-Bajiy -rahimahullah- berkata, "Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- memaksudkan dengan hadits ini bahwa dengan dzikrullah, wudhu’, dan sholat, maka semua ikatan (buhul) setan akan terlepas, dan seorang muslim akan selamat dari makar setan, dan keburukan buhul-buhulnya. Lantaran itu, ia akan bersemangat di waktu pagi, (sedang ia telah terlepas darinya buhul-buhul yang telah membuat dirinya malas), dan jiwanya menjadi baik dengan sebab amalan kebajikan yang ia lakukan semalam". [Lihat Al-Muntaqo (1/434) karya Al-Bajiy]

Para pembaca budiman, inilah beberapa buah petikan fadhilah dan keutamaan wudhu. Semoga menjadi pendorong bagi kita semua untuk melazimi wudhu’ demi meraih keutamaann-keutamaan tersebut di atas. Kami memohon kepada Allah agar Dia menjadikan kita sebagai ummat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang dikenali dengan cahaya wudhu’.


------------------------------------
Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 115 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

Penghalang Mendapat Kebenaran

9 Januari 2013



Penghalang Mendapat Kebenaran
Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala semata, shalawat dalam salam semoga selalu tercurah kepada Nabi yang tidak ada nabi sesudahnya.
Ini adalah sebelas penghalang manusia menerima kebenaran, siapa yang mengetahuinya ia bisa menolaknya dan siapa yang tidak mengetahuinya ia mengikutinya.
Penghalang pertama: sombong. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Aku memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak berfirman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tak mau menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya. (QS. al-A’raf:146)
Contoh penjelasan di atas: 
Contoh pertama: Iblis. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Lalu seluruh malaikat-malaikat itu sujud semuanya * Kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir. (QS. Shaad:73-74)
Contoh kedua: Yahudi. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh. (QS. Al-Baqarah: 87)
Contoh ketiga: orang-orang musyrik. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka:"Laa ilaaha illallah" (Tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. (QS. ash-Shaaffat:35)
Contoh Keempat: Walid. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, (QS. al-Mudatstsir:23)
Contoh Kelima: orang kafir dan ahli bid’ah, mereka memperdebatkan al-Qur`an karena sombong. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkah hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah.Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Ghafir :56)
Penghalang kedua: iri dengki. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya.. (QS. an-Nisa`:54)
Contoh penjelasan di atas.
Contoh pertama: Iblis. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
   
Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada malaikat:"Sujudlah kamu semua kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata:"Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah" * ia (iblis) berkata:"Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil". (QS. al-Isra`:61-62)
Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Allah berfirman:"Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu". Menjawab iblis:"Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". (QS. Al-A’raaf:12)
Contoh kedua: Yahudi. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguh-Nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 2:109)
Contoh Ketiga: Qabil. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain(Qabil). Ia berkata (Qabil):"Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil:"Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa". (QS. al-Maidah:27)
Penghalang Ketiga: mengikuti hawa nafsu. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). (QS. 28:50)

Contoh penjelasan di atas:
Contoh pertama: seorang ulama bani Israel. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. * Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah,. (QS. Al-A’raaf:175-176)
Contoh Kedua: orang-orang musyrik. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya (QS. Al-Jatsiyah:23)
...dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi:28)
Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu binasa". (QS. Thaha:16)
Penghalang keempat: pengagungan dan panatisme terhadap makhluk, bukan terhadap kebenaran. Contoh-contohnya adalah:

Contoh pertama: pengagungan dan panatisme terhadap seseorang. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Apabila dikatakan kepada mereka:"Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab:"Cukuplah untuk kami apa yang kamu dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuki (QS. al-Maidah:104)
Mereka mengikuti jejak para leluhur, bukan mengikuti para nabi. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. *Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu. * Dan sesungguhnya telah sesat sebelumm mereka (Quraisy) sebagian besar dari orang-orang yang dahulu, (QS. ash-Shaffat:69-71)
Jika para leluhur melakukan perbuatan keji, anak cucu juga melakukan yang sama. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata:"Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya. Katakanlah:"Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji". Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS. al-A’raf:28)
Dan jika para leluhur melakukan perbuatan syirik, anak cucu juga melakukan hal yang sama. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya:"Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?" * Mereka menjawab:"Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya". (QS. al-Anbiya`:52-53)
Maka apa saja yang dilakukan oleh leluhur, dilakukan pula oleh para keturunan. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Mereka menjawab:"(bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian". (QS. asy-Syu’ara:74)
Contoh kedua: panatik terhadap ulama. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, (QS. at-Taubah:31)
Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dan mereka berkata:"Ya Rabb Kami, sesungguhnya kami telah menta'ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). (QS. 33:67)
Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar". (QS. al-Ahzaab:67-68)
Contoh ketiga: panatik terhadap makhluk bukan terhadap kebenaran, seperti panatik terhadap mazhab atau negeri atau keturunan atau warna atau bahasa.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 
“Barangsiapa yang berperang di bawah bendera kebutaan, yaitu marah karena kekerabatan, atau mengajak kepada kekerabatan, atau menolong karena kekerabatan, lalu ia terbunuh maka ia terbunuh secara jahiliyah.” HR. Muslim. 
Dan dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Kami berada dalam satu peperangan, lalu seorang laki-laki dari kalangan muhajirin memukul pantat seseorang dari kalangan anshar. Maka orang anshar tersebut berkata:

‘Wahai orang-orang anshar.’ Dan orang muhajirin berseru: ‘Wahai orang-orang muhajirin.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar hal itu seraya bersabda: ‘Kenapa ada panggilan jahiliyah? Mereka menjawab: ‘Seorang laki-laki dari kaum muhajirin memukup pantat laki dari kaum anshar.’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Biarkanlah, sesungguhnya ia sesuatu yang busuk.”  HR. Al-Bukhari no. 4622
Penghalang kelima: Merasa mulia dan angkuh. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: 
Dan apabila dikatakan kepadanya:"Bertaqwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. (QS. 2:206)
Penghalang keenam: hamiyyah.
Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah (QS. al-Fath:26)
Penghalang ketujuh: nifaq. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Apabila dikatakan kepada mereka:"Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS. 4:61)
Penghalang kedelapan: marah. 
Dari Sulaiman bin Syard radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata: dua orang laki-laki saling mencela di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kami sedang duduk di sisi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, salah seorang dari keduanya mencela temannya sambil marah dan mukanya sudah merah padam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimah yang jikalau ia mengatakannya niscaya hilang kemarahan darinya, jika ia membaca: ‘Aku berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari gangguan syetan yang terkutuk.’ Mereka berkata kepada laki-laki tersebut: ‘Apakah engkau tidak mendengar apa yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Ia menjawab: ‘Sesungguhnya aku bukan orang gila.’HR. al-Bukhari.
Penghalang ke sembilan: teman. 
Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata:"Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. * Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku). (QS. Al-Furqan:27-28)
Penghalang  kesepuluh:  khawatir kehilangan kekuasaan, kedudukan dan pengikut. 
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu mengabarkan kepadanya bahwa Heraclius berkata: ‘Sungguh aku sudah mengetahui bahwa ia (nabi akhir zaman) pasti akan muncul namun aku tidak pernah menduga bahwa ia berasal dari golonganmu. Maka jika aku mengetahui bahwa bisa sampai kepadanya niscaya aku berusaha untuk menemuinya. 
Jika aku berada di sisinya niscaya aku membersihkan kedua kakinya. Lalu ia memanggil para pembesar Romawi di tempat peribadatannya di Aleppo. Kemudian ia menyuruh pintu di tutup kemudian ia berpidato: ‘Wahai semua bangsa Romawi, maukah kalian mendapat keberuntungan dan petunjuk, dan kerajaanmu tetap langgeng, maka kamu membai’at nabi ini.’ 
Lalu mereka berdesakan menuju pintu, ternyata pintu sudah dikunci. Maka tatkala ia melihat berlarinya mereka dan tidak mau beriman, ia berkata: ‘Kembalikan mereka kepadaku dan berkata: Sesungguhnya aku mengatakan hal ini untuk menguji kesungguhan kalian terhadap agama kalian, sungguh aku telah melihat hal itu, lalu mereka sujud kepadanya dan ridha terhadapnya. Maka itulah akhir berita Heraclius. 
Penghalang Kesebelas: Perasaan
Dari Ibnu Syihab, ia berkata, Sa’id bin Musayyab mengabarkan kepadanya dari bapaknya,  ia menceritakan bahwa tatkala Abu Thalib hampir meninggal dunia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepadanya ternyata di sampingnya ada Abu Jahal bin Hisyam dan Abdullah bin Abu Umayyah bin Mughirah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Thalib: Wahai pamanku, ucapkanlah ‘laa ilaaha illallah’ kalimat yang aku bersaksi dengannya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Abu Jahal dan  Abdullah bin Abi Umayyah berkata: Apakah engkau membenci agama Abdul Muthalib?

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menawarkan hal itu kepadanya dan keduanya mengulangi kalimat tersebut, hingga akhirnya Abu Thalib berkata di akhir ucapannya bahwa ia tetap di atas agama Abdul Muthalib dan enggan mengucapkan ‘laa ilaaha illallah’.
Semoga shalawat selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Keteladanan Salafusshalih (khotbah)




Keteladanan Salafusshalih
~Syaikh Husain bin AbdulAziz Alu Syaikh

Khutbah pertama
Segala puji hanya untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla yang telah memuliakan tauhid beserta para pembela dan pengusungnya, menghinakan perbuatan syirik serta para pelakunya. Saya bersaksi bahwasannya tidak ada ilah yang berhak di sembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla, tidak ada sekutu baginya. 
Dan saya juga bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad  Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan Allah Shubhanahu wa ta’alla. Sholawat serta salam dan keberkahan semoga selalu tercurah kepada beliau, keluarga serta para sahabatnya.
Allah Shubhanahu wa ta’alla Ta'ala berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar".  (QS al-Ahzaab: 70-71).

Kaum muslimin…
Pada saat ini, begitu terasa ujian yang sedang menimpa umat, cobaan yang di bebankan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla kepada umat ini, semakin hari semakin bertambah, dan terus bertambah musibah yang di alami oleh saudara kita sesama muslim di belahan barat dan timur, yang sudah tidak asing lagi di kalangan kita semua. 
Saudaraku seakidah…
Sesungguhnya umat Islam -dan umat ini sedang dalam ujian serta fitnah yang sangat besar- sangat membutuhkan kepada pemahaman sempurna terhadap sejarah kemulian para pendahulu kita salafus shalih radhiyallahu 'anhum, sebuah potret sejarah yang mengandung kejayaan umat, mengantarkan perjalanan hidup di atas manhaj yang benar dan petunjuk yang lurus. 
Sungguh sebuah sejarah yang penuh dengan pelajaran, yang mengenyangkan jiwa, memperbaiki perilaku, menyinari akal, memberi pelajaran dan ibroh, yang mampu memompa semangat serta menguatkan cita-cita, dan memecut keinginan. Sejarah untuk di ambil sebagai pelajaran oleh umat, guna mempersiapkan diri meraih kembali puncak-puncak kejayaan, menilik tempat-tempat yang bisa mendatangkan pertolongan Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan pendorong kekukuhan umat.
Saudaraku kaum muslimin…
Pada zaman Umar al-Faruq radhiyallahu 'anhu, seorang khalifah yang Rasyid (mendapat petunjuk), penaklukan demi penaklukan negeri kafir terus berlanjut, sebuah kepemimpinan yang mengantarkan kepada kebahagian dan kesejahteraan umat manusia, serta ketentraman pada setiap lini kehidupan.
Diantara sekian banyak penaklukan yang dapat di capai oleh kaum muslimin pada saat itu adalah di taklukannya negeri Syam, yang masuk padanya dapat direbutnya kota al-Quds dari tangan penjajah, sebuah penaklukan yang memiliki peran penting dalam barisan umat. Sedangkan penaklukan itu sendiri, terjadi pada tahun ke enam belas Hijriyah.

Kaum muslimin rakhimakumullah…
Sungguh dengan di taklukannya kota ini, di dalamnya membawa sebuah pelajaran yang sangat agung serta ibroh yang mulia bagi kita semua, di antara pelajaran yang dapat kita petik dari penaklukan ini yaitu; Bahwa suatu keharusan bagi kaum muslimin adalah mempunyai rasa percaya diri yang tinggi serta merasa lebih mulia dengan agamanya, percaya kepada Rabbnya. 
Dengan tidak mengeyampingkan ajaran tauhid, bertawakal kepada -Nya, menyerahkan segala usaha dan upaya guna meraih ketakwaan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan tunduk didalam bingkai ketaatan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam. Maka, inilah kaidah dan pondasi yang bisa mengantarkan kepada kemuliaan dan kejayaan umat, inti dari sarana untuk meraih pertolongan -Nya, serta segera di angkatnya bencana dan ujian serta ditolaknya segala bentuk fitnah.
Di kisahkan dalam sejarah, Setelah berhasil menguasai negeri ini dan kedudukannya berubah menjadi di bawah kekuasaan Umar radhiyallahu 'anhu, maka beliau memerintahkan Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhum 'ala Shohabah 'ajma'in, untuk ekspedisi menaklukan negeri berikutnya, dan sebelumnya beliau memberikan surat wasiat kepadanya, yang isinya antara lain; Amma Ba'du: 
"Saya jadikan dirimu sebagai panglima dalam ekspedisi ini, maka laksanakan perintah ini, berangkatlah ke Qoisaariyah, mintalah pertolongan hanya kepada Allah Azza wa jalla dan perbanyaknya mengucapkan; 'Laa haula walaa quwata ilaa billahil 'Aliyil 'Adhim' (Tiada daya dan upaya melainkan dari Allah Shubhanahu wa ta’alla yang Maha Tinggi lagi Maha Agung)."
Dan para Sahabat, mereka adalah orang-orang yang sangat paham betul dengan makna kalimat  yang terkandung didalamnya. Di antara kelanjutan wasiat beliau adalah; 'Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah satu-satunya Rabb kita, kita serahkan segala urusannya hanya kepada -Nya, tempat untuk mengharap dan mengadu, dan -Dia lah sebaik-baik tempat mengadu dan meminta pertolongan".  Maka Mu'awiyah pun berangkat –Sembari membawa makna yang sangat agung ini dari wasiat-wasiat Umar – yang pada akhirnya Allah Shubhanahu wa ta’alla memenangkan mereka dan dapat menguasai negeri tersebut.
Tatkala Umar mengunjungi kota Syam, di saat penaklukan-penaklukan ini sedang terjadi, dalam keadaan naik keledainya dan kedua kakinya berada di satu sisi, Abu Ubaidah radhiyallahu 'anhu berkata kepadanya: 
"Wahai Amirul mu'minin, sekarang engkau akan bertemu dengan para pembesar Romawi". Maka terucaplah dari Umar sebuah ucapan yang sangat mashur: "Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla telah memuliakan kalian dengan Islam, kalau sekiranya kalian berusaha untuk mencari kemulian dari selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, maka -Dia pasti akan menghinakan kalian". Kemudian beliau berkhutbah dengan khutbah yang ringkas namun sangat agung isinya, yang kaya makna dan petuah, di antara isi khutbahnya adalah: 
"Barangsiapa di antara kalian yang merasa senang dengan kebaikannya, dan merasa sedih dengan kejelekannya, maka di adalah seorang mukmin". Sebuah kalimat yang harus menjadi pegangan hidup dalam masyarakat muslim.
Di antara sikap Umar al-Faruq radhiyallahau 'ahu yang ada pada saat itu, yaitu menulis surat kepada Abu Ubaidah untuk berangkat jihad di tengah-tengah penaklukan-penaklukan tersebut, seraya berkata: "Keselamatan semoga tercurah atas kalian, sesungguhnya saya memuji kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla baik dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan, dan saya peringatkan kalian semua dari perbuatan maksiat kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla Ta'ala, saya juga peringatkan dan melarang kalian agar jangan sampai menjadi orang-orang yang tersirat dalam firman -Nya:
"Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, sanak keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul -Nya dan dari berjihad di jalan -Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan -Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik."  (QS at-Taubah: 24).
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada penutup para Nabi dan Imamnya para utusan. Alhamdulillahi rabil 'alaimin".
Sebuah wasiat yang ringkas namun penuh makna. Maka tatkala surat ini di bacakan di hadapan kaum muslimin, tidak ada seorang pun melainkan meneteskan air matanya karena menangis.
Beliau juga pernah menulis sebuah wasiat kepada Sa'ad bin Abi Waqash radhiyallahu 'anhu dan orang-orang yang bersama dia dari pasukan yang ada, beliau mengatakan: "Amma Ba'du; Sesungguhnya saya menyuruh kepadamu serta orang-orang yang ada di sekelilingmu dari para pasukan agar senantiasa bertakwa kepada Allah Azza wa jalla pada setiap keadaan, karena sesungguhnya ketakwaan kepada -Nya merupakan sebaik-baik benteng untuk melawan musuh, dan tameng yang paling kuat di dalam peperangan. Dan saya juga memerintahkan kepadamu dan orang-orang yang ada, dari para pasukan, agar menjadi orang-orang yang sangat berhati-hati dengan perkara maksiat, melebihi sikap kehati-hatian kalian dari serangan musuh, sesungguhnya dosa-dosa yang di lakukan oleh pasukan lebih saya takuti atas kalian dari pada musuh-musuhmu, (ketahuilah) hanya saja kaum muslimin di tolong oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla di karenakan perbuatan maksiat yang di lakukan oleh musuh kalian kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla Ta'ala".
Dan perhatikanlah, di sana, dalam buku-buku sejarah yang berbicara kepada kita perjalanan anak manusia, salah satu di antara mereka yang telah mengikuti metode ini dan menjadikanya sebagai metode hidupnya adalah Sholahudin al-Ayubi, di mana di kisahkan bahwasannya beliau di dalam peperangan yang beliau lakukan selalu bersedekah  (pada fakir miskin) secara sembunyi-sembunyi, lantas di dalam sujud sholatnya ia berdo'a: "Wahai Rabbku, sungguh telah habis usaha yang dapat saya berikan untuk bisa menolong agama -Mu, tidak ada yang tersisa dari hamba -Mu melainkan ikhlas kepada -Mu, berpegang teguh kepada agama -Mu, dan bersandar kepada keutamaan -Mu, Engkaulah tempat meminta pertolongan dan sebaik-baik penolong". Berkata salah seorang ulama yang hidup sezaman dan melihat beliau: "Sungguh saya pernah melihat beliau dalam keadaan sujud sedangkan air matanya mengalir deras, sampai membasahi jenggot dan tempat sujudnya". 
Mereka semua adalah sosok kaum yang sangat sedikit sekali berbicaranya namun banyak menyimpan ilmu, banyak bersedekah serta ikhlas di dalam amalannya, maka Allah Shubhanahu wa ta’alla mewariskan kepada mereka kemulian dan kemenangan di dunia dan akhirat kelak, adapun sekarang, kita sangat jarang sekali mendapati, di mana ada di kalangan umat ini yang mau meniti pada manhaj yang lurus dan jalan yang lurus ini!
Sedangkan jawabannya maka sudah bisa di tebak di dalam akal pikiran kita, yang tidak samar lagi kecuali bagi orang yang lalai, kita hanya bisa mengadu kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, Laa haula walaa quwata ilaa billah. Mana wacana dan opini yang biasa di lontarkan oleh politikus, atau penulis, kritikus, yang mau menyeru umat sebagaimana halnya Umar dan para Sahabat Rasulullah Shalallahu 'alahi wa sallam serta orang-orang yang mau mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat kelak.
Saudaraku kaum muslimin…
Di antara pelajaran-pelajaran mulia dan ibroh yang penuh barokah ini adalah; Bahwa umat Muhammad  Shalallahu ‘alaihi wa sallam termasuk di antara tanda-tanda wujudnya mereka adalah adanya umat yang lebih mengutamakan perkara akhirat daripada perkara dunianya, bukan umat yang senang hidup mewah dan boros, senang bersendau gurau dan bermain-main, namun, umat ini adalah umat yang hidup di atas semangat tinggi, serta menerapkan makna yang tinggi yaitu merealisasikan peribadahan hanya kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan memurnikan tauhid kepada -Nya, menjadikan dunia ini sebagai ladang amal shaleh agar bisa di petik hasilnya di akhirat kelak, bukan menjadikan dunia sebagai tujuan utama sebagaimana yang menjadi ambisi kebanyakan umat manusia pada hari ini.
Tatkala Umar berkunjung ke Syam beliau berkata kepada Abu Ubaidah radhiyallahu 'anhum 'ala ash-Shahabah, -beliau merupakan salah satu panglima kaum muslimin- dalam penaklukan Syam: "Bawalah kami ke tempat tinggalmu". 
Ia berkata: "Apa yang akan engkau lakukan, wahai Umar? Tidaklah yang engkau inginkan melainkan akan membikin dirimu menangis". Tatkala Umar masuk kedalam rumah, beliau tidak melihat perabotan apapun, lantas beliau bertanya keheranan: "Mana perabotan rumahmu wahai Abu Ubaidah? Saya tidak mendapati kecuali ada karpet lusuh, periuk, dan sedikit air, kamu seorang panglima, apa kamu punya makanan? 
Maka Abu Ubaidah berdiri menuju bawah tangga lalu mengambil remukan roti. Umar pun menangis melihat kondisinya. Abu Ubaidah berkata kepadanya: "Saya sudah bilang padamu, bahwa kamu pasti akan menangis kasihan kepadaku wahai Amirul mukminin, cukup bagiku  sesuatu yang bisa menegakkan tulang punggung". Lantas Umar berkata –beliau adalah seorang yang sangat zuhud, wara' dan sangat sederhana kehidupannya-: "Dunia telah menipu kami semua, kecuali kamu wahai Abu Ubaidah".
Mereka adalah generasi terbaik dari kalangan umat ini, yang tidak mengenal dunia, kekuasaan, kedudukan, keindahan, kekayaan, dan rongsokannya –sebagaimana kebanyakan orang pada hari ini-.
Lihatlah pada kisahnya pedang Allah Shubhanahu wa ta’alla, Khalid bin Walid ini. Dirinya adalah orang yang pertama kali mengetahui surat dari Umar yang diperuntukan untuk Abu Ubaidah, isi suratnya mengabarkan tentang berita wafatnya Abu Bakar Shidiq radhiyallahu 'anhu dan pujian untuk dirinya dari Umar serta menggantikan kepemimpinannya dengan Abu Ubaidah di negeri Syam. 
Surat ini membawa pesan pencopotan Khalid dari jabatan gubernur dan perintah untuk membantu gubernur baru, karena dirinya sangat di butuhkan sekali bantuannya oleh Abu Ubaidah. Tatkala Khalid bin Walid mengetahui hal tersebut, ia bergegas menemui Abu Ubaidah dan berdiskusi dengannya, sebuah perbincangan yang agung dan penuh adab, tinggi kedudukannya, yang menunjukan keikhlasan yang luar biasa besarnya dan kejujuran yang sempurna. 
Khalid berkata kepadanya: "Wahai Abu Ubaidah, semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla mengampunimu. Telah datang kepadamu surat dari Amirul mukminin dengan penunjukan dirimu sebagai pemimpin, kenapa engkau tidak memberitahuku sebelumnya, sehingga dirimu masih sholat di belakangku, sedangkan pemimpin adalah pemimpinmu juga?". Maka Abu Ubaidah berkata kepadanya: "Demikian juga engkau wahai Khalid semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla mengampunimu. Saya enggan untuk memberitahumu sampai sekiranya engkau mengetahui sendiri dari orang lain, saya tidak mau membuatmu terburu-buru sampai semuanya selesai, sehingga pada nantinya saya segera memberitahumu –Insya Allah-". 
Abu Ubaidah mengatakan: "Bukanlah kekuasaan dunia yang saya inginkan, dunia bukanlah tujuan saya bekerja, karena sebagaimana kita lihat, semuanya pasti akan fana dan sirna. Kita hanyalah saudara seiman yang tunduk terhadap perintah Allah Shubhanahu wa ta’alla Ta'ala, tidak ada cela bagi seseorang yang di gantikan oleh saudaranya dalam agama bukan dunianya, namun Amirul mukminin mengetahui bahwa dirinya harus memilih mana dari keduanya yang lebih sedikit membawa fitnah dan terjatuh ke dalam kekeliruan yang akan menghancurkan dirinya, kecuali orang yang di jaga oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan sangatlah sedikit golongan mereka".
Lalu Abu Ubaidah menyerahkan surat wasiat Umar kepada Khalid. Apa yang di perbuat oleh Khalid? Beliau berada di bawah kepemimpinan Abu Ubaidah selama kurang lebih empat tahun, dan tidak pernah di ketahui bahwa dirinya mangkir dari perintah pemimpinnya walau pun hanya satu kali. Namun, dirinya selalu memenuhi perintahnya sampai pada peperangan besar dan penting yang sangat genting sekalipun. Khalid berkata kepadanya: "Ini adalah bagian saya, dan saya akan menyelesaikannya insya Allah". 
Maka Abu Ubaidah mengatakan: "Saya malu kepadamu wahai Abu Sulaiman". Lantas Khalid menjawab: "Kalau sekiranya saya di perintah oleh anak kecil yang datang dari Waliyul 'amr pasti saya akan taati titahnya, bagaimana mungkin saya akan menyelisihimu, sedangkan engkau adalah orang yang lebih dulu beriman daripada saya dan lebih dulu masuk Islam, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam telah menamai dirimu sebagai 'al-Amiin'?". Kemudian Khalid bersaksi bahwa dirinya telah menjadikan jiwa dan raganya untuk berjihad dan tidak menyelisihi perintah pemimpin selama-lamanya.
Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla meridhoi al-Faruq Umar bin Khatab tatkala dirinya menulis surat untuk seluruh penjuru negeri Islam yang berisi pernyataanya: "Sesungguhnya saya mencopot Khalid (dari kepemimpinanya) bukan karena kebencianku padanya bukan pula karena dirinya khianat, akan tetapi, manusia telah terfitnah dengan Khalid, dan saya khawatir mereka menyerahkan segala urusan kepadanya, dan mereka akan di uji olehnya".
Sebuah pelajaran tauhid, yang para Sahabat dapatkan dari sistem pendidikan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam–beliaulah pendidik tauhid yang sejati-, kemudian Umar mengatakan kepada Khalid: "Wahai Khalid. Demi Allah, sungguh dirimu bagi saya mempunyai kemuliaan, dan engkau adalah orang yang saya cintai". Beliau melanjutkan: "Saya berbuat seperti halnya orang berbuat namun tidak seperti apa yang kamu lakukan, tidak ada yang di lakukan oleh seorang hamba melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla lah yang menciptakannya".
Ketika Abu Ubaidah memegang tampuk kepemimpinan Qonnisiriin beberapa lama setelah di copotnya Khalid dari jabatannya, Berkata Umar –tatkala negeri tersebut dapat di taklukan oleh Khalid-, Umar berkata kepadanya: "Khalid telah menjadi amir dengan sendirinya, Khalid telah menjadi amir dengan sendirinya. Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla merahmati Abu Bakar, semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla merahmati Abu Bakar, dirinya lebih mengetahui keadaan ar-Rijal (orang) dari pada saya".  
Khalid menjawab sembari memuji Umar: "Adalah Umar, beliau adalah orang yang selalu menginginkan wajah Allah Shubhanahu wa ta’alla pada setiap langkah dan keputusannya". Hal ini tidaklah mengherankan, mereka adalah para Sahabat Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam, sebuah sekolahan yang memberikan buah indahnya pada tiap keadaan dan zaman.
Di antara salah satu pendidikan dan pelajaran terbaik yang bisa kita ambil dari mereka adalah; apa yang telah di tulis oleh para sejarawan bahwa Sholahudin al-Ayubi –Siapa yang tidak kenal dirinya, beliau adalah orang yang banyak menaklukan negeri kafir-, dirinya tidak pernah meninggalkan di dalam simpanannya uang kecuali satu dinar dan tiga puluh enam dirham, dan tidak mempunyai harta selain itu, baik istana megah maupun rumah mewah.
Mereka adalah orang-orang yang menjadikan seluruh hidupnya berjalan di bawah timbangan syari'at, merealisasikan ketakwaan serta ketundukan penuh kepada Allah Azza wa jalla. Orang-orang yang selalu berhubungan bersama Allah Shubhanahu wa ta’alla Jalla wa 'ala serta merasa mulia dengan agamanya, mereka meraih kemenangan dengan sebab bertawakal kepada     -Nya. Di mana keadaan umat pada hari ini, yang ada hanyalah perselisihan, bermusuhan, karena kekuasaan dan ingin menjadi seorang pemimpin, sebagaimana tidak samar lagi bagi seorangpun.
Adalah Ubadah bin Shaamit radhiyallahu 'anhu pernah berdiri di tengah-tengah pasukan kaum muslimin tatkala tengah mengepung Qoisaariyah sembari memberi semangat serta nasehat kepada mereka sambil mengatakan: 
"Wahai umat Islam, sungguh diriku adalah orang yang paling berumur dan sudah banyak menghabiskan usia di antara kalian, dan Allah Shubhanahu wa ta’alla telah mentakdirkan diriku untuk masih hidup sampai saat ini, berperang bersama-sama kalian. 
Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan -Nya, tidak ada yang membawaku untuk berada diantara kalian untuk memerangi orang-orang kafir melainkan agar mereka mau memberikan kebebasan bagi kita (untuk menyebarkan agama Allah Shubhanahu wa ta’alla), dan Allah Shubhanahu wa ta’alla akan memberi kemenangan kita atas mereka. Apa yang membawa kalian untuk memerangi mereka, kenapa tidak menghabiskan mereka?". Kemudian beliau menjelaskan pada mereka yang menjadi kekhawatiranya atas mereka, beliau berkata: "Sungguh demi Allah, saya khawatir atas kalian dua perkara, kalian berkhianat dan kalian enggan untuk menasehati di dalam peperangan ini".
Maka pada akhirnya mereka pun mendapat pertolongan dan kemenangan atas orang-orang kafir dengan sebab kejujuran dan keikhlasan. Dengan penuh percaya diri dan kemauan yang keras, kecintaan yang murni untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul -Nya.
Pelajaran lain yang masih bisa kita petik; Bahwa kaum muslimin yang bertauhid tidak mempunyai istilah putus asa, tidak pula terjepit pada kalimat patah semangat sama sekali, selagi mereka mau berpegang teguh dengan Allah Shubhanahu wa ta’alla dan mau bertawakal kepada -Nya, yang mereka pahami bahwa yang namanya gelap malam pasti akan diiringi dengan cerahnya cahaya pagi, kesusahan akan di akhiri dengan kesenangan, kesulitan akan di gantikan dengan kemudahan. 
Walaupun keadaan mereka berada dalam kesulitan yang luar biasa dan kesulitan makanan yang mengitarinya, namun mereka dengan keimanannya tetap naik menanjak, dan dengan rasa tawakalnya yang tinggi, terhadap Rabbnya meraka bahagia.
Amr bin al-Ash pernah menulis surat dan mengirimnya kepada Umar yaitu tatkla beliau mampu menaklukan al-Quds, salah satu isinya, mengabarkan kepadanya tentang kemenangan yang di raih kaum muslimin dan meminta pendapatnya berkaitan keadaan para panglima Romawi yang cerdik dan bisa mengatasi musuh-musuhnya, dan mengabarkan bahwa mereka mempunyai pasukan yang sangat besar di Palestina dan Ilia.
Maka Umar pun membalas suratnya dan mengatakan dengan kata-kata emas yang menumbuhkan keimanan penuh dan percaya kepada Allah Azza wa jalla; "Sungguh mereka (panglima Romawi) telah memulai peperangan ini melawan para panglima Arab, maka lihatlah oleh kalian siapa yang akan mendapat pertolongan Allah Shubhanahu wa ta’alla". Dan peperangan tersebut adalah peperangan yang pada akhirnya Amr bin al-Ash mendapat pertolongan Allah Shubhanahu wa ta’alla dan mampu mengalahkan mereka, dan dengan kemenangan tersebut membuka jalan bagi kaum muslimin untuk menuju Palestina.
Dan perlu di ketahui oleh umat Islam semuanya kalau Masjidil Aqsho itu berada di bawah tangan parap penjajah dari kalangan kaum Salibis yang iri dengan kaum muslimin kurang lebih selama Sembilan puluh dua tahun lamanya sampai akhirnya dapat di taklukan kembali –segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla- melalui tangannya Sholahudin al-Ayubi sehingga dengan keutamaan –Nya, agama Allah Shubhanahu wa ta’alla bisa tegak kembali, bertawakal kepada -Nya dan merealisasikam ajaran tauhid yang murni. 
Manusia pun bergembira mendengar berita di taklukannya Baitul maqdis yang membahagiakan tersebut, dengan sebab apa yang mereka lihat dari adanya perubahan pada umat Islam, dan kembalinya mereka pada rasa percaya kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, -sampai berkata Ibnu za-Zakki, beliau adalah seorang ulama- dia mengatakan: "Kemenanganmu atas kota al-Halab –dia mengatakan kepada Sholahudin- dengan pedang pada bulan Shofar memberi tanda akan datangnya kabar gembira segera di taklukannya al-Quds di bulan Rajab yang akan datang".
Dirinya merasa begitu percaya akan kekuasaan Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan harapannya, maka dia mampu menguasai al-Quds pada bulan Rajab tahun 583 H.
Kaum muslimin, Bertakwalah kalian kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan tempuhlah jalan yang lurus dan mendapat petunjuk ini sehingga kalian akan meraih kebahagian di dunia dan akhirat kelak.
Khutbah kedua
Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla atas segala kemurahan -Nya, rasa syukur kita haturkan atas taufik dan nikmat-nikmat -Nya yang sangat banyak sekali. 
Saya bersaksi bahwasannya tidak ada ilah yang berhak di sembah melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata tidak ada sekutu bagi -Nya, dan saya juga bersaksi bahwasannya Sayyidina dan Nabi kita Muhammad  Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan Rasul -Nya, sholawat serta salam dan keberkahan atasnya kita pintakan kepada -Nya, kepada keluarga dan para sahabatnya. Amma Ba'du:
Kaum muslimin yang dirahmati Allah Ta'ala.
Saya wasiatkan kepada diri saya pribadi dan kepada kalian semua agar selalu bertakwa kepada Allah Azza wa jalla.  Karena takwa merupakan wasiat Allah Shubhanahu wa ta’alla bagi kaum terdahulu dan sekarang.  
Kaum muslimin…
Sesungguhnya bahaya yang sedang mengancam umat Islam pada hari ini adalah perselisihan di dalam tubuh umat serta terpecah belahnya barisan kaum muslimin. Sedangkan nash-nash dari al-Qur'an dan Sunah secara mutawatir, datang menunjukan wajibnya untuk bersatu di atas panji tauhid dan ketakwaan, serta haramnya berpecah belah dan saling berselisih. 
Ambillah pelajaran dari keadaan generasi pertama yang ada pada umat Islam ini, di mana ketika mereka di hadapkan pada ujian dan kesulitan maka mereka sangat bersemangat sekali untuk selalu bersatu dan berpegang serta merapat kebarisan kaum muslimin.
Lihatlah salah seorang ulama muhaqiq lagi fakih ini, beliau bernama Ali bin Thahir as-Sulami ad-Dimasqy Asy-Syami, beliau pernah menulis sebuah risalah yang di tujukan kepada umat –setelah jatuhnya Baitul Maqdis ketangan pasukan salib pada tahun 429 H- yang tertera di dalam kitabnya 'Al-Jihaad', ringkas isi risalah ini yaitu: 
"Apabila para pemimpin kaum muslimin enggan untuk menggiring rasa saling mendendamnya –seakan-akan perkataanya ini, ditujukan kepada para pemimpin zaman kita sekarang-, maka sesungguhnya mereka  masih di atas watak jahiliyah yang tidak mencontoh kepada generasi pertama; tatkala di dalam kesulitan maka rasa saling mendendam itu hendaknya di hilangkan". 
Maha Benar Allah Azza wa jalla tatkala berfirman:"Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."  (QS al-Anfaal: 46).
Kemudian, ketahuilah bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta’alla Jalla wa 'ala telah menyuruh kepada kita suatu perkara yang sangat agung, yaitu; Bershalawat serta memberi salam kepada Nabi -Nya yang mulia. 
Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam serta berkatilah Nabi dan Rasul kita Muhammad  Shalallahu ‘alaihi wa sallam, Ya Allah, berilah keridhoan -Mu pada Khulafaur Rasyidin serta para Imam yang mendapat petunjuk, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta para Sahabat semuanya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat kelak, jadikanlah kami bersama golongan mereka, dengan kemurahan rahmat dan kasih sayang -Mu, yang Maha Penyayang.
Ya Allah, berilah kemulian dan kejayaan kepada kaum muslimin dan agama Islam, Ya Allah, kami serahkan kepada -Mu para musuh-musuh kaum muslimin, Ya Allah, jangan jadikan mereka sebagai pemimpin, dan jadikanlah generasi yang berikutnya mau mengambil pelajarannya.
Ya Allah, berilah taufik kepada kaum muslimin yang membawa kebaikan pada urusan agama dan dunia mereka, Ya Allah, berilah mereka taufik semuanya, yang membawa kebaikan pada agama dan dunianya. 
Ya Allah, limpahkanlah taufik -Mu atas mereka agar mau bertauhid secara murni, dan mengikuti sunnah, wahai Dzat yang mempunyai Kemuliaan dan Ketinggian. 
Ya Allah, berilah taufik kepada Pelayan dua tanah suci pada setiap perkara yang Engkau ridhoi dan cintai, 
Ya Allah, jadikanlah orang yang memimpin kaum muslimin, orang terbaik di antara mereka, wahai Dzat yang mempunyai Kemuliaan dan Ketinggian.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.
Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.
Ya Allah, Engkau adalah ilah yang tidak ada ilah yang berhak di sembah selain Engkau, Engkau Maha Kaya sedangkan kami adalah orang miskin, ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, turunkanlah hujan kepada kami, turunkanlah hujan kepada kami. 
Ya Allah, berilah hamba -Mu air, wahai Dzat yang mempunyai Kemuliaan dan Ketinggian. 
Ya Allah, Yang Maha Kaya lagi Terpuji berilah kami hujan, ya Allah yang maha kaya lagi terpuji berilah kami hujan, ya Allah, yang maha kaya lagi terpuji berilah kami hujan, tidak ada kekayaan bagi kami melainkan atas kemurahan -Mu, wahai Dzat yang mempunyai kemuliaan dan ketinggian, yang maha pengasih.
Kaum Muslimin hamba-hamba Allah Shubhanahu wa ta’alla….
Banyaklah berdzikir kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan khusyu.

Jilbab bukan kerudung

7 Oktober 2012




1. Pengantar

Banyak kesalahpahaman terhadap Islam di tengah masyarakat. Misalnya saja jilbab. Tak sedikit orang menyangka bahwa yang dimaksud dengan jilbab adalah kerudung. Padahal tidak demikian. Jilbab bukan kerudung. Kerudung dalam al-Qur’an surah An-Nuur [24]: 31 disebut dengan istilah khimar (jamaknya: khumur), bukan jilbab. Adapun jilbab yang terdapat dalam surah al-Ahzab [33]: 59, sebenarnya adalah baju longgar yang menutupi seluruh tubuh perempuan dari atas sampai bawah.

Kesalahpahaman lain yang sering dijumpai adalah anggapan bahwa busana muslimah itu yang penting sudah menutup aurat, sedang mode baju apakah terusan atau potongan, atau memakai celana panjang, dianggap bukan masalah. Dianggap, model potongan atau bercelana panjang jeans oke-oke saja, yang penting ‘kan sudah menutup aurat. Kalau sudah menutup aurat, dianggap sudah berbusana muslimah secara sempurna. Padahal tidak begitu.
Islam telah menetapkan syarat-syarat bagi busana muslimah dalam kehidupan umum, seperti yang ditunjukkan oleh nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah. Menutup aurat itu hanya salah satu syarat, bukan satu-satunya syarat busana dalam kehidupan umum. Syarat lainnya misalnya busana muslimah tidak boleh menggunakan bahan tekstil yang transparan atau mencetak lekuk tubuh perempuan. Dengan demikian, walaupun menutup aurat tapi kalau mencetak tubuh alias ketat —atau menggunakan bahan tekstil yang transparan— tetap belum dianggap busana muslimah yang sempurna.

Karena itu, kesalahpahaman semacam itu perlu diluruskan, agar kita dapat kembali kepada ajaran Islam secara murni serta bebas dari pengaruh lingkungan, pergaulan, atau adat-istiadat rusak di tengah masyarakat sekuler sekarang. Memang, jika kita konsisten dengan Islam, terkadang terasa amat berat. Misalnya saja memakai jilbab (dalam arti yang sesungguhnya). Di tengah maraknya berbagai mode busana wanita yang diiklankan trendi dan up to date, jilbab secara kontras jelas akan kelihatan ortodoks, kaku, dan kurang trendi (dan tentu, tidak seksi). Padahal, busana jilbab itulah pakaian yang benar bagi muslimah.

Di sinilah kaum muslimah diuji. Diuji imannya, diuji taqwanya. Di sini dia harus memilih, apakah dia akan tetap teguh mentaati ketentuan Allah dan Rasul-Nya, seraya menanggung perasaan berat hati namun berada dalam keridhaan Allah, atau rela terseret oleh bujukan hawa nafsu atau rayuan syaitan terlaknat untuk mengenakan mode-mode liar yang dipropagandakan kaum kafir dengan tujuan agar kaum muslimah terjerumus ke dalam limbah dosa dan kesesatan.

Berkaitan dengan itu, Nabi Saw pernah bersabda bahwa akan tiba suatu masa di mana Islam akan menjadi sesuatu yang asing —termasuk busana jilbab— sebagaimana awal kedatangan Islam. Dalam keadaan seperti itu, kita tidak boleh larut. Harus tetap bersabar, dan memegang Islam dengan teguh, walaupun berat seperti memegang bara api. Dan insyaAllah, dalam kondisi yang rusak dan bejat seperti ini, mereka yang tetap taat akan mendapat pahala yang berlipat ganda. Bahkan dengan pahala lima puluh kali lipat daripada pahala para shahabat. Sabda Nabi Saw:

“Islam bermula dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali menjadi sesuatu yang asing. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu.” [HR. Muslim no. 145].

“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu. Ada yang berkata, “Hai Rasululah, apakah itu pahala lima puluh di antara mereka?” Rasululah Saw menjawab, “Bahkan lima puluh orang di antara kalian (para shahabat).” [HR. Abu Dawud, dengan sanad hasan].

2. Aurat Dan Busana Muslimah

Ada 3 (tiga) masalah yang sering dicampuradukkan yang sebenarnya merupakan masalah-masalah yang berbeda-beda.

Pertama, masalah batasan aurat bagi wanita.

Kedua, busana muslimah dalam kehidupan khusus (al hayah al khashshash), yaitu tempat-tempat di mana wanita hidup bersama mahram atau sesama wanita, seperti rumah-rumah pribadi, atau tempat kost.

Ketiga, busana muslimah dalam kehidupan umum (al hayah ‘ammah), yaitu tempat-tempat di mana wanita berinteraksi dengan anggota masyarakat lain secara umum, seperti di jalan-jalan, sekolah, pasar, kampus, dan sebagainya. Busana wanita muslimah dalam kehidupan umum ini terdiri dari jilbab dan khimar.

a. Batasan Aurat Wanita

Aurat wanita adalah seluruh anggota tubuhnya kecuali wajah dan dua telapak tangannya. Lehernya adalah aurat, rambutnya juga aurat bagi orang yang bukan mahram, meskipun cuma selembar. Seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan adalah aurat yang wajib ditutup. Hal ini berlandaskan firman Allah SWT:

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Qs. an-Nuur [24]: 31).

Yang dimaksud “wa laa yubdiina ziinatahunna” (janganlah mereka menampakkan perhiasannya), adalah “wa laa yubdiina mahalla ziinatahinna” (janganlah mereka menampakkan tempat-tempat (anggota tubuh) yang di situ dikenakan perhiasan) (Lihat Abu Bakar Al-Jashshash, Ahkamul Qur’an, juz III, hal. 316).

Selanjutnya, “illa maa zhahara minha” (kecuali yang (biasa) nampak dari padanya). Jadi ada anggota tubuh yang boleh ditampakkan. Anggota tubuh tersebut, adalah wajah dan dua telapak tangan. Demikianlah pendapat sebagian shahabat, seperti ‘Aisyah, Ibnu Abbas, dan Ibnu Umar (Al-Albani, 2001 : 66). Ibnu Jarir Ath-Thabari (w. 310 H) berkata dalam kitab tafsirnya Jami’ Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, juz XVIII, hal. 84, mengenai apa yang dimaksud dengan “kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” (illaa maa zhahara minha): “Pendapat yang paling mendekati kebenaran adalah yang mengatakan, ‘Yang dimaksudkan adalah wajah dan dua telapak tangan’.” Pendapat yang sama juga dinyatakan Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, juz XII, hal. 229 (Al-Albani, 2001 : 50 & 57).

Jadi, yang dimaksud dengan apa yang nampak dari padanya adalah wajah dan dua telapak tangan. Sebab kedua anggota tubuh inilah yang biasa nampak dari kalangan muslimah di hadapan Nabi Saw sedangkan beliau mendiamkannya. Kedua anggota tubuh ini pula yang nampak dalam ibadah-ibadah seperti haji dan shalat. Kedua anggota tubuh ini biasa terlihat di masa Rasulullah Saw, yaitu di masa masih turunnya ayat al-Qur’an (An-Nabhani, 1990 : 45). Di samping itu terdapat alasan lain yang menunjukkan bahwasanya seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan dua telapak tangan karena sabda Rasulullah Saw kepada Asma’ binti Abu Bakar:

“Wahai Asma’ sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haidl) maka tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini, seraya menunjukkan wajah dan telapak tangannya.” [HR. Abu Dawud].

Inilah dalil-dalil yang menunjukkan dengan jelas bahwasanya seluruh tubuh wanita itu adalah aurat, kecuali wajah dan dua telapak tangannya. Maka diwajibkan atas wanita untuk menutupi auratnya, yaitu menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya.

b. Busana Muslimah Dalam Kehidupan Khusus

Adapun dengan apa seorang muslimah menutupi aurat tersebut, maka di sini syara’ tidak menentukan bentuk/model pakaian tertentu untuk menutupi aurat, akan tetapi membiarkan secara mutlak tanpa menentukannya dan cukup dengan mencantumkan lafadz dalam firman-Nya (Qs. an-Nuur [24]: 31) “wa laa yubdiina” (Dan janganlah mereka menampakkan) atau sabda Nabi Saw “lam yashluh an yura minha” (tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya) [HR. Abu Dawud]. Jadi, pakaian yang menutupi seluruh auratnya kecuali wajah dan telapak tangan dianggap sudah menutupi, walau bagaimana pun bentuknya. Dengan mengenakan daster atau kain yang panjang juga dapat menutupi, begitu pula celana panjang, rok, dan kaos juga dapat menutupinya. Sebab bentuk dan jenis pakaian tidak ditentukan oleh syara’.

Berdasarkan hal ini maka setiap bentuk dan jenis pakaian yang dapat menutupi aurat, yaitu yang tidak menampakkan aurat dianggap sebagai penutup bagi aurat secara syar’i, tanpa melihat lagi bentuk, jenis, maupun macamnya.

Namun demikian syara’ telah mensyaratkan dalam berpakaian agar pakaian yang dikenakan dapat menutupi kulit. Jadi pakaian harus dapat menutupi kulit sehingga warna kulitnya tidak diketahui. Jika tidak demikian, maka dianggap tidak menutupi aurat. Oleh karena itu apabila kain penutup itu tipis/transparan sehingga nampak warna kulitnya dan dapat diketahui apakah kulitnya berwarna merah atau coklat, maka kain penutup seperti ini tidak boleh dijadikan penutup aurat.

Mengenai dalil bahwasanya syara’ telah mewajibkan menutupi kulit sehingga tidak diketahui warnanya, adalah hadits yang diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwasanya Asma’ binti Abubakar telah masuk ke ruangan Nabi Saw dengan berpakaian tipis/transparan, lalu Rasulullah Saw berpaling seraya bersabda:

“Wahai Asma` sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haidl) tidak boleh baginya untuk menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini.” [HR. Abu Dawud].

Jadi Rasulullah Saw menganggap kain yang tipis itu tidak menutupi aurat, malah dianggap menyingkapkan aurat. Oleh karena itu lalu Nabi Saw berpaling seraya memerintahkannya menutupi auratnya, yaitu mengenakan pakaian yang dapat menutupi.

Dalil lainnya juga terdapat dalam hadits riwayat Usamah bin Zaid, bahwasanya ia ditanyai oleh Nabi Saw tentang Qibtiyah (baju tipis) yang telah diberikan Nabi Saw kepada Usamah. Lalu dijawab oleh Usamah bahwasanya ia telah memberikan pakaian itu kepada isterinya, maka Rasulullah Saw bersabda kepadanya:

“Suruhlah isterimu mengenakan baju dalam di balik kain Qibtiyah itu, karena sesungguhnya aku khawatir kalau-kalau nampak lekuk tubuhnya.” [HR. Ahmad dan Al-Baihaqi, dengan sanad hasan. Dikeluarkan oleh Adh-Dhiya’ dalam kitab Al-Ahadits Al-Mukhtarah, juz I, hal. 441] (Al-Albani, 2001 : 135).

Qibtiyah adalah sehelai kain tipis. Oleh karena itu tatkala Rasulullah Saw mengetahui bahwasanya Usamah memberikannya kepada isterinya, beliau memerintahkan agar dipakai di bagian dalam kain supaya tidak kelihatan warna kulitnya dilihat dari balik kain tipis itu, sehingga beliau bersabda: “Suruhlah isterimu mengenakan baju dalam di balik kain Qibtiyah itu.”

Dengan demikian kedua hadits ini merupakan petunjuk yang sangat jelas bahwasanya syara’ telah mensyaratkan apa yang harus ditutup, yaitu kain yang dapat menutupi kulit. Atas dasar inilah maka diwajibkan bagi wanita untuk menutupi auratnya dengan pakaian yang tidak tipis sedemikian sehingga tidak tergambar apa yang ada di baliknya.

c. Busana Muslimah Dalam Kehidupan Umum

Pembahasan poin b di atas adalah topik mengenai penutupan aurat wanita dalam kehidupan khusus. Topik ini tidak dapat dicampuradukkan dengan pakaian wanita dalam kehidupan umum, dan tidak dapat pula dicampuradukkan dengan masalah tabarruj pada sebagian pakaian-pakaian wanita.

Jadi, jika seorang wanita telah mengenakan pakaian yang menutupi aurat, tidak berarti lantas dia dibolehkan mengenakan pakaian itu dalam kehidupan umum, seperti di jalanan umum, atau di sekolah, pasar, kampus, kantor, dan sebagainya. Mengapa? Sebab untuk kehidupan umum terdapat pakaian tertentu yang telah ditetapkan oleh syara’. Jadi dalam kehidupan umum tidaklah cukup hanya dengan menutupi aurat, seperti misalnya celana panjang, atau baju potongan, yang sebenarnya tidak boleh dikenakan di jalanan umum meskipun dengan mengenakan itu sudah dapat menutupi aurat.

Seorang wanita yang mengenakan celana panjang atau baju potongan memang dapat menutupi aurat. Namun tidak berarti kemudian pakaian itu boleh dipakai di hadapan laki-laki yang bukan mahram, karena dengan pakaian itu ia telah menampakkan keindahan tubuhnya (tabarruj). Tabarruj adalah, menempakkan perhiasan dan keindahan tubuh bagi laki-laki asing/non-mahram (izh-haruz ziinah wal mahasin lil ajaanib) (An-Nabhani, 1990 : 104). Oleh karena itu walaupun ia telah menutupi auratnya, akan tetapi ia telah bertabarruj, sedangkan tabarruj dilarang oleh syara’.

Pakaian wanita dalam kehidupan umum ada 2 (dua), yaitu baju bawah (libas asfal) yang disebut dengan jilbab, dan baju atas (libas a’la) yaitu khimar (kerudung). Dengan dua pakaian inilah seorang wanita boleh berada dalam kehidupan umum, seperti di kampus, supermarket, jalanan umum, kebun binatang, atau di pasar-pasar.

Apakah pengertian jilbab? Dalam kitab Al Mu’jam Al Wasith karya Dr. Ibrahim Anis (Kairo : Darul Maarif) halaman 128, jilbab diartikan sebagai “Ats tsaubul musytamil ‘alal jasadi kullihi” (pakaian yang menutupi seluruh tubuh), atau “Ma yulbasu fauqa ats tsiyab kal milhafah” (pakaian luar yang dikenakan di atas pakaian rumah, seperti milhafah (baju terusan), atau “Al Mula`ah tasytamilu biha al mar’ah” (pakaian luar yang digunakan untuk menutupi seluruh tubuh wanita).

Jadi jelaslah, bahwa yang diwajibkan atas wanita adalah mengenakan kain terusan (dari kepala sampai bawah) (Arab: milhafah/mula`ah) yang dikenakan sebagai pakaian luar (di bawahnya masih ada pakaian rumah, seperti daster, tidak langsung pakaian dalam) lalu diulurkan ke bawah hingga menutupi kedua kakinya.

Untuk baju atas, disyariatkan khimar, yaitu kerudung atau apa saja yang serupa dengannya yang berfungsi menutupi seluruh kepala, leher, dan lubang baju di dada. Pakaian jenis ini harus dikenakan jika hendak keluar menuju pasar-pasar atau berjalan melalui jalanan umum (An-Nabhani, 1990 : 48).

Apabila ia telah mengenakan kedua jenis pakaian ini (jilbab dan khimar) dibolehkan baginya keluar dari rumahnya menuju pasar atau berjalan melalui jalanan umum, yaitu menuju kehidupan umum. Akan tetapi jika ia tidak mengenakan kedua jenis pakaian ini maka dia tidak boleh keluar dalam keadaan apa pun, sebab perintah yang menyangkut kedua jenis pakaian ini datang dalam bentuk yang umum, dan tetap dalam keumumannya dalam seluruh keadaan, karena tidak ada dalil yang mengkhususkannya.

Dalil mengenai wajibnya mengenakan dua jenis pakaian ini, karena firman Allah SWT mengenai pakaian bagian bagian atas (khimar/kerudung):

“Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Qs. an-Nuur [24]: 31).

Dan karena firman Allah SWT mengenai pakaian bagian bawah (jilbab):

“Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya.” (Qs. al-Ahzab [33]: 59).

Adapun dalil bahwa jilbab merupakan pakaian dalam kehidupan umum, adalah hadits yang diriwayatkan dari Ummu ‘Athiah r.a., bahwa dia berkata:

“Rasulullah Saw memerintahkan kaum wanita agar keluar rumah menuju shalat Ied, maka Ummu ‘Athiyah berkata, ‘Salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab?’ Maka Rasulullah Saw menjawab: ‘Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya!’” [Muttafaqun ‘alaihi] (Al-Albani, 2001 : 82).

Berkaitan dengan hadits Ummu ‘Athiyah ini, Syaikh Anwar Al-Kasymiri, dalam kitabnya Faidhul Bari, juz I, hal. 388, mengatakan: “Dapatlah dimengerti dari hadits ini, bahwa jilbab itu dituntut manakala seorang wanita keluar rumah, dan ia tidak boleh keluar (rumah) jika tidak mengenakan jilbab.” (Al-Albani, 2001 : 93).

Dalil-dalil di atas tadi menjelaskan adanya suatu petunjuk mengenai pakaian wanita dalam kehidupan umum. Allah SWT telah menyebutkan sifat pakaian ini dalam dua ayat di atas yang telah diwajibkan atas wanita agar dikenakan dalam kehidupan umum dengan perincian yang lengkap dan menyeluruh. Kewajiban ini dipertegas lagi dalam hadits dari Ummu ‘Athiah r.a. di atas, yakni kalau seorang wanita tak punya jilbab —untuk keluar di lapangan sholat Ied (kehidupan umum)— maka dia harus meminjam kepada saudaranya (sesama muslim). Kalau tidak wajib, niscaya Nabi Saw tidak akan memerintahkan wanita mencari pinjaman jilbab.

Untuk jilbab, disyaratkan tidak boleh potongan, tetapi harus terulur sampai ke bawah sampai menutup kedua kaki, sebab Allah SWT mengatakan: “yudniina ‘alaihinna min jalabibihinna” (Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka).

Dalam ayat tersebut terdapat kata “yudniina” yang artinya adalah yurkhiina ila asfal (mengulurkan sampai ke bawah/kedua kaki). Penafsiran ini —yaitu idnaa’ berarti irkhaa’ ila asfal— diperkuat dengan dengan hadits Ibnu Umar bahwa dia berkata, Rasulullah Saw telah bersabda:

“Barang siapa yang melabuhkan/menghela bajunya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada Hari Kiamat nanti.’ Lalu Ummu Salamah berkata, ’Lalu apa yang harus diperbuat wanita dengan ujung-ujung pakaian mereka (bi dzuyulihinna).” Nabi Saw menjawab, ’Hendaklah mereka mengulurkannya (yurkhiina) sejengkal (syibran)’ (yakni dari separoh betis). Ummu Salamah menjawab, ‘Kalau begitu, kaki-kaki mereka akan tersingkap.’ Lalu Nabi menjawab, ‘Hendaklah mereka mengulurkannya sehasta (fa yurkhiina dzira`an) dan jangan mereka menambah lagi dari itu.” [HR. At-Tirmidzi, juz III, hal. 47; hadits sahih] (Al-Albani, 2001 : 89).

Hadits di atas dengan jelas menunjukkan bahwa pada masa Nabi Saw, pakaian luar yang dikenakan wanita di atas pakaian rumah —yaitu jilbab— telah diulurkan sampai ke bawah hingga menutupi kedua kaki.

Berarti jilbab adalah terusan, bukan potongan. Sebab kalau potongan, tidak bisa terulur sampai bawah. Atau dengan kata lain, dengan pakaian potongan seorang wanita muslimah dianggap belum melaksanakan perintah “[/i]yudniina ‘alaihinna min jalaabibihina[/i]” (Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbabnya). Di samping itu kata min dalam ayat tersebut bukan min lit tab’idh (yang menunjukkan arti sebagian) tapi merupakan min lil bayan (menunjukkan penjelasan jenis). Jadi artinya bukanlah “Hendaklah mereka mengulurkan sebagian jilbab-jilbab mereka” (sehingga boleh potongan), melainkan Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka (sehingga jilbab harus terusan) (An-Nabhani, 1990 : 45-51).

3. Penutup

Dari penjelasan di atas jelas bahwa wanita dalam kehidupan umum wajib mengenakan baju terusan yang longgar yang terulur sampai ke bawah yang dikenakan di atas baju rumah mereka. Itulah yang disebut dengan jilbab dalam al-Qur’an.

Jika seorang wanita muslimah keluar rumah tanpa mengenakan jilbab seperti itu, dia telah berdosa, meskipun dia sudah menutup auratnya. Sebab mengenakan baju yang longgar yang terulur sampai bawah adalah fardlu hukumnya. Dan setiap pelanggaran terhadap yang fardlu dengan sendirinya adalah suatu penyimpangan dari syariat Islam di mana pelakunya dipandang berdosa di sisi Allah. [Ust. M. Shiddiq al-Jawi]

--------------------------------------------
Daftar Bacaan

1. Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. 2001. Jilbab Wanita Muslimah Menurut Al-Qur`an dan As Sunnah (Jilbab Al-Mar`ah Al-Muslimah fi Al-Kitab wa As-Sunnah). Alih Bahasa Hawin Murtadlo & Abu Sayyid Sayyaf. Cetakan ke-6. (Solo : At-Tibyan).

2. ———-. 2002. Ar-Radd Al-Mufhim Hukum Cadar (Ar-Radd Al-Mufhim ‘Ala Man Khalafa Al-‘Ulama wa Tasyaddada wa Ta’ashshaba wa Alzama Al-Mar`ah bi Satri Wajhiha wa Kaffayha wa Awjaba). Alih Bahasa Abu Shafiya. Cetakan ke-1. (Yogyakarta : Media Hidayah).

3. Al-Baghdadi, Abdurrahman. 1998. Emansipasi Adakah dalam Islam Suatu Tinjauan Syariat Islam Tentang Kehidupan Wanita. Cetakan ke-10. (Jakarta : Gema Insani Press).

4. Ali, Wan Muhammad bin Muhammad. Al-Hijab. Alih bahasa Supriyanto Abdullah. Cetakan ke-1. (Yogyakarta : Ash-Shaff).

5. Ambarwati, K.R. & M. Al-Khaththath. 2003. Jilbab Antara Trend dan Kewajiban. Cetakan Ke-1. (Jakarta : Wahyu Press).

6. Anis, Ibrahim et.al. 1972. Al-Mu’jamul Wasith. Cet. 2. (Kairo : Darul Ma’arif)

7. An-Nabhani, Taqiyuddin. 1990. An-Nizham Al-Ijtima’i fi Al-Islam. Cetakan ke-3. (Beirut : Darul Ummah).

8. Ath-Thayyibiy, Achmad Junaidi. 2003. Tata Kehidupan Wanita dalam Syariat Islam. Cetakan ke-1. (Jakarta : Wahyu Press).

9. Bin Baz, Syaikh Abdul Aziz et.al. 2000. Fatwa-Fatwa Tentang Memandang, Berkhalwat, dan Berbaurnya Pria dan Wanita (Fatawa An-Nazhar wa al-Khalwah wa Al-Ikhtilath). Alih Bahasa Team At-Tibyan. Cetakan ke-5. (Solo : At-Tibyan).

10. Taimiyyah, Ibnu. 2000. Hijab dan Pakaian Wanita Muslimah dalam Sholat (Hijab Al-Mar`ah wa Libasuha fi Ash-Shalah). Ditahqiq Oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Alih Bahasa Hawin Murtadlo. Cetakan ke-2. (Solo : At-Tibyan).

11. ———- et. al. 2002. 5 Risalah Hijab Kumpulan Fatwa-Fatwa Tentang Pakaian, Hijab, Cadar, Ikhtilath, Berjabat Tangan, dan Khalwat (Majmu’ Rasail fi Al Hijab wa As-Sufur). Alih Bahasa Muzaidi Hasbullah. Cetakan ke-1. (Solo : Pustaka Arafah).

12. Qonita, Arina. 2001. Jilbab dan Hijab. Cetakan ke-1. (Jakarta : Bina Mitra Press

revival of Islamic faith foundation

Sejarah

 

© Copyright revival of Islamic faith foundation 2012 | Design by Atmadeeva Keiza | Published by Borneo Templates | Modified by Blogger Tutorials.