Revival Of Islamic Faith Foundation
News Update :

Kajian

Bantahan

Fiqih

Tinjauan Kritis Hadits Isra’ Mi’raj

1 Oktober 2012


Bismillahirrohmanirroheem ..


“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui” (Qs. Al Israa : 1)

Setiap tanggal 27 Rajab biasanya sebagian Umat Islam memperingati peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW dengan ceramah Agama. Umumnya pula para penceramah mulai dari tingkat RT sampai Istana Negara menerangkan hikmah peristiwa itu dengan turunnya perintah sholat 5 waktu berdasarkan sebuah hadits isinya cukup panjang yang diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya nomor 234 dari jalan Anas bin Malik. Namun benarkah sesungguhnya demikian ?
Adapun hadits tersebut secara riwayat adalah shahih karena terdiri dari para perawi yang tsiqoh (dipercaya). Namun secara matan (isinya) sebagian bertentangan dengan Al Quran dan hadits lainnya yang shahih. Maka kedudukan hadits tersebut adalah dhoif (lemah) dan mualal (sisipan) karena isinya diselipkan cerita – cerita Israiliyat dari kaum Bani Israil yang sengaja secara tersirat ingin mengagungkan bangsa mereka dan Nabi Musa serta mengecilkan peran Nabi Muhammad beserta pengikutnya.
Kelemahan hadits tersebut :
  1. Yang menjadi subjek memperjalankan Rasulullah Muhammad dalam Peristiwa Isra’ (perjalanan) yang bermakna Mi’raj (naik melalui tangga – tangga) adalah Allah Subhanahuta’ala (Qs.17 : 1), Dia yang Maha Berkehendak. Sedangkan dalam hadits tersebut Nabi Musa yang menyuruh Nabi Muhammad untuk naik – turun dari langit sebanyak sembilan kali guna mendapat pengurangan perintah sholat dari 50 rakaat menjadi 5 rakaat.
  2. Nampak pula dalam kisah palsu ini seolah Nabi Musa begitu perkasanya dan berilmu sehingga mampu mendikte Allah sehingga menuruti pandangan Musa alaihissalam dalam hal perintah sholat.
  3. Hadits ini menerangkan proses perintah sholat kepada Nabi Muhammad sedangkan kewajiban sholat sudah ditetapkan Allah pada tahun awal Kenabian dengan turunnya surah al Muzammil ayat 1 – 9, jauh sebelum turunnya Surah Al Isra pada tahun ke empat Kerasulan.
  4. Keganjilan tampak jelas dalam hadit ini, bahwa sebelum menuju langit Rosulullah sholat dua rakaat di Baitul Maqdis, sedangkan perintah sholat belum diterima.
  5. Dalam hadits ini menggambarkan bahwa Para Nabi yang sudah wafat sudah berada di langit. Sedangkan seluruh Manusia termasuk para Nabi yang sudah wafat berada di alam Qubur / Barzakh / dinding yang membatasi Alam Dunia dan Akhirat. Ulama menyebutnya alam genggaman Allah atas dasar Surah Azzumar ayat 42 menunggu datangnya Hari Berbangkit (Qs. 18 : 47)
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”. (Qs. 39:42)
dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorangpun dari mereka. (Qs. 18 : 47)
  1. Nabi Muhammad adalah semulia para Nabi. Beliau tidak pernah membantah atau minta dispensasi (pengurangan) tugas dari Allah. Sedangkan yang biasa menawar dan membantah perintah Allah dan rasulNya sejak dahulu adalah orang kafir dari Bani Israil. Fakta ini dapat kita temukan dalam nash Al Quran dan Hadits yang shahih. Maka mustahil rosul kita mengadakan tawar menawar kepada Musa apalagi kepada Allah. Sedangkan seluruh rosul telah berjanji kepada Allah untuk beriman dan menolong misi Muhammad Rasulullah (Qs. 3:81)
dan (ingatlah), ketika Allah mengambil Perjanjian dari Para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan Hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" mereka menjawab: "Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai Para Nabi) dan aku menjadi saksi (pula) bersama kamu".

Demikianlah sebagian tinjauan kritis terhadap sebagian isi hadits tentang Mi’raj, tanpa menafikan hadits lainnya yang menceritakan kebenaran peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Selanjutnya insyaAllah kita akan meninjau peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini menurut dalil yang shahih.

Rute perjalanan Isra’ sebenarnya adalah dari Masjidil Haram, lalu naik ke Sidrathul Muntaha sampai ke hadirat Allah, kemudian turun ke Baitul Maqdis (tanpa disaksikan manusia), dan terakhir kembali ke Masjidil Haram (disaksikan kafilah sebagai bukti) dalam waktu sebagian malam. Jadi bukan seperti umumnya difahami dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho, baru kemudian ke langit dan kembali lagi Masjidil Haram.
Lafadz min (dari) bertemu dengan ilaa (sampai dengan) pada Surah Al Isra’ ayat 1 bermakna batas lingkaran area yang diberkahi Allah untuk kepentingan Mi’raj (naik). Berkah di sini maknanya pengkondisian khusus bagi seorang manusia pilihan agar mampu melakukan perjalanan luar biasa yang mustahil ditempuh manusia biasa dengan tanpa “sarana” dan wahana khusus dariNya. Allah mengutus Malaikat Jibril yang dicipta dari cahaya (nur) untuk menarik sinar – sinar kosmik seluas wilayah yang diberkahi tersebut seolah dapat kita gambarkan seperti terowongan dari bumi menuju langit guna melindungi jasad Nabi kita selama perjalanan. Kemudian Jibril juga membawa “wahana” berupa Bouraq (dari kata barqun = kilat) yang terdiri dari meta energi untuk tenaga pendorong Muhammad Rasulullah menuju ke langit dengan kecepatan melebihi kilat.

Maka lafadz min (dari) bertemu dengan ilaa (sampai dengan) pada Surah Al Isra’ ayat 1 bermakna batas area yang diberkahi Allah untuk kepentingan Mi’raj (naik) bukan jarak tempuh awal peristiwa itu. Jika lafadz ilaa bermakna jarak lurus, maka dapat kita lihat contohnya dalam Surah Al Maidah ayat 6 :
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, …
Maka peristiwa Mi’raj Nabi merupakan tanda pengetahuan yang besar bagi umat Muhammad untuk menggugah aqal lalu menggali kaidah ilmu Alam untuk kepentingan ibadah dan kemaslahatan duniawiyah
…agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”  (Qs. Al Israa : 1)
Berarti pula Islam adalah Din yang Maha Tinggi karena memiliki Kitab yang sempurna dan menjadi rujukan pengetahuan bagi semesta Alam. Maka secara garis besar, peristiwa Isra’ dan Mi’raj sengaja ditetapkan Allah guna Dia membuktikan kepada NabiNya Muhammad SAW dan kepada muttabi’ rosul akan kebenaran Al Quran sebagai Ayatul Qubro (bukti yang besar) dariNya. Dimana seluruh kunci pengetahuan semesta alam telah Dia letakkan di dalam KitabNya yang mulia yang tidak akan habis digali dan di kaji isinya sampai akhir zaman.
“(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”. (Qs.3:138).
“dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah[1183]. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Qs.31:27)
Wallahu’alam

silaturahim

30 September 2012

Assalamu'alaikum wr wb salamsilaturahim,untuk teman"yg ingin tukaran Banner,silahkan copas code HTML aja., syukran,jazzakumullah khairan. :) revival
revival
revival
revival
revival

Words of remembrance for morning and evening.





All praise is due to Allah alone, and peace and blessings be upon him after whom there is no other Prophet.

Reference: Anas (RA) said that he heard the Prophet (Sallallahu 'alaihi wa sallam) say: 
"That I sit with people remembering Almighty Allah from the morning (Fajr) prayer until sunrise is more beloved to me than freeing four slaves from among the Children of Isma'il. 
That I sit with people remembering Allah from the afternoon ('Asr) prayer until the sun sets is more beloved to me than freeing four slaves from among the Children of Isma'il." This was reported by Abu Dawud (no. 3667). Al-Albani graded it good in SahihAbu Dawud 2/698.
---

ุฃَุนُูˆุฐُ ุจِุงู„ู„ู‡ِ ู…ِู†َ ุงู„ุดَّูŠْุทَุงู†ِ ุงู„ุฑَّุฌِูŠู…ِ "ุงู„ู„ู‡ُ ู„َุง ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„َّุง ู‡ُูˆَ ุงู„ْุญَูŠُّ ุงู„ْู‚َูŠُّูˆู…ُ ู„َุง ุชَุฃْุฎُุฐُู‡ُ ุณِู†َุฉٌ ูˆَู„َุง ู†َูˆْู…ٌ ู„َู‡ُ ู…َุง ูِูŠ ุงู„ุณَّู…َุงูˆَุงุชِ ูˆَู…َุง ูِูŠ ุงู„ْุฃَุฑْุถِ ู…َู†ْ ุฐَุง ุงู„َّุฐِูŠ ูŠَุดْูَุนُ ุนِู†ْุฏَู‡ُ ุฅِู„َّุง ุจِุฅِุฐْู†ِู‡ِ ูŠَุนْู„َู…ُ ู…َุง ุจَูŠْู†َ ุฃَูŠْุฏِูŠู‡ِู…ْ ูˆَู…َุง ุฎَู„ْูَู‡ُู…ْ ูˆَู„َุง ูŠُุญِูŠุทُูˆู†َ ุจِุดَูŠْุกٍ ู…ِู†ْ ุนِู„ْู…ِู‡ِ ุฅِู„َّุง ุจِู…َุง ุดَุงุกَ ูˆَุณِุนَ ูƒُุฑْุณِูŠُّู‡ُ ุงู„ุณَّู…َุงูˆَุงุชِ ูˆَุงู„ْุฃَุฑْุถَ ูˆَู„َุง ูŠَุฆُูˆุฏُู‡ُ ุญِูْุธُู‡ُู…َุง ูˆَู‡ُูˆَ ุงู„ْุนَู„ِูŠُّ ุงู„ْุนَุธِูŠู…ُ".
'A 'oothu billaahi minash-Shaytaanir-rajeem. Allaahu laa 'ilaaha 'illaa Huwal-Hayyul-Qayyoom, laa ta'khuthuhu sinatun wa laa nawm, lahu maa fis-samaawaati wa maa fil-'ardh, man thai-lathee yashfa'u 'indahu 'illaa bi'ithnih, ya'lamu maa bayna 'aydeehim wa maa khalfahum, wa laa yuheetoona bishay'im-min 'ilmihi 'illaa bimaa shaa'a, wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal'ardh, wa laa ya'ooduhu hifdhuhumaa, wa Huwal- 'Aliyyul- 'Adheem.

I seek refuge in Allah from Satan the outcast. - Allah! There is none worthy of worship but He, the Ever Living, the One Who sustains and protects all that exists. Neither slumber nor sleep overtakes Him. To Him belongs whatever is in the heavens and whatever is on the earth. Who is he that can intercede with Him except with His Permission? He knows what happens to them in this world, and what will happen to them in the Hereafter. And they will never encompass anything of His Knowledge except that which He wills. His Throne extends over the heavens and the earth, and He feels no fatigue in guarding and preserving them. And He is the Most High, the Most Great.

Reference: Whoever says this when he rises in the morning will be protected from jinns until he retires in the evening, and whoever says it when retiring in the evening will be protected from them until he rises in the morning. It was reported by Al-Hakim 1 / 562, Al-Albani graded it as authentic in Sahihut-Targhib wat-Tarhib 1/273, and traces it to An-Nasa'i and At-Tabarani. He says that At-Tabarani's chain of transmission is reliable (Jayyid).
----

ุจَุณْู…ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุงู„ุฑَّุญْู…َู†ِ ุงู„ุฑَّุญِูŠู…ِ "ู‚ُู„ْ ู‡ُูˆَ ุงู„ู„ู‡ُ ุฃَุญَุฏٌ ۞ ุงู„ู„ู‡ُ ุงู„ุตَّู…َุฏُ ۞ ู„َู…ْ ูŠَู„ِุฏْ ูˆَู„َู…ْ ูŠُูˆู„َุฏْ ۞ ูˆَู„َู…ْ ูŠَูƒُู†ْ ู„َู‡ُ ูƒُูُูˆًุง ุฃَุญَุฏٌ"

Bismillaahir-Rahmaanir-Raheem. Qul Huwallaahu 'Ahad. Allaahus-Samad. Lam yalid wa lam yoolad. Wa lam yakun lahu kufuwan 'ahad.

With the Name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful. Say: He is Allah (the) One. The Self-Sufficient Master, Whom all creatures need, He begets not nor was He begotten, and there is none equal to Him.

----
ุจَุณْู…ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุงู„ุฑَّุญْู…َู†ِ ุงู„ุฑَّุญِูŠู…ِ "ู‚ُู„ْ ุฃَุนُูˆุฐُ ุจِุฑَุจِّ ุงู„ْูَู„َู‚ِ ۞ ู…ِู†ْ ุดَุฑِّ ู…َุง ุฎَู„َู‚َ ۞ ูˆَู…ِู†ْ ุดَุฑِّ ุบَุงุณِู‚ٍ ุฅِุฐَุง ูˆَู‚َุจَ ۞ ูˆَู…ِู†ْ ุดَุฑِّ ุงู„ู†َّูَّุงุซَุงุชِ ูِูŠ ุงู„ْุนُู‚َุฏِ ۞ ูˆَู…ِู†ْ ุดَุฑِّ ุญَุงุณِุฏٍ ุฅِุฐَุง ุญَุณَุฏَ".

Bismillaahir-Rahmaanir-Raheem. Qul 'a'oothu birabbil-falaq. Min sharri ma khalaq. Wa min sharri ghaasiqin 'ithaa waqab. Wa min sharrin-naffaathaati fil-'uqad. Wa min sharri haasidin 'ithaa hasad.

With the Name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful. Say: I seek refuge with (Allah) the Lord of the daybreak, from the evil of what He has created, and from the evil of the darkening (night) as it comes with its darkness, and from the evil of those who practice witchcraft when they blow in the knots, and from the evil of the envier when he envies.
---

ุจَุณْู…ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุงู„ุฑَّุญْู…َู†ِ ุงู„ุฑَّุญِูŠู…ِ "ู‚ُู„ْ ุฃَุนُูˆุฐُ ุจِุฑَุจِّ ุงู„ู†َّุงุณِ ۞ ู…َู„ِูƒِ ุงู„ู†َّุงุณِ ۞ ุฅِู„َู‡ِ ุงู„ู†َّุงุณِ ۞ ู…ِู†ْ ุดَุฑِّ ุงู„ْูˆَุณْูˆَุงุณِ ุงู„ْุฎَู†َّุงุณِ ۞ ุงู„َّุฐِูŠ ูŠُูˆَุณْูˆِุณُ ูِูŠ ุตُุฏُูˆุฑِ ุงู„ู†َّุงุณِ ۞ ู…ِู†َ ุงู„ْุฌِู†َّุฉِ ูˆَุงู„ู†َّุงุณِ".

Bismillaahir-Rahmaanir-Raheem. Qul 'a'oothu birabbin-naas. Malikin-naas. 'Ilaahin-naas. Min sharril-waswaasil-khannaas. Allathee yuwaswisu fee sudoorin-naas. Minal-jinnati wannaas.

With the Name of Allah , the Most Gracious , the Most Merciful. Say: I seek refuge with (Allah) the Lord of mankind, the King of mankind , the God of mankind , from the evil of the whisperer who withdraws, who whispers in the breasts of mankind, of jinns and men.

(Recite these three times each in Arabic).

Reference: Al-Ikhlas 112:1-4. - Al-Falaq 113:1-5. - An-Nas 114:1-6 - Whoever recites these three times in the morning and in the evening, they will suffice him (as a protection) against everything. The Hadith was reported by Abu Dawud 4/322, and At-Tirmithi 5/567. See Al-Albani's Sahih At-Tirmithi 3/182.

"ุฃَุตْุจَุญْู†َุง ูˆَุฃَุตْุจَุญَ ุงู„ْู…ُู„ْูƒُ ู„ู„ู‡ِ ูˆَุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ู„ู‡ِ، ู„َุง ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„َّุง ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุญَุฏْู‡ُ ู„َุง ุดَุฑِูŠูƒَ ู„َู‡ُ، ู„َู‡ُ ุงู„ْู…ُู„ْูƒُ ูˆَู„َู‡ُ ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู„َู‰ ูƒُู„ِّ ุดَูŠْุกٍ ู‚َุฏِูŠุฑٌ، ุฑุจِّ ุฃَุณْุฃَู„ُูƒَ ุฎَูŠْุฑَ ู…َุง ูِูŠ ู‡َุฐَุง ุงู„ْูŠَูˆู…ِ ูˆَุฎَูŠْุฑَ ู…َุง ุจَุนْุฏَู‡ُ، ูˆَุฃَุนُูˆุฐُ ุจِูƒَ ู…ِู†ْ ุดَุฑِّ ู…َุง ูِูŠ ู‡َุฐَุง ุงู„ْูŠَูˆู…ِ ูˆَุดَุฑِّ ู…َุง ุจَุนْุฏَู‡ُ، ุฑَุจِّ ุฃَุนُูˆุฐُ ุจِูƒَ ู…ِู†َ ุงู„ْูƒَุณَู„ِ، ูˆَุณُูˆุกِ ุงู„ูƒِุจَุฑِ، ุฑَุจِّ ุฃَุนُูˆุฐُ ุจِูƒَ ู…ِู†ْ ุนَุฐَุงุจٍ ูِูŠ ุงู„ู†َّุงุฑِ ูˆَุนَุฐَุงุจٍ ูِูŠ ุงู„ْู‚َุจْุฑِ".

'Asbahnaa wa 'asbahal-mulku lillaahi walhamdu lillaahi, laa 'ilaaha 'illallaahu wahdahu laa shareeka lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu wa Huwa 'alaa kulli shay'in Qadeer. Rabbi 'as'aluka khayra maa fee haathal-yawmi wa khayra maa ba'dahu wa 'a'oothu bika min sharri maa fee haathal-yawmi wa sharri maa ba'dahu, Rabbi 'a'oothu bika minal-kasali, wa soo'il-kibari, Rabbi 'a'oothu bika min 'athaabin fin-naari wa 'athaabin fil-qabri.

We have entered a new day 1 and with it all dominion is Allah's. Praise is to Allah. None has the right to be worshipped but Allah alone, Who has no partner. To Allah belongs the dominion, and to Him is the praise and He is Able to do all things. My Lord, I ask You for the goodness of this day and of the days that come after it, and I seek refuge in You from the evil of this day and of the days that come after it. 2 My Lord, I seek refuge in You from laziness and helpless old age. My Lord, I seek refuge in You from the punishment of Hell-fire , and from the punishment of the grave. 3

Reference:
1 When you say this in the evening you should say 'Amsaynaa wa'amsal-mulku lillaah: "We have ended another day and with it all dominion is Allah's.
2When you say this in the evening you should say: Rabbi 'as'aluka khayra maa fee haathihil-laylati, wa khayra maa ba'dahaa, wa 'a'oothu bika min sharri maa fee haathihil-laylati wa sharri maa ba'dahaa: "I ask You for the good things of this night and of the nights that come after it and I seek refuge in You from the evil of this night and of the nights that come after it."
3Muslim 4/2088.
---

"ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุจِูƒَ ุฃَุตْุจَุญْู†َุง، ูˆَุจِูƒَ ุฃَู…ْุณَูŠْู†َุง، ูˆَุจِูƒَ ู†َุญْูŠَุง، ูˆَุจِูƒَ ู†َู…ُูˆุชُ ูˆَุฅِู„َูŠْูƒَ ุงู„ู†ُّุดُูˆุฑُ".

Allaahumma bika 'asbahnaa, wa bika 'amsaynaa, wa bika nahyaa, wa bika namootu wa 'ilaykan-nushoor.

O Allah , by You we enter the morning and by You we enter the evening, 1 by You we live and and by You we die, and to You is the Final Return.2

Reference:
1 When you say this in the evening you should say: Allaahumma bika 'amsaynaa wa bika 'asbahnaa, wa bika nahyaa, wa bika namoot, wa 'ilaykal-maseer : "O Allah, You bring us the end of the day as You bring us its beginning, You bring us life and you bring us death, and to You is our fate." 2Sahih At-Tirmithi 3/142.'
---

"ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฃَู†ْุชَ ุฑَุจِّูŠ ู„ّุง ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„َّุง ุฃَู†ْุชَ، ุฎَู„َู‚ْุชَู†ِูŠ ูˆَุฃَู†َุง ุนَุจْุฏُูƒَ، ูˆَุฃَู†َุง ุนَู„َู‰ ุนَู‡ْุฏِูƒَ ูˆَูˆَุนْุฏِูƒَ ู…َุง ุงุณْุชَุทَุนْุชَ، ุฃَุนُูˆุฐُ ุจِูƒَ ู…ِู†ْ ุดَุฑِّ ู…َุง ุตَู†َุนْุชَ، ุฃَุจُูˆุกُ ู„َูƒَ ุจِู†ِุนْู…َุชِูƒَ ุนَู„َูŠَّ، ูˆَุฃَุจُูˆุกُ ุจِุฐَู†ْุจِูŠ ูَุงุบْูِุฑ ู„ِูŠ ูَุฅِู†َّู‡ُ ู„َุง ูŠَุบْูِุฑُ ุงู„ุฐُّู†ُูˆุจَ ุฅِู„َّุง ุฃَู†ْุชَ".

Allaahumma 'Anta Rabbee laa 'ilaaha 'illaa 'Anta, khalaqtanee wa 'anaa 'abduka, wa 'anaa 'alaa 'ahdika wa wa'dika mas-tata'tu, 'a'oothu bika min sharri maa sana'tu, 'aboo'u laka bini'matika 'alayya, wa 'aboo'u bithanbee faghfir lee fa'innahu laa yaghfiruth-thunooba 'illaa 'Anta.

O Allah, You are my Lord, there is none worthy of worship but You. You created me and I am your slave. I keep Your covenant, and my pledge to You so far as I am able. I seek refuge in You from the evil of what I have done. I admit to Your blessings upon me, and I admit to my misdeeds. Forgive me, for there is none who may forgive sins but You.

Reference:
Whoever recites this with conviction in the evening and dies during that night shall enter Paradise, and whoever recites it with conviction in the morning and dies during that day shall enter Paradise, Al-Bukhari 7/150. Other reports are in An-Nasa'i and At-Tirmithi.
---

"ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฅِู†ِّูŠ ุฃَุตْุจَุญْุชُ ุฃُุดْู‡ِุฏُูƒَ ูˆَุฃُุดْู‡ِุฏُ ุญَู…َู„َุฉَ ุนَุฑْุดِูƒَ، ูˆَู…َู„َุงุฆِูƒَุชَูƒَ ูˆَุฌَู…ِูŠุนَ ุฎَู„ْู‚ِูƒَ، ุฃَู†َّูƒَ ุฃَู†ْุชَ ุงู„ู„ู‡ُ ู„َุง ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„َّุง ุฃَู†ْุชَ ูˆَุญْุฏَูƒَ ู„َุง ุดَุฑِูŠูƒَ ู„َูƒَ، ูˆَุฃَู†َّ ู…ُุญَู…َّุฏุงً ุนَุจْุฏُูƒَ ูˆَุฑَุณُูˆู„ُูƒَ".

Allaahumma 'innee 'asbahtu 'ush-hiduka wa 'ush-hidu hamalata 'arshika, wa malaa'ikataka wajamee'a khalqika, 'annaka 'Antallaahu laa 'ilaaha 'illaa 'Anta wahdaka laa shareeka laka, wa 'anna Muhammadan 'abduka wa Rasooluka.

O Allah , I have entered a new morning 1 and call upon You and upon the bearers of Your Throne , upon Your angels and all creation to bear witness that surely You are Allah , there is none worthy of worship but You alone , You have no partners, and that Muhammad is Your slave and Your Messenger . (Recite four times in Arabic.) 2

Reference:
1 When you say this in the evening you should say, Allaahumma 'innee 'amsaytu. . . .: "O Allah, I have ended another day..."
2 "Allah will spare whoever says this four times in the morning or evening from the fire of Hell, " Abu Dawud 4/317. It was also reported by Al-Bukhari in Al-'Adab Al-Mufrad, An-Nasa'i in 'Amalul-Yawm wal-Laylah and Ibn As-Sunni. Nasa'i's and Abu Dawud's chains of transmission are good (Hasan), Ibn Baz, p. 23.
---

"ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ู…َุง ุฃَุตْุจَุญَ ุจِูŠ ู…ِู†ْ ู†ِุนْู…َุฉٍ ุฃَูˆْ ุจِุฃَุญَุฏٍ ู…ِู†ْ ุฎَู„ْู‚ِูƒَ ูَู…ِู†ْูƒَ ูˆَุญْุฏَูƒَ ู„َุง ุดَุฑِูŠูƒَ ู„َูƒَ، ูَู„َูƒَ ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ูˆَู„َูƒَ ุงู„ุดُّูƒْุฑُ".

Allaahumma maa 'asbaha bee min ni'matin 'aw bi'ahadin min khalqika faminka wahdaka laa shareeka laka, falakal-hamdu wa lakash-shukru.

O Allah , whatever blessing has been received by me or anyone of Your creation (1) is from You alone , You have no partner . All praise is for you and thanks is to You. (2)

Reference:
1 When you say this in the evening, you should say: Allaahumma maa 'amsaa bee...: "O Allah, as I... enter this evening..."

2 Whoever recites this in the morning, has completed his obligation to thank Allah for that day; and whoever says it in the evening, has completed his obligation for that night. Abu Dawud 4/318, An-Nasa'i 'Amalul-Yawm wal-Laylah (no. 7), Ibn As-Sunni (no. 41), Ibn Hibban (no. 2361). Its chain of transmission is good (Hasan), Ibn Baz, p. 24.
---

ุงู„ู„ّู‡ُู€ู…َّ ุนุงูِู€ู†ูŠ ููŠ ุจَุฏَู†ู€ูŠ ، ุงู„ู„ّู‡ُู€ู…َّ ุนุงูِู€ู†ูŠ ููŠ ุณَู…ْู€ุนูŠ ، ุงู„ู„ّู‡ُู€ู…َّ ุนุงูِู€ู†ูŠ ููŠ ุจَุตَู€ุฑูŠ ، ู„ุง ุฅู„ู‡َ ุฅู„ุงّ ุฃَู†ْู€ุชَ. (ุซู„ุงุซุงً)
ุงู„ู„ّู‡ُู€ู…َّ ุฅِู†ّู€ูŠ ุฃَุนู€ูˆุฐُุจِูƒَ ู…ِู†َ ุงู„ْูƒُู€ูุฑ ، ูˆَุงู„ูَู€ู‚ْุฑ ، ูˆَุฃَุนู€ูˆุฐُุจِูƒَ ู…ِู†ْ ุนَุฐุงุจِ ุงู„ู‚َู€ุจْุฑ ، ู„ุง ุฅู„ู‡َ ุฅู„ุงّ ุฃَู†ْู€ุชَ . (ุซู„ุงุซุงً)

Allaahumma 'aafinee fee badanee, Allaahumma 'aafinee fee sam'ee, Allaahumma 'aafinee fee basaree, laa 'ilaaha 'illaa 'Anta (three times).
Allaahumma 'innee 'a'oothu bika minal-kufri, walfaqri, wa 'a'oothu bika min 'athaabil-qabri, laa 'ilaaha 'illaa 'Anta. (three times)

O Allah, make me healthy in my body. O Allah, preserve for me my hearing. O Allah, preserve for me my sight. There is none worthy of worship but You . (Recite three times in Arabic.)
O Allah , I seek refuge in You from disbelief and poverty and I seek refuge in You from the punishment of the grave . There is none worthy of worship but You. (Recite three times in Arabic.)

Reference:
Abu Dawud 4/324, Ahmad 5/42, An-Nasa'i, 'Amalul-Yawm wal-Laylah (no. 22), Ibn As-Sunni (no. 69), Al-Bukhari Al-'Adab Al-Mufrad. Its chain of transmission is good (Hasan), Ibn Baz, p. 26.
---

"ุญَุณْุจِูŠَ ุงู„ู„ู‡ُ ู„َุข ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„َّุง ู‡ُูˆَ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุชَูˆَูƒَّู„ْุชُ ูˆَู‡ُูˆَ ุฑَุจُّ ุงู„ْุนَุฑْุดِ ุงู„ْุนَุธِูŠู…ِ".

Hasbiyallaahu laa 'ilaaha 'illaa Huwa 'alayhi tawakkaltu wa Huwa Rabbul-'Arshil-'Adheem .

Allah is sufficient for me . There is none worthy of worship but Him . I have placed my trust in Him, He is Lord of the Majestic Throne . (Recite seven times in Arabic .)

Reference:
Allah will grant whoever recites this seven times in the morning or evening whatever he desires from this world or the next, Ibn As-Sunni (no. 71), Abu Dawud 4/321. Both reports are attributed directly to the Prophet j§ (Marfu1). The chain of transmission is sound (Sahih). Ibn As-Sunni.
---

"ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฅِู†ِّูŠ ุฃَุณْุฃَู„ُูƒَ ุงู„ْุนَูْูˆَ ูˆَุงู„ْุนَุงูِูŠَุฉَ ูِูŠ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูˆَุงู„ْุขุฎِุฑَุฉِ، ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฅِู†ِّูŠ ุฃَุณْุฃَู„ُูƒَ ุงู„ْุนَูْูˆَ ูˆَุงู„ْุนَุงูِูŠَุฉَ ูِูŠ ุฏِูŠู†ِูŠ ูˆَุฏُู†ْูŠَุงูŠَ ูˆَุฃَู‡ْู„ู„ِูŠ، ูˆَู…َุงู„ِูŠ، ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุงุณْุชُุฑْ ุนَูˆْุฑَุงุชِูŠ، ูˆَุขู…ِู†ْ ุฑَูˆْุนَุงุชِูŠ، ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุงุญْูَุธْู†ِูŠ ู…ِู†ْ ุจَูŠْู†ِ ูŠَุฏَูŠَّ، ูˆَู…ِู†ْ ุฎَู„ْูِูŠ، ูˆَุนَู†ْ ูŠَู…ِูŠู†ِูŠ، ูˆَุนَู†ْ ุดِู…َุงู„ِูŠ، ูˆَู…ِู†ْ ูَูˆْู‚ِูŠ، ูˆَุฃَุนُูˆุฐُ ุจِุนَุธَู…َุชِูƒَ ุฃَู†ْ ุฃُุบْุชَุงู„َ ู…ِู†ْ ุชَุญْุชِูŠ".

Allaahumma 'innee 'as'alukal-'afwa wal'aafiyata fid-dunyaa wal'aakhirati, Allaahumma 'innee 'as'alukal-'afwa wal'aafiyata fee deenee wa dunyaaya wa 'ahlee, wa maalee , Allaahum-mastur 'awraatee, wa 'aamin raw'aatee, Allaahum-mahfadhnee min bayni yadayya, wa min khalfee, wa 'an yameenee, wa 'an shimaalee, wa min fawqee, wa 'a'oothu bi'adhamatika 'an 'ughtaala min tahtee.

O Allah, I seek Your forgiveness and Your protection in this world and the next. O Allah, I seek Your forgiveness and Your protection in my religion, in my worldly affairs, in my family and in my wealth. O Allah, conceal my secrets and preserve me from anguish . O Allah , guard me from what is in front of me and behind me , from my left , and from my right , and from above me . I seek refuge in Your Greatness from being struck down from beneath me.

Reference:
Sahih Ibn Majah 2/332 and Abu Dawud.
---

"ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุนَุงู„ِู…َ ุงู„ْุบَูŠْุจِ ูˆَุงู„ุดَّู‡َุงุฏَุฉِ ูَุงุทِุฑَ ุงู„ุณَّู…ุงูˆَุงุชِ ูˆَุงู„ْุฃَุฑْุถِ، ุฑَุจَّ ูƒُู„ِّ ุดَูŠْุกٍ ูˆَู…َู„ِูŠูƒَู‡ُ، ุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†ْ ู„َุง ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„َّุง ุฃَู†ْุชَ، ุฃَุนُูˆุฐُ ุจِูƒَ ู…ِู†ْ ุดَุฑِّ ู†َูْุณِูŠ، ูˆَู…ِู†ْ ุดَุฑِّ ุงู„ุดَّูŠْุทَุงู†ِ ูˆَุดِุฑْูƒِู‡ِ، ูˆَุฃَู†ْ ุฃَู‚ْุชَุฑِูَ ุนَู„َู‰ ู†َูْุณِูŠ ุณُูˆุกุงً، ุฃَูˆْ ุฃَุฌُุฑَّู‡ُ ุฅِู„َู‰ ู…ُุณْู„ِู…ٍ".

Allaahumma 'Aalimal-ghaybi wash-shahaadati faatiras-samaawaati wal'ardhi, Rabba kulli shay'in wa maleekahu, 'ash-hadu 'an laa 'ilaaha 'illaa 'Anta, 'a'oothu bika min sharri nafsee, wa min sharrish-shaytaani wa shirkihi, wa 'an 'aqtarifa 'alaa nafsee soo'an, 'aw 'ajurrahu 'ilaa Muslimin.

O Allah, Knower of the unseen and the evident , Maker of the heavens and the earth , Lord of everything and its Possessor , I bear witness that there is none worthy of worship but You . I seek refuge in You from the evil of my soul and from the evil of Satan and his helpers . (I seek refuge in You) from bringing evil upon my soul and from harming any Muslim.

Reference:
Sahih At-Tirmithi 3/142 and AbuDawud.

"ุจِุณْู…ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุงู„َّุฐِูŠ ู„َุง ูŠَุถُุฑُّ ู…َุนَ ุงุณْู…ِู‡ِ ุดَูŠْุกٌ ูِูŠ ุงู„ْุฃَุฑْุถِ ูˆَู„َุง ูِูŠ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ ูˆَู‡ُูˆَ ุงู„ุณَّู…ِูŠุนُ ุงู„ْุนَู„ِูŠู…ُ".

 Bismillaahil-lathee laa yadhurru ma'as-mihi shay'un fil-'ardhi wa laa fis-samaa'i wa Huwas-Samee 'ul- 'Aleem .

In the Name of Allah, Who with His Name nothing can cause harm in the earth nor in the heavens, and He is the All-Hearing, the All-Knowing. (Recite three times in Arabic).

Reference:
"Whoever recites it three times in the morning will not be afflicted by any calamity before evening, and whoever recites it three times in the evening will not be overtaken by any calamity before morning." Abu Dawud 4/323, At-Tirmithi 5/465, Ibn Majah 2/332, Ahmad. Ibn Majah's chain of transmission is good (Hasan), Ibn Baz, p. 39.
----

"ุฑَุถِูŠุชُ ุจุงู„ู„ู‡ِ ุฑَุจَّุงً، ูˆَุจِุงู„ْุฅِุณْู„َุงู…ِ ุฏِูŠู†ุงً، ูˆَุจِู…ُุญَู…َّุฏٍ ุตَู„َู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„ِูŠู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู†َุจِูŠَّุงً".

Radheetu billaahi Rabban, wa bil-'Islaami deenan, wa bi-Muhammadin (sallallaahu 'alayhi wa sallama) Nabiyyan.

I am pleased with Allah as my Lord, with Islam as my religion and with Muhammad (peace and blessings of Allah be upon him) as my Prophet. (Recite three times in Arabic .)

Reference:
"Allah has promised that anyone who says this three times every morning or evening will be pleased on the Day of Resurrection." Ahmad 4/ 337, An-Nasa'i, 'Amalul-Yawm wal-Laylah p. 4, Ibn As-Sunni (no. 68), At-Tirmithi 5/465. Its chain of transmission is good (Hasan), Ibn Baz, p. 39.
---

"ูŠَุง ุญَูŠُّ ูŠَุง ู‚َูŠُّูˆู…ُ ุจِุฑَุญْู…َุชِูƒَ ุฃَุณْุชَุบِูŠุซُ ุฃَุตْู„ِุญْ ู„ِูŠ ุดَุฃْู†ِูŠ ูƒُู„َّู‡ُ ูˆَู„َุง ุชَูƒِู„ْู†ِูŠ ุฅِู„َู‰ ู†َูْุณِูŠ ุทَุฑْูَุฉَ ุนَูŠْู†ٍ".

Yaa Hayyu yaa Qayyoomu birahmatika 'astagheethu 'aslih lee sha'nee kullahu wa laa takilnee 'ilaa nafsee tarfata 'aynin.

O Ever Living One, O Eternal One, by Your mercy I call on You to set right all my affairs. Do not place me in charge of my soul even for the blinking of an eye (i.e. a moment).

Reference:
Its chain of transmission is sound (Sahih), Al-Hakim 1/545, see Albani, Sahihut-Targhib wat-Tarhib, 1/273.
Asbahnaa wa 'asbahal-mulku lillaahi Rabbil-'aalameen, Allaahumma 'innee 'as'aluka khayra haathal-yawmi: Fathahu wa nasrahu wa noorahu, wa barakatahu, wa hudaahu, wa'a'oothu bika min sharri maafeehi wa sharri maa ba'dahu.

We have entered a new day and with it all the dominion which belongs to Allah, Lord of all that exists. O Allah, I ask You for the goodness of this day, (2) its victory, its help, its light, its blessings, and its guidance. I seek refuge in You from the evil that is in it and from the evil that follows it.

Reference:
1 For evening recitation, say here: Allaahumma 'innee 'as'aluka khayra haathihil-laylati: "My Lord, I ask You for the good things of this night."
2 Abu Dawud 4/322. Its transmission chain is good (Hasan). See also Ibn Al-Qayyim, Zadul- Ma'ad 2/273.
---

"ุฃَุตْุจَุญْู†َุง ุนَู„َู‰ ูِุทْุฑَุฉِ ุงู„ْุฅِุณْู„َุงู…ِ ูˆَุนَู„َู‰ ูƒَู„ِู…َุฉِ ุงู„ْุฅِุฎْู„َุงุตِ، ูˆَุนَู„َู‰ ุฏِูŠู†ِ ู†َุจِูŠِّู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ ุตَู„َู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„ِูŠู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ، ูˆَุนَู„َู‰ ู…ِู„َّุฉِ ุฃَุจِูŠู†َุง ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠู…َ، ุญَู†ِูŠูَุงً ู…ُุณْู„ِู…ุงً ูˆَู…َุง ูƒَุงู†َ ู…ِู†َ ุงู„ْู…ُุดْุฑِูƒِูŠู†َ".
Asbahnaa 'alaa fitratil-'Islaami wa 'alaa kalimatil-'ikhlaasi, wa 'alaa deeni Nabiyyinaa Muhammadin (sallallaahu 'alayhi wa sallama), wa 'alaa millati 'abeenaa 'Ibraaheema, haneefan Musliman wa maa kaana minal-mushrikeen.

We have entered a new day (1) upon the natural religion of Islam, the word of sincere devotion, the religion of our Prophet Muhammad (peace and blessings of Allah be upon him), and the faith of our father Ibrahim. He was upright (in worshipping Allah), and a Muslim. He was not of those who worship others besides Allah. (2)

Reference:
1 When you say this in the evening, you should say: 'Amsaynaa 'alaa fitratil-'Islaam...: "We end this day..."
2 Ahmad 3/406-7, 5/123, An-Nasa'i, 'Amalul- Yawm wal-Laylah (no. 34), At-Tirmithi 4/209.
---
"ุณُุจْุญَุงู†َ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุจِุญَู…ْุฏِู‡ِ".

Subhaanallaahi wa bihamdihi.

Glory is to Allah and praise is to Him. (Recite one hundred times in Arabic ).

Reference:
"Whoever recites this one hundred times in the morning and in the evening will not be surpassed on the Day of Resurrection by anyone having done better than this except for someone who had recited it more. " Al-Bukhari 4/2071.

"ู„َุง ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„َّุง ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุญْุฏَู‡ُ ู„َุง ุดَุฑِูŠูƒَ ู„َู‡ُ، ู„َู‡ُ ุงู„ْู…ُู„ْูƒُ ูˆَู„َู‡ُ ุงู„ْุญَู…ْุฏُ، ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู„َู‰ ูƒُู„ِّ ุดَูŠْุกٍ ู‚َุฏِูŠุฑٌ".

Laa 'ilaaha 'illallaahu wahdahu laa shareeka lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu, wa Huwa 'alaa kulli shay'in Qadeer.

None has the right to be worshipped but Allah alone, Who has no partner. His is the dominion and His is the praise and He is Able to do all things . (Recite ten times (1)  in Arabic or one time to ward off laziness.) (2)

Reference:
1 Allah will write ten Hasanaat (rewards) for whoever recites this ten times in the morning, and forgive him ten misdeeds and give him the reward of freeing ten slaves and protect him from Satan. Whoever recites this ten times in the evening will get this same reward. An-Nasa'i, 'Amalul-Yawm wal-Laylah (no. 24). Its chain of transmission is sound (Sahih). Albani 1/272. Abu Hurayrah «fe narrated that the Prophet j§ said: "Allah will write one hundred Hasanat for whoever says There is no God but Allah alone, He has no partner. To Allah is possession of everything, and to Him all praise is. He is Capable of all things' ten times in the morning, and forgive him one hundred misdeeds. He will have the reward of freeing a slave and will be protected from Satan throughout the day unto dusk. Whoever says it in the evening will have the same reward." Ahmad 8/704, 16/293. Its chain of transmission is good (Hasan), Ibn Baz, p. 44.
2 Whoever recites this in the morning, will have the reward of freeing a slave from the Children of Isma'il. Ten Hasanaat (rewards) will be written for him, and he will be forgiven ten misdeeds, raised up ten degrees, and be protected from Satan until evening. Whoever says it in the evening will have the same reward until morning. Abu Dawud 4/319, 3/957, Ahmad 4/ 60, Ibn Majah 2/331, Ibn Al-Qayyim Zadul-Ma'ad 2/388. Its chain of transmission is sound (Sahih). Al-Albani 1/270.
---

"ุณُุจْุญَุงู†َ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุจِุญَู…ْุฏِู‡ِ: ุนَุฏَุฏَ ุฎَู„ْู‚ِู‡ِ، ูˆَุฑِุถَุง ู†َูْุณِู‡ِ، ูˆَุฒِู†َุฉَ ุนَุฑْุดِู‡ِ ูˆَู…ِุฏَุงุฏَ ูƒَู„ِู…َุงุชِู‡ِ".

Subhaanallaahi wa bihamdihi: 'Adada khalqihi, wa ridhaa nafsihi, wa zinata 'arshihi wa midaada kalimaatihi.

Glory is to Allah and praise is to Him, by the multitude of His creation, by His Pleasure, by the weight of His Throne, and by the extent of His Words. (Recite three times in Arabic upon rising in the morning .)

Reference:
Muslim 4/2090.
----

"ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฅู†ِّูŠ ุฃَุณْุฃَู„ُูƒَ ุนِู„ْู…ุงً ู†َุงูِุนุงً، ูˆَุฑِุฒู‚ุงً ุทَูŠِّุจุงً، ูˆَุนَู…َู„ุงً ู…ُุชَู‚َุจَّู„ุงً".

Allaahumma 'innee 'as'aluka 'ilman naafi'an, wa rizqan tayyiban, wa 'amalan mutaqabbalan.

O Allah, I ask You for knowledge that is of benefit , a good provision , and deeds that will be accepted . (Recite in Arabic upon rising in the morning.)

Reference:
Ibn As-Sunni, no. 54, Ibn Majah no. 925. Its chain of transmission is good (Hasan), Ibn Al-Qayyim 2/375.
---

"ุฃَุณْุชَุบْูِุฑُ ุงู„ู„ู‡َ ูˆَุฃَุชُูˆุจُ ุฅِู„َูŠْู‡ِ".

Astaghfirullaaha wa 'atoobu 'ilayhi.

I seek the forgiveness of Allah and repent to Him. (Recite one hundred times in Arabic during the day .)

Reference:
Al-Bukhari, cf. Al-Asqalani, Fathul-Bari 11/101, Muslim 4/2075.
---

"ุฃَุนُูˆุฐُ ุจِูƒَู„ِู…َุงุชِ ุงู„ู„ู‡ِ ุงู„ุชَّุงู…َّุงุชِ ู…ِู†ْ ุดَุฑِّ ู…َุง ุฎَู„َู‚َ".

 'A'oothu bikalimaatil-laahit-taammaati min sharri maa khalaqa.

I seek refuge in the Perfect Words of Allah from the evil of what He has created. (Recite three times in Arabic in the evening .)

Reference:
Whoever recites this three times in the evening will be protected from insect stings, Ahmad 2/ 290, An-Nasa'i, 'Amalul-Yawm wal-Laylah no. 590, At-Tirmithi 3/187, Ibn As-Sunni no. 68. According to Al-Albani, Ibn Majah's (2/266) chain of transmission is sound (Sahih), and following Ibn Baz 45, At-Tirmithi's report is good (Hasan).
--

"ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุตَู„ِّ ูˆَุณَู„َّู…ْ ุนَู„َู‰ ู†َุจِูŠِّู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ".

Allahumma salli wa sallim 'alaa nabiyyinaa Muhammadin

Oh Allah, we ask you for peace and blessings upon our prophet Muhammad (Recite ten times in Arabic)

Reference:
The prophet (peace be upon him) said: "Who recites blessings upon me 10 times in the morning and 10 times in the evening will obtain my intercession on the Day of Resurrection." At-Tabrani reported this Hadith together with two chain of transmissions. One of them is reliable (Jayyid). See Haithami's Majma' Az-Zawa'id 10/120, and Al-Albani's Sahih At-Targhib Wat-Tarhib 1/273 
Whallahu'alam..:)
http://www.islamawareness.net/Dua/Fortress/027.html

Kaidah Fiqih: Sesuatu Hukum Menjadi Sah dan Sempurna Jika Terpenuhi Syarat dan Rukunnya Serta Tidak Ada Penghalangnya




Bismillah ..

Sebagaimana telah dimaklumi, masalah fiqih terus berkembang sejalan dengan berjalannya waktu dan timbul berbagai permasalahan baru yang dialami umat.

Para ulama telah berjuang dan bekerja keras dengan memperhatikan berbagai dalil-dalil wahyu dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga bisa merumuskan berbagai kaidah untuk bisa digunakan sepanjang masa, sampaipun terhadap masalah-masalah yang belum pernah ada wujudnya pada zaman turunnya wahyu.

Dari sini diketahuilah betapa pentingnya ilmu qowa’id fiqhiyyah ini. Imam al-Qorrofi berkata, “Barang siapa yang menguasai fiqih lewat penguasaan kaidah-kaidahnya, maka dia tidak butuh untuk menghafal semua permasalahannya satu persatu karena sudah tercakup dalam keumuman kaidah tersebut.” [*]

Pada kesempatan ini akan dibahas sebuah kaidah fiqih yang cukup penting untuk dipahami dimana kaidah ini berhubungan dengan sempurnanya hukum akidah dan amal perbuatan. Kaidah ini berbunyi:

ุงู„ุฃَุญْูƒَุงู…ُ ุงู„ุนِู„ْู…ِูŠَّู‡ُ ูˆَ ุงู„ْุนَู…َู„ِูŠَّู‡ُ ู„ุงَ ุชَุชِู…ُّ ุฅِู„ุงَّ ุจِุฃَู…ْุฑَูŠْู†ِ ูˆُุฌُูˆุฏُ ุดُุฑُูˆุทِู‡َุง ูˆَ ุฃَุฑْูƒَุงู†ِู‡َุง ูˆَ ุงู†ْุชِูَุงุกُ ู…َูˆَุงู†ِุนِู‡َุง “
Semua hukum ilmu dan amal tidak sempurna kecuali dengan dua perkara: terpenuhi syarat dan rukunnya, serta tidak ada penghalangnya.”

Penjelasan ุงู„ุนِู„ْู…ِูŠَّู‡ُ (al- ilmiah) adalah hukum yang tidak berhubungan dengan amal perbuatan, yang biasa disebut oleh para ulama dengan hukum yang berhubungan dengan akidah

. ุงู„ْุนَู…َู„ِูŠَّู‡ُ (al-amaliah) adalah hukum yang berhubungan dengan amal perbuatan, baik perbuatan lisan maupun anggota badan lainnya, juga baik yang berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala saja misalnya shalat, puasa dan lainnya, maupun yang berhubungan dengan sesama, misalnya hukum jual beli, sewa menyewa, pernikahan perceraian, jihad dan lainnya.

ุดُุฑُูˆุทُู‡َุง (syarat) dalam istilah para ulama adalah sesuatu yang harus ada untuk sahnya sesuatu yang lain dan dia bukan merupakan hakikat dari sesuatu tersebut.
Contoh: bersuci adalah syarat shalat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah tidak menerima shalat seseorang tanpa bersuci.” (HR. Muslim) Maka seseorang yang mengerjakan shalat harus dalam keadaaan bersuci, karena kalau tidak maka shalatnya tidak sah, dan bersuci itu sendiri bukan merupakan hakikat shalat, karena hakikat shalat adalah ucapan dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan niat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

ุฃَุฑْูƒَุงู†ู‡َุง (rukun) adalah sesuatu yang harus ada untuk sahnya sesuatu yang lain dan dia merupakan salah satu hakikat dari sesuatu tersebut. Contoh: sujud adalah rukun shalat, maka seseorang yang shalat harus mengerjakan sujud, kalau tidak sujud maka shalatnya tidak sah, sedangkan sujud itu sendiri merupakan bagian dari hakikat shalat karena dia adalah salah satu perbuatan antara takbir dan salam.

ู…َูˆَุงู†ِุนِู‡َุง (penghalang) adalah sesuatu yang apabila terdapat pada sesuatu maka bisa mencegah atau menghalangi sahnya sesuatu tersebut. Contoh: haid adalah penghalang wanita dari mengerjakan puasa, maka kalau seseorang sedang puasa lalu keluar darah haid maka puasanya tidak sah karena adanya penghalang tersebut.

Jadi makna kaidah ini adalah semua hukum baik yang berhubungan dengan masalah ilmiah maupun amaliah tidak sah dan tidak sempurna kecuali apabila terpenuhi semua syarat dan rukunnya serta tidak terdapat penghalangnya, yang ini berarti kalau salah satu syarat dan rukun dari hukum tersebut tidak terpenuhi atau terdapat salah satu penghalangnya, maka sesuatu tersebut dihukumi tidak sah dan tidak sempurna.

Kedudukan Kaidah Ini Ini adalah sebuah kaidah yang sangat besar dan banyak manfaatnya. Dengannya akan terjawab banyak permasalahan yang dirumitkan oleh sebagian kalangan. Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Ini adalah sebuah kaidah besar yang mencakup semua hukum baik masalah ilmiah maupun amaliah.” (al-Qawa’id wa Ushul Jami’ah hal 33)

Contoh Penerapan Kaidah dalam Masalah Ilmiah Contoh Pertama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan la ilaaha illallah maka dia akan masuk surga.” (ash-Shahihah 1135)

Banyak orang yang memahami bahwa hadits ini menunjukan bahwa semua orang yang pernah mengucapkan kalimat tauhid ini maka dia akan masuk surga. Benarkah demikian secara mutlak? Jawabnya: tidak mesti, karena yang disampaikan oleh Rasulullah dalam hadits ini adalah sebuah hukum yang tidak akan terpenuhi dan sempurna kecuali dengan sempurnanya syarat dan rukunnya serta tidak ada penghalang.

Sedangkan rukun la ilaaha illallah adalah menafikan dan menetapkan yaitu menafikan semua sesembahan dan hanya menetapkannya kepada Allah saja. Sedangkan syaratnya ada tujuh macam yang tergabung dalam bait berikut ini:

ุนู„ู… ูŠู‚ูŠู† ุงุฎู„ุงุต ูˆุตุฏู‚ูƒ ู…ุน ู…ุญุจุฉ ูˆุงู†ู‚ูŠุงุฏ ูˆุงู„ู‚ุจูˆู„ ู„ู‡ุง ูˆุฒูŠุฏ ุซุงู…ู†ู‡ุง ุงู„ูƒูุฑุงู† ู…ู†ูƒ ุจِู…َุง ุณِูˆَู‰ ุงู„ุฅู„ู‡ ู…ู† ุงู„ุฃูˆุซุงู† ู‚ุฏ ุฃู„ู‡ุง
Ilmu, yakin, ikhlas dan jujur cinta, tunduk dan menerima yang ke delapan ditambah kufur dengan semua sesembahan selain Allah Maka orang yang mengucapkan la ilaaha illallah namun masih menyembah juga kepada yang lainnya, maka tauhidnya tidak sah. Begitu juga bagi yang tidak memenuhi salah satu syaratnya seperti dia tidak meyakini atau tidak menerima dengan sepenuh hati atau syarat lainnya, maka tauhidnya juga tidak sah dan sempurna.

Contoh Kedua Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah melaknat pemakan riba, yang memberi makan dengan riba, penulis akad riba dan kedua saksinya. Mereka semua sama.” (HR. Muslim) Lalu muncul pertanyaan, apakah semua orang yang pernah melakukan transaksi riba akan terlaknat sebagaimana temaktub dalam hadits mulia ini?
Jawabnya: tidak, karena kandungan hadits ini adalah sebuah hukum ilmiah dan itu butuh terpenuhi syarat rukun dan hilang penghalangnya. Maka orang yang makan harta riba, berfatwa bolehnya riba atau menjadi saksi riba bisa saja tidak terkena laknat apabila ada penghalangnya, semisal dia jahil (tidak mengetahui keharamannya) atau dia mu’awwil (menta’wil dan menganggap bahwa itu bukan riba) atau dia telah bertaubat atau amal shalih dia lebih banyak dari pada dosa ribanya atau penghalang lainnya.

Contoh Ketiga Allah berfirman: “Dan Rabb-mu berfirman, ‘Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan.’” (QS. Al-Mu’min: 60) Ada sebagian kalangan yang merumitkan ayat ini dengan mengatakan, “Dalam ayat ini Allah berjanji akan mengabulkan orang yang berdoa kepada-Nya, namun betapa banyak doa yang tidak terkabulkan?”
Maka jawabannya: yang terdapat dalam ayat ini adalah sebuah janji dari Allah dan itu tidak akan terpenuhi kecuali kalau terpenuhi syarat rukun dan hilang penghalangnya. Maka sangat bisa jadi sebuah doa tidak terkabulkan karena ada penghalangnya seperti orang yang berdoa tersebut makan dan minum dari harta yang haram. Perhatikanlah hadits dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan hanya menerima yang baik-baik saja.’” Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mukminin sebagaimana Allah memerintahkan para Rasul, “Wahai para Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mu’minun: 51)

Allah juga berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 172) Kemudian Rasulullah menyebutkan kisah seorang laki-laki yang berambut kusut penuh debu, menengadahkan tangannya ke langit sambil berkata, “Ya Rabbi, Ya Rabbi.” Namun makanannya haram.
Minumannya haram dan tumbuh dari makanan yang haram, bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan? (HR. Muslim 1015, Tirmidzi 2989, ad-Darimi 2817)

Contoh Penerapan Kaidah Dalam Masalah Amaliah Contoh Dalam Hal Ibadah Orang yang mengerjakan shalat, namun dia tidak menutup aurat, maka shalatnya tidak sah karena tidak terpenuhi salah satu syaratnya. Rasulullah bersabda, “Allah tidak menerima shalat wanita yang sudah baligh kecuali dengan penutup kepala.” (HR. Abu Dawud 628, Tirmidzi 375 dan lainnya dengan sanad shahih) Wanita yang niat puasa, tidak makan, minum dan jima’ dari mulai terbit fajar sampai terbenam matahari, namun tengah hari keluar darah nifas, maka puasanya batal karena terdapat salah satu penghalangnya.

Dan ini dengan kesepakatan para ulama karena hukum nifas dalam masalah ini sama dengan haid. Orang yang berangkat haji namun tidak wukuf di padang Arafah, maka hajinya batal karena tidak terdapat salah satu rukunnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Haji itu wukuf di Arafah.” (HR. Bukhari Muslim)

Contoh Dalam Hal Muamalah Orang yang bertransaksi akan mengadakan akad jual beli, namun ternyata barang yang dijual tidak ada, maka jual beli tersebut tidak sah karena tidak ada salah satu rukunnya. Ada orang yang menyewakan rumah dengan harga satu juta pertahun, namun rumah itu bukan rumahnya sendiri dan juga dia bukan orang yang diberi wewenang oleh yang punya, maka meskipun ada yang menyepakati transaksi itu, maka sewa menyewa itu tetap batal karena tidak terdapat salah satu syarat sewa menyewa yaitu barang yang disewakan milik dia sendiri atau dia mewakili empunya. Seorang muslim wafat meninggalkan anak kafir, maka meskipun dia anak kandungnya sendiri, namun tidak mendapatkan warisan karena ada penghalangnya yaitu kekafiran si anak

 Berdasarkan hadits dari Usamah bin Zaid berkata Rasulullah bersabda, “Orang muslim tidak mewarisi orang kafir, begitu juga orang kafir tidak mewarisi orang muslim.” (HR. Bukhari Muslim)

Wallahu a’lam
-------------------------


                                                                ***
[*] Al-Furuq al-Qorrofi 2/115.

Sumber:
Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf, Majalah al-Furqon Edisi 10 th VII 1429H/

Banner

28 September 2012

christian tatelu




Apakah Yesus Dulu Menikah?

21 September 2012




Sebuah fragmen yang sebelumnya tidak diketahui, yang merupakan bagian dari papirus kuno yang ditulis pada masa Koptik Mesir kuno, mencantum kata-kata "Yesus berkata kepada mereka, istriku...". Temuan itu tampaknya akan memperbarui perdebatan sengit di kalangan Kristen soal apakah Yesus dahulu menikah.

Keberadaan fragmen dari abad keempat itu, yang tidak lebih besar dari sebuah kartu nama, terungkap pada konferensi di Roma, Selasa (18/9/2012), oleh Karen King, seorang Hollis Profesor of Divinity di Harvard Divinity School di Cambridge, Massachusetts.

"Tradisi Kristen telah lama berpendapat bahwa Yesus tidak menikah walau tidak ada bukti sejarah memadai yang tersedia untuk mendukung klaim tersebut," kata King dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan Harvard.

"Injil baru ini (memang) tidak membuktikan bahwa Yesus menikah, tetapi hal itu memberi tahu kita bahwa seluruh pertanyaan hanya muncul sebagai bagian dari perdebatan yang riuh tentang seksualitas dan perkawinan."

Terlepas dari penegasan Gereja Katolik bahwa Yesus tidak menikah, soal itu muncul kembali secara teratur, terutama dengan publikasi novel The Da Vinci Code karya Dan Brown yang menjadi best seller tahun 2003, yang membuat marah banyak orang Kristen karena kisah novel itu didasarkan pada gagasan bahwa Yesus menikah dengan Maria Magdalena dan punya sejumlah anak.

King mengatakan, fragmen itu, yang diungkap pada Kongres Internasional Kesepuluh Studi Koptik, memberikan bukti pertama bahwa sejumlah orang Kristen perdana percaya bahwa Yesus menikah.

Roger Bagnall, Direktur Institut untuk Studi Dunia Kuno di New York, mengatakan, dirnya yakin fragmen itu, yang oleh King disebut sebagai "Injil tentang Istri Yesus", otentik.

Namun, pemeriksaan lebih lanjut akan dilakukan para ahli, serta pengujian tambahan terhadap fragmen papirus itu, yang dilukiskan berwarna kuning kecoklatan dan sudah compang-camping.

Fragmen tersebut milik seorang kolektor pribadi anonim yang telah menghubungi King untuk membantu menerjemahkan dan menganalisanya. Fragmen itu diperkirakan ditemukan di Mesir atau mungkin Suriah.

King mengatakan, hingga sebelum tahun 200 Masehi tidak ada klaim yang kemudian mulai muncul ke permukaan, melalui seorang teolog yang dikenal sebagai Clement dari Alexandria, bahwa Yesus tidak menikah.

"Fragmen ini menunjukkan bahwa orang-orang Kristen lainnya dari periode itu mengklaim bahwa Ia (Yesus) sudah menikah, tetapi tidak memberikan bukti nyata tentang pernikahan itu," katanya.

"Tradisi Kristen hanya melestarikan suara-suara yang menyatakan Yesus tidak pernah menikah. 'Injil tentang Istri Yesus' sekarang menunjukkan bahwa sejumlah orang Kristen berpikir sebaliknya."
Baca : Nyonya Yesus
Analisa King tentang fragmen itu akan dipublikasikan dalam Harvard Theological Review edisi Januari 2013. Dia telah mem-posting draf makalahnya itu dan foto-foto fragmen tersebut di situs Harvard Divinity School.



-----------------------

Sumber :
Sydney Morning Herald, Reuters


Nyonya Yesus

Apakah sejarah sudah salah selama 200 tahun  apa ada Nyonya Yesus Kristus? Di, “Kuburan Keluarga Yesus,” (Film dokumenter televisi Discovery Channel) sutradara Simcha Jacobovici mengklaim ada “bukti-bukti” bahwa Yesus dan Maria Magdalena menikah dan punya anak bernama Yudas (Yudah).
(Untuk membaca apa yang dikatakan para ahli tentang “bukti” Jacobovici lihat artikel Kuburan Keluarga Yesus ).
Jacobovici bukanlah orang pertama yang mengemukakan kemungkinan hubungan romantis antara Yesus dengan Maria. Film, The Last Temptation of Christ, dan buku-buku seperti Holy Blood, Holy Grail, dan The Da Vinci Code, menjadikan hubungan rahasia antara Yesus dengan Maria sebagai pusat tema ceritanya.
The Da Vinci Code memulai dengan satu halaman fakta-fakta yang membuat novel fiksi itu kelihatannya benar dalam seluruh penilaiannya. Buku itu telah mematahkan seluruh rekor di daftar penjualan terlaris New York Times, dan diikuti dengan film yang berhasil (secara komersial). Pengarang Dan Brown dengan pandai mencampur fakta dengan fiksi dan berhasil meyakinkan banyak pembaca bahwa Yesus dan Maria Magdalena benar-benar menikah dan punya anak . Tapi apakah pernyataan romantis ini cuma cara melebih-lebihkan untuk menjual buku, atau memang didukung oleh bukti sejarah.

Maria Yang Misterius

Sebelum kita meneliti bukti-bukti kemungkinan hubungan romantis antara Yesus dengan Maria, mari kita lihat pribadi Maria yang berasal dari kota kecil Galilea, Magdala. Untuk memulainya, kita mengajukan pertanyaan, dokumen kuno apa yang bisa menguak karakternya (Maria) dan hubungannya dengan Yesus dari Nazareth?
Injil di Perjanjian Baru merupakan caatan tertulis paling tua mengenai Maria Magdalena. Dalam Injil, Maria adalah seorang perempuan yang disembuhkan Yesus dari kerasukan setan. Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) memperlihatkan Maria sebagai pengikut Yesus, yang mendengarkan pengajaranNya, melayani kebutuhan finansialNya, menyaksikan penyalibanNya, dan tiga hari kemudian jadi orang pertama yang melihat Dia hidup.
Beberapa orang mengatakan Maria Magdalena pernah jadi pelacur, tapi para rasul dan juga gereja purba mengungkapkan dia tidak lebih dari murid, yang dekat, Yesus. Ide bahwa dia pelacur berasal dari abad ke enam, ketika Paus Gregory I mengidentifikasi dia sebagai perempuan yang berbicara di Lukas 7:37, dan perempuan yang mencuci kaki Yesus dengan rambutnya.
Kendati pandangan Paus mungkin dipengaruhi oleh fakta bahwa Yesus telah menghardik keluar tujuh iblis dari tubuhnya, tidak ada ahli alkitab yang bisa membuat hubungan antara Maria Magdalena dengan perempuan di tulisan Lukas. Tambahan lagi, Injil Perjanjian Baru bahkan tidak pernah mengungkap hal romantis atau seksual antara Yesus dengan Maria.

Tulang-belulang Yesus Ditemukan?

Kuburan Keluarga Yesus:

Fakta atau fiksi?

Apa benar kuburan Yesus Kristus ditemukan di pinggiran Yerusalem, Talpiot?
Televisi Discovery Channel, 1997, produser James Cameron (The Titanic) dan sutradara Yahudi, Simcha Jacobovici, mencoba membuktikan gua kuburan Yesus dan tulang-tulangNya ditemukan di dekat Yerusalem. Cameron dan Jacobovici menyebutkan ada bukti Yesus mempunyai anak dengan Maria Magdalena.
Jika kuburan Yesus benar-benar ditemukan, maka seluruh sejarah KeKristenan didasarkan pada klaim yang salah —- bahwa Yesus secara fisik bangkit dari kematian, dilihat hidup oleh lebih dari 500 pengikutnya, selama 40 hari mengajar para murid, dan kemudian terangkat ke surga. Tapi sebelum kita terperangkap dalam konspirasi sejenis Da Vinci, mari kita lihat fakta-fakta dari klaim Cameron.

Fakta-fakta yang diklaim:

1. Tahun 1980 sebuah kotak batu, yang berisi tulang-belulang, bertarik abad pertama, ditemukan di pinggiran Yerusalem, Talpiot.
2. Enam inskripsi ditemukan dengan nama-nama yang mirip dengan nama beberapa keluarga Yesus dan para murid:
  • Yesua, anak Yusuf,
  • Mary
  • Mariamene e Mara
  • Matius
  • Yofa
  • Yudas, anak Yesua.
3.  Cameron berusaha membuktikan Mariamene e Mara adalah Maria Magdalena, dan dia bersama Yesus mempunyai anak bernama “Yudas, anak Yesua.”
4.  Analisa DNA mengidentifikasikan jariangan dari kotak batu Yesua dan Mariamene e Mara bukan keluarga, memperkuat kemungkinan mereka mungkin telah menikah dan mempunyai anak.

Menundukkan Pandangan

2 September 2012




Bismillah ..

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya.. Amma Ba’du:

Di antara fitnah yang sering dihadapai oleh seorang pria dalam kehidupan ini adalah fitnah memandang kepada wanita (yang bukan mahromnya) dan fitnah ini ditemuinya di pasar, di jalan-jalan, di tempat-tempat umum, di majalah dan koran-koran serta tempat-tempat lainnya. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim  di dalam kitab shahihnya dari Usamah bin Zaid RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Aku tidak meninggalkan suatu fitnah sepeninggalku yang lebih bahaya terhadap lelaki dari fitnah wanita”.  

Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Sa’id Al-Khudri bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Sesungguhnya dunia ini sangat manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai pemimpin di dalamnya, maka takutlah kepada dunia ini, dan takutlah kepada wanita sebab fitnah pertama yang terjadi pada kaum Bani Isra’il adalah fitnah wanita”. 

Di antara perkara yang bisa membantu seseorang agar terhindar dari fitnah wanita adalah: 

Pertama: Mempelajari nash-nash Al-Qur’an yang memerintahkan seorang mu’min untuk selalu menjaga pandangan dan mengharamkan pandangan yang bebas. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: 

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". (QS. Al-Nur: 30)

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Ibnu Abbas RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Telah ditetapkan bagiannya bagi Anak Adam dari zina, dia pasti akan mendapatkannya, zina mata adalah memandang, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lisan adalah berbicara, zina tangan adalah memegang, zina kaki adalah melangkah sementara hati ingin dan berangan-angan lalu hal tersebut  dibenarkan oleh hati atau didustakannya”. 

Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Jarir bin Abdullah berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam tentang pandangan yang terjadi secara tiba-tiba maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam memerintahkanku untuk memalingkan pandanganku”. 

Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam sunannya dari Ibnu Buraidah dari bapaknya berkata: Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ali, “Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti suatu pandangan dengan pandangan yang lain, sesungguhnya bagimu yang pertama dan bukan bagimu padangan yang selanjutnya”. 

Kedua: Seorang hamba menghadirkan di dalam dirinya bahwa Allah melihatnya, dan Allah mengetahuinya agar dia malu kepada -Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: 

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya. (QS. Qaf: 16)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: 
Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.  (QS. Ghafir: 19)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: 
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Isro’: 36).

Disebutkan di dalam sebuah hadits pilihan dari Sa’id bin Zaid bahwa seorang lelaki berkata kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam: Berikanlah kepadaku suatu wasiat!. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku berwasiat kepadamu agar engkau malu terhadap Allah sebagaimana dirimu malu terhadap seorang yang shaleh di tengah-tengah kaummu”. 

Ketiga: Hendaklah seorang hamba mengingat akan kesaksian matanya terhadap keburukan dirinya pada hari kiamat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Fushshilat: 20)

Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Anas RA berkata: Kami berada di sisi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau tertawa dan bersabda, “Apakah kalian mengetahui kenapa saya tertawa?. Anas berkata: Kami menjawab: Allah dan Rasul -Nya yang lebih mengetahui. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku tertawa karena komunikasi seorang hamba dengan Tuhanya, dia berkata: Ya Allah Tuhanku, tidakkah engkau telah menjagaku dari kezaliman?. Rasulullah bersabda: Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Benar”. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya aku tidak membolehkan terhadap diriku kecuali saksi dari diriku. 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Cukuplah pada hari ini bahwa dirimu sebagai saksi dan malaikat penulis sebagai saksi, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Maka mulutnya pun ditutup, lalu dikatakan  bagi anggota tubuhnya: Berbicaralah. 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maka anggota badannya pun berbicara membuka tentang semua amal yang pernah dilakukannya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Lalu dia dibiarkan antara dirinya dan kesaksian tersebut. Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Maka lelaki tersebut berkata: Menjauhlah kalian dan pergilah, apakah tentang kalian aku berbantah-bantahan”. 

Keempat: Seorang hamba harus menghadirkan manfaat dan buah dari menundukkan pandangan. Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata tentang manfaat menundukkan pandangan: Di antara manfaat manundukkan pandangan adalah: 

a. Menundukkan pandangan adalah bentuk ketaatan terhadap perintah Allah. Di mana padanyalah puncak kebahagian seorang hamba di dalam hidupnya di dunia dan akherat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: 

Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (QS. Al-Ahzab: 71)

b. Menundukan pandangan akan menghalangi sampainya sasaran panah beracun yang menembus hatinya dan bisa jadi dengan hal itu dia binasa. 

Seorang penyair pernah berkata: 
Banyak pandangan yang menghancurkan hati pemiliknya
Seperti membunuhnya panah, padahal dia tanpa busur dan tali

c. Menundukkan pandangan akan melahirkan kesenangan di dalam hati, kelapangan dada dan kelezatan yang melebihi kesenangan yang muncul akibat memandang, hal itu terwujud dengan meunndukkan musuhnya dengan cara menentang kehendak hawa nafsu.  Diriwyatkan oleh Imam Ahmad di dalam musnadnya dari Abi Qotadah dan Abi Dahma bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah kecuali Allah akan menggantikan bagimu dengan sesuatu yang lebih baik darinya”. 

d. Menundukkan pandangan akan mendatangkan cahaya bagi hati, sebagaimana melepaskan pandangan akan menyebabkan kegelapan bagi hati, oleh karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan ayat tentang cahaya setelah perintah untuk menundukkan pandangan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: 

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. (QS. Al-Nur: 35)

Maksudnya adalah perumpamaan cahaya Allah di dalam hati hamba -Nya yang menejalankan perintah -Nya dan menjauhi larangan -Nya, lalu apabila hati telah terang benderang maka kebaikan akan datang kepadanya dari segala penjuru sebgaimana saat hati itu menghitam maka kabut bencana dan keburukan akan menghampirinya dari segala arah”. 

Kelima: Menikah adalah obat yang paling manjur dan bermanfaat dalam menanggulangi masalah ini. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu maka hendaklah dia menikah, sebab hal itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan”. 

Dan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah dari dampak negatif yang ditimbulkan oleh pandangan yang membawa kepada keburukan. Diriwyatkan oleh Al-Bukahri di dalam kitab Al-Adabul Mufrod dari hadits Syakl bin Humaid RA bahwa dia berkata: Aku berkata wahai Rasulullah ajarkanlah kepada diriku sebuah do’a yang bisa bermanfaat bagiku. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Katakanlah: 

Ya Allah lindungilah diriku dari kejahatan pendengaranku, pengelihatanku, lisanku, hatiku dan keburukan maniku”. 

Sabda Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam: “Dan pengelihatanku”. Agar aku tidak memandang kepada yang haram. Di dalam hadits ini dijelaskan tentang disyari’atkannya berlindung kepada Allah Ta’ala agar kita dijauhkan dari kejahatan pendengaran, pengelihatan, lisan dan hati serta mani, sebab semua indra ini diciptakan oleh Allah dalam rangka ketaatan. 

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.
-----

[2] HR. Muslim: no: 2742
[3] HR. Muslim: no: 2657 dan Al-bukhari:  no: 6243
[4] HR. Muslim: no: 2459
[5] Sunan Abu Dawud no: 2149
[6] Al-Ahadits Al-Mukhatarah: 3/299 no: 1099 dan dishahihkan oleh Albani di dalam kitab shahihul jami’us shagir: 1/498 no: 2541
[7] HR. Muslim di dalam kitab shahihnya: no: 2969
[8] Al-Jawabul kafi liman sa’ala anil dawa’is syafi. Halaman: 158
[9] Musnad Imam Ahmad: 5/363
[10] Al-Jawabul kafi liman sa’ala anil dawa’is syafi. Halaman: 158
[11] HR. Muslim:  no: 1400 dan Al-Bukhari: no: 5066
[12] Al-Bukhari: 663 dan ABU Dawud no: 1551 dan dishahihkan oleh Albani di dalam kitab shahih ababul mufrod
[13] As-Syarhul mumti’: 4/22

revival of Islamic faith foundation

Sejarah

 

© Copyright revival of Islamic faith foundation 2012 | Design by Atmadeeva Keiza | Published by Borneo Templates | Modified by Blogger Tutorials.