Revival Of Islamic Faith Foundation
News Update :

Kajian

Bantahan

Fiqih

Penghalang Mendapat Kebenaran

9 Januari 2013



Penghalang Mendapat Kebenaran
Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala semata, shalawat dalam salam semoga selalu tercurah kepada Nabi yang tidak ada nabi sesudahnya.
Ini adalah sebelas penghalang manusia menerima kebenaran, siapa yang mengetahuinya ia bisa menolaknya dan siapa yang tidak mengetahuinya ia mengikutinya.
Penghalang pertama: sombong. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Aku memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak berfirman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tak mau menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya. (QS. al-A’raf:146)
Contoh penjelasan di atas: 
Contoh pertama: Iblis. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Lalu seluruh malaikat-malaikat itu sujud semuanya * Kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir. (QS. Shaad:73-74)
Contoh kedua: Yahudi. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh. (QS. Al-Baqarah: 87)
Contoh ketiga: orang-orang musyrik. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka:"Laa ilaaha illallah" (Tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. (QS. ash-Shaaffat:35)
Contoh Keempat: Walid. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, (QS. al-Mudatstsir:23)
Contoh Kelima: orang kafir dan ahli bid’ah, mereka memperdebatkan al-Qur`an karena sombong. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkah hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah.Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Ghafir :56)
Penghalang kedua: iri dengki. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya.. (QS. an-Nisa`:54)
Contoh penjelasan di atas.
Contoh pertama: Iblis. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
   
Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada malaikat:"Sujudlah kamu semua kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata:"Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah" * ia (iblis) berkata:"Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil". (QS. al-Isra`:61-62)
Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Allah berfirman:"Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu". Menjawab iblis:"Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". (QS. Al-A’raaf:12)
Contoh kedua: Yahudi. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguh-Nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 2:109)
Contoh Ketiga: Qabil. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain(Qabil). Ia berkata (Qabil):"Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil:"Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa". (QS. al-Maidah:27)
Penghalang Ketiga: mengikuti hawa nafsu. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). (QS. 28:50)

Contoh penjelasan di atas:
Contoh pertama: seorang ulama bani Israel. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. * Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah,. (QS. Al-A’raaf:175-176)
Contoh Kedua: orang-orang musyrik. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya (QS. Al-Jatsiyah:23)
...dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi:28)
Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu binasa". (QS. Thaha:16)
Penghalang keempat: pengagungan dan panatisme terhadap makhluk, bukan terhadap kebenaran. Contoh-contohnya adalah:

Contoh pertama: pengagungan dan panatisme terhadap seseorang. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Apabila dikatakan kepada mereka:"Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab:"Cukuplah untuk kami apa yang kamu dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuki (QS. al-Maidah:104)
Mereka mengikuti jejak para leluhur, bukan mengikuti para nabi. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. *Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu. * Dan sesungguhnya telah sesat sebelumm mereka (Quraisy) sebagian besar dari orang-orang yang dahulu, (QS. ash-Shaffat:69-71)
Jika para leluhur melakukan perbuatan keji, anak cucu juga melakukan yang sama. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata:"Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya. Katakanlah:"Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji". Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS. al-A’raf:28)
Dan jika para leluhur melakukan perbuatan syirik, anak cucu juga melakukan hal yang sama. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya:"Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?" * Mereka menjawab:"Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya". (QS. al-Anbiya`:52-53)
Maka apa saja yang dilakukan oleh leluhur, dilakukan pula oleh para keturunan. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Mereka menjawab:"(bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian". (QS. asy-Syu’ara:74)
Contoh kedua: panatik terhadap ulama. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, (QS. at-Taubah:31)
Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dan mereka berkata:"Ya Rabb Kami, sesungguhnya kami telah menta'ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). (QS. 33:67)
Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar". (QS. al-Ahzaab:67-68)
Contoh ketiga: panatik terhadap makhluk bukan terhadap kebenaran, seperti panatik terhadap mazhab atau negeri atau keturunan atau warna atau bahasa.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 
“Barangsiapa yang berperang di bawah bendera kebutaan, yaitu marah karena kekerabatan, atau mengajak kepada kekerabatan, atau menolong karena kekerabatan, lalu ia terbunuh maka ia terbunuh secara jahiliyah.” HR. Muslim. 
Dan dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Kami berada dalam satu peperangan, lalu seorang laki-laki dari kalangan muhajirin memukul pantat seseorang dari kalangan anshar. Maka orang anshar tersebut berkata:

‘Wahai orang-orang anshar.’ Dan orang muhajirin berseru: ‘Wahai orang-orang muhajirin.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar hal itu seraya bersabda: ‘Kenapa ada panggilan jahiliyah? Mereka menjawab: ‘Seorang laki-laki dari kaum muhajirin memukup pantat laki dari kaum anshar.’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Biarkanlah, sesungguhnya ia sesuatu yang busuk.”  HR. Al-Bukhari no. 4622
Penghalang kelima: Merasa mulia dan angkuh. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: 
Dan apabila dikatakan kepadanya:"Bertaqwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. (QS. 2:206)
Penghalang keenam: hamiyyah.
Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah (QS. al-Fath:26)
Penghalang ketujuh: nifaq. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Apabila dikatakan kepada mereka:"Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS. 4:61)
Penghalang kedelapan: marah. 
Dari Sulaiman bin Syard radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata: dua orang laki-laki saling mencela di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kami sedang duduk di sisi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, salah seorang dari keduanya mencela temannya sambil marah dan mukanya sudah merah padam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimah yang jikalau ia mengatakannya niscaya hilang kemarahan darinya, jika ia membaca: ‘Aku berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari gangguan syetan yang terkutuk.’ Mereka berkata kepada laki-laki tersebut: ‘Apakah engkau tidak mendengar apa yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Ia menjawab: ‘Sesungguhnya aku bukan orang gila.’HR. al-Bukhari.
Penghalang ke sembilan: teman. 
Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata:"Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. * Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku). (QS. Al-Furqan:27-28)
Penghalang  kesepuluh:  khawatir kehilangan kekuasaan, kedudukan dan pengikut. 
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu mengabarkan kepadanya bahwa Heraclius berkata: ‘Sungguh aku sudah mengetahui bahwa ia (nabi akhir zaman) pasti akan muncul namun aku tidak pernah menduga bahwa ia berasal dari golonganmu. Maka jika aku mengetahui bahwa bisa sampai kepadanya niscaya aku berusaha untuk menemuinya. 
Jika aku berada di sisinya niscaya aku membersihkan kedua kakinya. Lalu ia memanggil para pembesar Romawi di tempat peribadatannya di Aleppo. Kemudian ia menyuruh pintu di tutup kemudian ia berpidato: ‘Wahai semua bangsa Romawi, maukah kalian mendapat keberuntungan dan petunjuk, dan kerajaanmu tetap langgeng, maka kamu membai’at nabi ini.’ 
Lalu mereka berdesakan menuju pintu, ternyata pintu sudah dikunci. Maka tatkala ia melihat berlarinya mereka dan tidak mau beriman, ia berkata: ‘Kembalikan mereka kepadaku dan berkata: Sesungguhnya aku mengatakan hal ini untuk menguji kesungguhan kalian terhadap agama kalian, sungguh aku telah melihat hal itu, lalu mereka sujud kepadanya dan ridha terhadapnya. Maka itulah akhir berita Heraclius. 
Penghalang Kesebelas: Perasaan
Dari Ibnu Syihab, ia berkata, Sa’id bin Musayyab mengabarkan kepadanya dari bapaknya,  ia menceritakan bahwa tatkala Abu Thalib hampir meninggal dunia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepadanya ternyata di sampingnya ada Abu Jahal bin Hisyam dan Abdullah bin Abu Umayyah bin Mughirah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Thalib: Wahai pamanku, ucapkanlah ‘laa ilaaha illallah’ kalimat yang aku bersaksi dengannya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Abu Jahal dan  Abdullah bin Abi Umayyah berkata: Apakah engkau membenci agama Abdul Muthalib?

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menawarkan hal itu kepadanya dan keduanya mengulangi kalimat tersebut, hingga akhirnya Abu Thalib berkata di akhir ucapannya bahwa ia tetap di atas agama Abdul Muthalib dan enggan mengucapkan ‘laa ilaaha illallah’.
Semoga shalawat selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Keteladanan Salafusshalih (khotbah)




Keteladanan Salafusshalih
~Syaikh Husain bin AbdulAziz Alu Syaikh

Khutbah pertama
Segala puji hanya untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla yang telah memuliakan tauhid beserta para pembela dan pengusungnya, menghinakan perbuatan syirik serta para pelakunya. Saya bersaksi bahwasannya tidak ada ilah yang berhak di sembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla, tidak ada sekutu baginya. 
Dan saya juga bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad  Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan Allah Shubhanahu wa ta’alla. Sholawat serta salam dan keberkahan semoga selalu tercurah kepada beliau, keluarga serta para sahabatnya.
Allah Shubhanahu wa ta’alla Ta'ala berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar".  (QS al-Ahzaab: 70-71).

Kaum muslimin…
Pada saat ini, begitu terasa ujian yang sedang menimpa umat, cobaan yang di bebankan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla kepada umat ini, semakin hari semakin bertambah, dan terus bertambah musibah yang di alami oleh saudara kita sesama muslim di belahan barat dan timur, yang sudah tidak asing lagi di kalangan kita semua. 
Saudaraku seakidah…
Sesungguhnya umat Islam -dan umat ini sedang dalam ujian serta fitnah yang sangat besar- sangat membutuhkan kepada pemahaman sempurna terhadap sejarah kemulian para pendahulu kita salafus shalih radhiyallahu 'anhum, sebuah potret sejarah yang mengandung kejayaan umat, mengantarkan perjalanan hidup di atas manhaj yang benar dan petunjuk yang lurus. 
Sungguh sebuah sejarah yang penuh dengan pelajaran, yang mengenyangkan jiwa, memperbaiki perilaku, menyinari akal, memberi pelajaran dan ibroh, yang mampu memompa semangat serta menguatkan cita-cita, dan memecut keinginan. Sejarah untuk di ambil sebagai pelajaran oleh umat, guna mempersiapkan diri meraih kembali puncak-puncak kejayaan, menilik tempat-tempat yang bisa mendatangkan pertolongan Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan pendorong kekukuhan umat.
Saudaraku kaum muslimin…
Pada zaman Umar al-Faruq radhiyallahu 'anhu, seorang khalifah yang Rasyid (mendapat petunjuk), penaklukan demi penaklukan negeri kafir terus berlanjut, sebuah kepemimpinan yang mengantarkan kepada kebahagian dan kesejahteraan umat manusia, serta ketentraman pada setiap lini kehidupan.
Diantara sekian banyak penaklukan yang dapat di capai oleh kaum muslimin pada saat itu adalah di taklukannya negeri Syam, yang masuk padanya dapat direbutnya kota al-Quds dari tangan penjajah, sebuah penaklukan yang memiliki peran penting dalam barisan umat. Sedangkan penaklukan itu sendiri, terjadi pada tahun ke enam belas Hijriyah.

Kaum muslimin rakhimakumullah…
Sungguh dengan di taklukannya kota ini, di dalamnya membawa sebuah pelajaran yang sangat agung serta ibroh yang mulia bagi kita semua, di antara pelajaran yang dapat kita petik dari penaklukan ini yaitu; Bahwa suatu keharusan bagi kaum muslimin adalah mempunyai rasa percaya diri yang tinggi serta merasa lebih mulia dengan agamanya, percaya kepada Rabbnya. 
Dengan tidak mengeyampingkan ajaran tauhid, bertawakal kepada -Nya, menyerahkan segala usaha dan upaya guna meraih ketakwaan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan tunduk didalam bingkai ketaatan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam. Maka, inilah kaidah dan pondasi yang bisa mengantarkan kepada kemuliaan dan kejayaan umat, inti dari sarana untuk meraih pertolongan -Nya, serta segera di angkatnya bencana dan ujian serta ditolaknya segala bentuk fitnah.
Di kisahkan dalam sejarah, Setelah berhasil menguasai negeri ini dan kedudukannya berubah menjadi di bawah kekuasaan Umar radhiyallahu 'anhu, maka beliau memerintahkan Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhum 'ala Shohabah 'ajma'in, untuk ekspedisi menaklukan negeri berikutnya, dan sebelumnya beliau memberikan surat wasiat kepadanya, yang isinya antara lain; Amma Ba'du: 
"Saya jadikan dirimu sebagai panglima dalam ekspedisi ini, maka laksanakan perintah ini, berangkatlah ke Qoisaariyah, mintalah pertolongan hanya kepada Allah Azza wa jalla dan perbanyaknya mengucapkan; 'Laa haula walaa quwata ilaa billahil 'Aliyil 'Adhim' (Tiada daya dan upaya melainkan dari Allah Shubhanahu wa ta’alla yang Maha Tinggi lagi Maha Agung)."
Dan para Sahabat, mereka adalah orang-orang yang sangat paham betul dengan makna kalimat  yang terkandung didalamnya. Di antara kelanjutan wasiat beliau adalah; 'Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah satu-satunya Rabb kita, kita serahkan segala urusannya hanya kepada -Nya, tempat untuk mengharap dan mengadu, dan -Dia lah sebaik-baik tempat mengadu dan meminta pertolongan".  Maka Mu'awiyah pun berangkat –Sembari membawa makna yang sangat agung ini dari wasiat-wasiat Umar – yang pada akhirnya Allah Shubhanahu wa ta’alla memenangkan mereka dan dapat menguasai negeri tersebut.
Tatkala Umar mengunjungi kota Syam, di saat penaklukan-penaklukan ini sedang terjadi, dalam keadaan naik keledainya dan kedua kakinya berada di satu sisi, Abu Ubaidah radhiyallahu 'anhu berkata kepadanya: 
"Wahai Amirul mu'minin, sekarang engkau akan bertemu dengan para pembesar Romawi". Maka terucaplah dari Umar sebuah ucapan yang sangat mashur: "Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla telah memuliakan kalian dengan Islam, kalau sekiranya kalian berusaha untuk mencari kemulian dari selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, maka -Dia pasti akan menghinakan kalian". Kemudian beliau berkhutbah dengan khutbah yang ringkas namun sangat agung isinya, yang kaya makna dan petuah, di antara isi khutbahnya adalah: 
"Barangsiapa di antara kalian yang merasa senang dengan kebaikannya, dan merasa sedih dengan kejelekannya, maka di adalah seorang mukmin". Sebuah kalimat yang harus menjadi pegangan hidup dalam masyarakat muslim.
Di antara sikap Umar al-Faruq radhiyallahau 'ahu yang ada pada saat itu, yaitu menulis surat kepada Abu Ubaidah untuk berangkat jihad di tengah-tengah penaklukan-penaklukan tersebut, seraya berkata: "Keselamatan semoga tercurah atas kalian, sesungguhnya saya memuji kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla baik dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan, dan saya peringatkan kalian semua dari perbuatan maksiat kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla Ta'ala, saya juga peringatkan dan melarang kalian agar jangan sampai menjadi orang-orang yang tersirat dalam firman -Nya:
"Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, sanak keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul -Nya dan dari berjihad di jalan -Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan -Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik."  (QS at-Taubah: 24).
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada penutup para Nabi dan Imamnya para utusan. Alhamdulillahi rabil 'alaimin".
Sebuah wasiat yang ringkas namun penuh makna. Maka tatkala surat ini di bacakan di hadapan kaum muslimin, tidak ada seorang pun melainkan meneteskan air matanya karena menangis.
Beliau juga pernah menulis sebuah wasiat kepada Sa'ad bin Abi Waqash radhiyallahu 'anhu dan orang-orang yang bersama dia dari pasukan yang ada, beliau mengatakan: "Amma Ba'du; Sesungguhnya saya menyuruh kepadamu serta orang-orang yang ada di sekelilingmu dari para pasukan agar senantiasa bertakwa kepada Allah Azza wa jalla pada setiap keadaan, karena sesungguhnya ketakwaan kepada -Nya merupakan sebaik-baik benteng untuk melawan musuh, dan tameng yang paling kuat di dalam peperangan. Dan saya juga memerintahkan kepadamu dan orang-orang yang ada, dari para pasukan, agar menjadi orang-orang yang sangat berhati-hati dengan perkara maksiat, melebihi sikap kehati-hatian kalian dari serangan musuh, sesungguhnya dosa-dosa yang di lakukan oleh pasukan lebih saya takuti atas kalian dari pada musuh-musuhmu, (ketahuilah) hanya saja kaum muslimin di tolong oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla di karenakan perbuatan maksiat yang di lakukan oleh musuh kalian kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla Ta'ala".
Dan perhatikanlah, di sana, dalam buku-buku sejarah yang berbicara kepada kita perjalanan anak manusia, salah satu di antara mereka yang telah mengikuti metode ini dan menjadikanya sebagai metode hidupnya adalah Sholahudin al-Ayubi, di mana di kisahkan bahwasannya beliau di dalam peperangan yang beliau lakukan selalu bersedekah  (pada fakir miskin) secara sembunyi-sembunyi, lantas di dalam sujud sholatnya ia berdo'a: "Wahai Rabbku, sungguh telah habis usaha yang dapat saya berikan untuk bisa menolong agama -Mu, tidak ada yang tersisa dari hamba -Mu melainkan ikhlas kepada -Mu, berpegang teguh kepada agama -Mu, dan bersandar kepada keutamaan -Mu, Engkaulah tempat meminta pertolongan dan sebaik-baik penolong". Berkata salah seorang ulama yang hidup sezaman dan melihat beliau: "Sungguh saya pernah melihat beliau dalam keadaan sujud sedangkan air matanya mengalir deras, sampai membasahi jenggot dan tempat sujudnya". 
Mereka semua adalah sosok kaum yang sangat sedikit sekali berbicaranya namun banyak menyimpan ilmu, banyak bersedekah serta ikhlas di dalam amalannya, maka Allah Shubhanahu wa ta’alla mewariskan kepada mereka kemulian dan kemenangan di dunia dan akhirat kelak, adapun sekarang, kita sangat jarang sekali mendapati, di mana ada di kalangan umat ini yang mau meniti pada manhaj yang lurus dan jalan yang lurus ini!
Sedangkan jawabannya maka sudah bisa di tebak di dalam akal pikiran kita, yang tidak samar lagi kecuali bagi orang yang lalai, kita hanya bisa mengadu kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, Laa haula walaa quwata ilaa billah. Mana wacana dan opini yang biasa di lontarkan oleh politikus, atau penulis, kritikus, yang mau menyeru umat sebagaimana halnya Umar dan para Sahabat Rasulullah Shalallahu 'alahi wa sallam serta orang-orang yang mau mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat kelak.
Saudaraku kaum muslimin…
Di antara pelajaran-pelajaran mulia dan ibroh yang penuh barokah ini adalah; Bahwa umat Muhammad  Shalallahu ‘alaihi wa sallam termasuk di antara tanda-tanda wujudnya mereka adalah adanya umat yang lebih mengutamakan perkara akhirat daripada perkara dunianya, bukan umat yang senang hidup mewah dan boros, senang bersendau gurau dan bermain-main, namun, umat ini adalah umat yang hidup di atas semangat tinggi, serta menerapkan makna yang tinggi yaitu merealisasikan peribadahan hanya kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan memurnikan tauhid kepada -Nya, menjadikan dunia ini sebagai ladang amal shaleh agar bisa di petik hasilnya di akhirat kelak, bukan menjadikan dunia sebagai tujuan utama sebagaimana yang menjadi ambisi kebanyakan umat manusia pada hari ini.
Tatkala Umar berkunjung ke Syam beliau berkata kepada Abu Ubaidah radhiyallahu 'anhum 'ala ash-Shahabah, -beliau merupakan salah satu panglima kaum muslimin- dalam penaklukan Syam: "Bawalah kami ke tempat tinggalmu". 
Ia berkata: "Apa yang akan engkau lakukan, wahai Umar? Tidaklah yang engkau inginkan melainkan akan membikin dirimu menangis". Tatkala Umar masuk kedalam rumah, beliau tidak melihat perabotan apapun, lantas beliau bertanya keheranan: "Mana perabotan rumahmu wahai Abu Ubaidah? Saya tidak mendapati kecuali ada karpet lusuh, periuk, dan sedikit air, kamu seorang panglima, apa kamu punya makanan? 
Maka Abu Ubaidah berdiri menuju bawah tangga lalu mengambil remukan roti. Umar pun menangis melihat kondisinya. Abu Ubaidah berkata kepadanya: "Saya sudah bilang padamu, bahwa kamu pasti akan menangis kasihan kepadaku wahai Amirul mukminin, cukup bagiku  sesuatu yang bisa menegakkan tulang punggung". Lantas Umar berkata –beliau adalah seorang yang sangat zuhud, wara' dan sangat sederhana kehidupannya-: "Dunia telah menipu kami semua, kecuali kamu wahai Abu Ubaidah".
Mereka adalah generasi terbaik dari kalangan umat ini, yang tidak mengenal dunia, kekuasaan, kedudukan, keindahan, kekayaan, dan rongsokannya –sebagaimana kebanyakan orang pada hari ini-.
Lihatlah pada kisahnya pedang Allah Shubhanahu wa ta’alla, Khalid bin Walid ini. Dirinya adalah orang yang pertama kali mengetahui surat dari Umar yang diperuntukan untuk Abu Ubaidah, isi suratnya mengabarkan tentang berita wafatnya Abu Bakar Shidiq radhiyallahu 'anhu dan pujian untuk dirinya dari Umar serta menggantikan kepemimpinannya dengan Abu Ubaidah di negeri Syam. 
Surat ini membawa pesan pencopotan Khalid dari jabatan gubernur dan perintah untuk membantu gubernur baru, karena dirinya sangat di butuhkan sekali bantuannya oleh Abu Ubaidah. Tatkala Khalid bin Walid mengetahui hal tersebut, ia bergegas menemui Abu Ubaidah dan berdiskusi dengannya, sebuah perbincangan yang agung dan penuh adab, tinggi kedudukannya, yang menunjukan keikhlasan yang luar biasa besarnya dan kejujuran yang sempurna. 
Khalid berkata kepadanya: "Wahai Abu Ubaidah, semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla mengampunimu. Telah datang kepadamu surat dari Amirul mukminin dengan penunjukan dirimu sebagai pemimpin, kenapa engkau tidak memberitahuku sebelumnya, sehingga dirimu masih sholat di belakangku, sedangkan pemimpin adalah pemimpinmu juga?". Maka Abu Ubaidah berkata kepadanya: "Demikian juga engkau wahai Khalid semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla mengampunimu. Saya enggan untuk memberitahumu sampai sekiranya engkau mengetahui sendiri dari orang lain, saya tidak mau membuatmu terburu-buru sampai semuanya selesai, sehingga pada nantinya saya segera memberitahumu –Insya Allah-". 
Abu Ubaidah mengatakan: "Bukanlah kekuasaan dunia yang saya inginkan, dunia bukanlah tujuan saya bekerja, karena sebagaimana kita lihat, semuanya pasti akan fana dan sirna. Kita hanyalah saudara seiman yang tunduk terhadap perintah Allah Shubhanahu wa ta’alla Ta'ala, tidak ada cela bagi seseorang yang di gantikan oleh saudaranya dalam agama bukan dunianya, namun Amirul mukminin mengetahui bahwa dirinya harus memilih mana dari keduanya yang lebih sedikit membawa fitnah dan terjatuh ke dalam kekeliruan yang akan menghancurkan dirinya, kecuali orang yang di jaga oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan sangatlah sedikit golongan mereka".
Lalu Abu Ubaidah menyerahkan surat wasiat Umar kepada Khalid. Apa yang di perbuat oleh Khalid? Beliau berada di bawah kepemimpinan Abu Ubaidah selama kurang lebih empat tahun, dan tidak pernah di ketahui bahwa dirinya mangkir dari perintah pemimpinnya walau pun hanya satu kali. Namun, dirinya selalu memenuhi perintahnya sampai pada peperangan besar dan penting yang sangat genting sekalipun. Khalid berkata kepadanya: "Ini adalah bagian saya, dan saya akan menyelesaikannya insya Allah". 
Maka Abu Ubaidah mengatakan: "Saya malu kepadamu wahai Abu Sulaiman". Lantas Khalid menjawab: "Kalau sekiranya saya di perintah oleh anak kecil yang datang dari Waliyul 'amr pasti saya akan taati titahnya, bagaimana mungkin saya akan menyelisihimu, sedangkan engkau adalah orang yang lebih dulu beriman daripada saya dan lebih dulu masuk Islam, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam telah menamai dirimu sebagai 'al-Amiin'?". Kemudian Khalid bersaksi bahwa dirinya telah menjadikan jiwa dan raganya untuk berjihad dan tidak menyelisihi perintah pemimpin selama-lamanya.
Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla meridhoi al-Faruq Umar bin Khatab tatkala dirinya menulis surat untuk seluruh penjuru negeri Islam yang berisi pernyataanya: "Sesungguhnya saya mencopot Khalid (dari kepemimpinanya) bukan karena kebencianku padanya bukan pula karena dirinya khianat, akan tetapi, manusia telah terfitnah dengan Khalid, dan saya khawatir mereka menyerahkan segala urusan kepadanya, dan mereka akan di uji olehnya".
Sebuah pelajaran tauhid, yang para Sahabat dapatkan dari sistem pendidikan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam–beliaulah pendidik tauhid yang sejati-, kemudian Umar mengatakan kepada Khalid: "Wahai Khalid. Demi Allah, sungguh dirimu bagi saya mempunyai kemuliaan, dan engkau adalah orang yang saya cintai". Beliau melanjutkan: "Saya berbuat seperti halnya orang berbuat namun tidak seperti apa yang kamu lakukan, tidak ada yang di lakukan oleh seorang hamba melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla lah yang menciptakannya".
Ketika Abu Ubaidah memegang tampuk kepemimpinan Qonnisiriin beberapa lama setelah di copotnya Khalid dari jabatannya, Berkata Umar –tatkala negeri tersebut dapat di taklukan oleh Khalid-, Umar berkata kepadanya: "Khalid telah menjadi amir dengan sendirinya, Khalid telah menjadi amir dengan sendirinya. Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla merahmati Abu Bakar, semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla merahmati Abu Bakar, dirinya lebih mengetahui keadaan ar-Rijal (orang) dari pada saya".  
Khalid menjawab sembari memuji Umar: "Adalah Umar, beliau adalah orang yang selalu menginginkan wajah Allah Shubhanahu wa ta’alla pada setiap langkah dan keputusannya". Hal ini tidaklah mengherankan, mereka adalah para Sahabat Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam, sebuah sekolahan yang memberikan buah indahnya pada tiap keadaan dan zaman.
Di antara salah satu pendidikan dan pelajaran terbaik yang bisa kita ambil dari mereka adalah; apa yang telah di tulis oleh para sejarawan bahwa Sholahudin al-Ayubi –Siapa yang tidak kenal dirinya, beliau adalah orang yang banyak menaklukan negeri kafir-, dirinya tidak pernah meninggalkan di dalam simpanannya uang kecuali satu dinar dan tiga puluh enam dirham, dan tidak mempunyai harta selain itu, baik istana megah maupun rumah mewah.
Mereka adalah orang-orang yang menjadikan seluruh hidupnya berjalan di bawah timbangan syari'at, merealisasikan ketakwaan serta ketundukan penuh kepada Allah Azza wa jalla. Orang-orang yang selalu berhubungan bersama Allah Shubhanahu wa ta’alla Jalla wa 'ala serta merasa mulia dengan agamanya, mereka meraih kemenangan dengan sebab bertawakal kepada     -Nya. Di mana keadaan umat pada hari ini, yang ada hanyalah perselisihan, bermusuhan, karena kekuasaan dan ingin menjadi seorang pemimpin, sebagaimana tidak samar lagi bagi seorangpun.
Adalah Ubadah bin Shaamit radhiyallahu 'anhu pernah berdiri di tengah-tengah pasukan kaum muslimin tatkala tengah mengepung Qoisaariyah sembari memberi semangat serta nasehat kepada mereka sambil mengatakan: 
"Wahai umat Islam, sungguh diriku adalah orang yang paling berumur dan sudah banyak menghabiskan usia di antara kalian, dan Allah Shubhanahu wa ta’alla telah mentakdirkan diriku untuk masih hidup sampai saat ini, berperang bersama-sama kalian. 
Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan -Nya, tidak ada yang membawaku untuk berada diantara kalian untuk memerangi orang-orang kafir melainkan agar mereka mau memberikan kebebasan bagi kita (untuk menyebarkan agama Allah Shubhanahu wa ta’alla), dan Allah Shubhanahu wa ta’alla akan memberi kemenangan kita atas mereka. Apa yang membawa kalian untuk memerangi mereka, kenapa tidak menghabiskan mereka?". Kemudian beliau menjelaskan pada mereka yang menjadi kekhawatiranya atas mereka, beliau berkata: "Sungguh demi Allah, saya khawatir atas kalian dua perkara, kalian berkhianat dan kalian enggan untuk menasehati di dalam peperangan ini".
Maka pada akhirnya mereka pun mendapat pertolongan dan kemenangan atas orang-orang kafir dengan sebab kejujuran dan keikhlasan. Dengan penuh percaya diri dan kemauan yang keras, kecintaan yang murni untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul -Nya.
Pelajaran lain yang masih bisa kita petik; Bahwa kaum muslimin yang bertauhid tidak mempunyai istilah putus asa, tidak pula terjepit pada kalimat patah semangat sama sekali, selagi mereka mau berpegang teguh dengan Allah Shubhanahu wa ta’alla dan mau bertawakal kepada -Nya, yang mereka pahami bahwa yang namanya gelap malam pasti akan diiringi dengan cerahnya cahaya pagi, kesusahan akan di akhiri dengan kesenangan, kesulitan akan di gantikan dengan kemudahan. 
Walaupun keadaan mereka berada dalam kesulitan yang luar biasa dan kesulitan makanan yang mengitarinya, namun mereka dengan keimanannya tetap naik menanjak, dan dengan rasa tawakalnya yang tinggi, terhadap Rabbnya meraka bahagia.
Amr bin al-Ash pernah menulis surat dan mengirimnya kepada Umar yaitu tatkla beliau mampu menaklukan al-Quds, salah satu isinya, mengabarkan kepadanya tentang kemenangan yang di raih kaum muslimin dan meminta pendapatnya berkaitan keadaan para panglima Romawi yang cerdik dan bisa mengatasi musuh-musuhnya, dan mengabarkan bahwa mereka mempunyai pasukan yang sangat besar di Palestina dan Ilia.
Maka Umar pun membalas suratnya dan mengatakan dengan kata-kata emas yang menumbuhkan keimanan penuh dan percaya kepada Allah Azza wa jalla; "Sungguh mereka (panglima Romawi) telah memulai peperangan ini melawan para panglima Arab, maka lihatlah oleh kalian siapa yang akan mendapat pertolongan Allah Shubhanahu wa ta’alla". Dan peperangan tersebut adalah peperangan yang pada akhirnya Amr bin al-Ash mendapat pertolongan Allah Shubhanahu wa ta’alla dan mampu mengalahkan mereka, dan dengan kemenangan tersebut membuka jalan bagi kaum muslimin untuk menuju Palestina.
Dan perlu di ketahui oleh umat Islam semuanya kalau Masjidil Aqsho itu berada di bawah tangan parap penjajah dari kalangan kaum Salibis yang iri dengan kaum muslimin kurang lebih selama Sembilan puluh dua tahun lamanya sampai akhirnya dapat di taklukan kembali –segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla- melalui tangannya Sholahudin al-Ayubi sehingga dengan keutamaan –Nya, agama Allah Shubhanahu wa ta’alla bisa tegak kembali, bertawakal kepada -Nya dan merealisasikam ajaran tauhid yang murni. 
Manusia pun bergembira mendengar berita di taklukannya Baitul maqdis yang membahagiakan tersebut, dengan sebab apa yang mereka lihat dari adanya perubahan pada umat Islam, dan kembalinya mereka pada rasa percaya kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, -sampai berkata Ibnu za-Zakki, beliau adalah seorang ulama- dia mengatakan: "Kemenanganmu atas kota al-Halab –dia mengatakan kepada Sholahudin- dengan pedang pada bulan Shofar memberi tanda akan datangnya kabar gembira segera di taklukannya al-Quds di bulan Rajab yang akan datang".
Dirinya merasa begitu percaya akan kekuasaan Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan harapannya, maka dia mampu menguasai al-Quds pada bulan Rajab tahun 583 H.
Kaum muslimin, Bertakwalah kalian kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan tempuhlah jalan yang lurus dan mendapat petunjuk ini sehingga kalian akan meraih kebahagian di dunia dan akhirat kelak.
Khutbah kedua
Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla atas segala kemurahan -Nya, rasa syukur kita haturkan atas taufik dan nikmat-nikmat -Nya yang sangat banyak sekali. 
Saya bersaksi bahwasannya tidak ada ilah yang berhak di sembah melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata tidak ada sekutu bagi -Nya, dan saya juga bersaksi bahwasannya Sayyidina dan Nabi kita Muhammad  Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan Rasul -Nya, sholawat serta salam dan keberkahan atasnya kita pintakan kepada -Nya, kepada keluarga dan para sahabatnya. Amma Ba'du:
Kaum muslimin yang dirahmati Allah Ta'ala.
Saya wasiatkan kepada diri saya pribadi dan kepada kalian semua agar selalu bertakwa kepada Allah Azza wa jalla.  Karena takwa merupakan wasiat Allah Shubhanahu wa ta’alla bagi kaum terdahulu dan sekarang.  
Kaum muslimin…
Sesungguhnya bahaya yang sedang mengancam umat Islam pada hari ini adalah perselisihan di dalam tubuh umat serta terpecah belahnya barisan kaum muslimin. Sedangkan nash-nash dari al-Qur'an dan Sunah secara mutawatir, datang menunjukan wajibnya untuk bersatu di atas panji tauhid dan ketakwaan, serta haramnya berpecah belah dan saling berselisih. 
Ambillah pelajaran dari keadaan generasi pertama yang ada pada umat Islam ini, di mana ketika mereka di hadapkan pada ujian dan kesulitan maka mereka sangat bersemangat sekali untuk selalu bersatu dan berpegang serta merapat kebarisan kaum muslimin.
Lihatlah salah seorang ulama muhaqiq lagi fakih ini, beliau bernama Ali bin Thahir as-Sulami ad-Dimasqy Asy-Syami, beliau pernah menulis sebuah risalah yang di tujukan kepada umat –setelah jatuhnya Baitul Maqdis ketangan pasukan salib pada tahun 429 H- yang tertera di dalam kitabnya 'Al-Jihaad', ringkas isi risalah ini yaitu: 
"Apabila para pemimpin kaum muslimin enggan untuk menggiring rasa saling mendendamnya –seakan-akan perkataanya ini, ditujukan kepada para pemimpin zaman kita sekarang-, maka sesungguhnya mereka  masih di atas watak jahiliyah yang tidak mencontoh kepada generasi pertama; tatkala di dalam kesulitan maka rasa saling mendendam itu hendaknya di hilangkan". 
Maha Benar Allah Azza wa jalla tatkala berfirman:"Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."  (QS al-Anfaal: 46).
Kemudian, ketahuilah bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta’alla Jalla wa 'ala telah menyuruh kepada kita suatu perkara yang sangat agung, yaitu; Bershalawat serta memberi salam kepada Nabi -Nya yang mulia. 
Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam serta berkatilah Nabi dan Rasul kita Muhammad  Shalallahu ‘alaihi wa sallam, Ya Allah, berilah keridhoan -Mu pada Khulafaur Rasyidin serta para Imam yang mendapat petunjuk, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta para Sahabat semuanya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat kelak, jadikanlah kami bersama golongan mereka, dengan kemurahan rahmat dan kasih sayang -Mu, yang Maha Penyayang.
Ya Allah, berilah kemulian dan kejayaan kepada kaum muslimin dan agama Islam, Ya Allah, kami serahkan kepada -Mu para musuh-musuh kaum muslimin, Ya Allah, jangan jadikan mereka sebagai pemimpin, dan jadikanlah generasi yang berikutnya mau mengambil pelajarannya.
Ya Allah, berilah taufik kepada kaum muslimin yang membawa kebaikan pada urusan agama dan dunia mereka, Ya Allah, berilah mereka taufik semuanya, yang membawa kebaikan pada agama dan dunianya. 
Ya Allah, limpahkanlah taufik -Mu atas mereka agar mau bertauhid secara murni, dan mengikuti sunnah, wahai Dzat yang mempunyai Kemuliaan dan Ketinggian. 
Ya Allah, berilah taufik kepada Pelayan dua tanah suci pada setiap perkara yang Engkau ridhoi dan cintai, 
Ya Allah, jadikanlah orang yang memimpin kaum muslimin, orang terbaik di antara mereka, wahai Dzat yang mempunyai Kemuliaan dan Ketinggian.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.
Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.
Ya Allah, Engkau adalah ilah yang tidak ada ilah yang berhak di sembah selain Engkau, Engkau Maha Kaya sedangkan kami adalah orang miskin, ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, turunkanlah hujan kepada kami, turunkanlah hujan kepada kami. 
Ya Allah, berilah hamba -Mu air, wahai Dzat yang mempunyai Kemuliaan dan Ketinggian. 
Ya Allah, Yang Maha Kaya lagi Terpuji berilah kami hujan, ya Allah yang maha kaya lagi terpuji berilah kami hujan, ya Allah, yang maha kaya lagi terpuji berilah kami hujan, tidak ada kekayaan bagi kami melainkan atas kemurahan -Mu, wahai Dzat yang mempunyai kemuliaan dan ketinggian, yang maha pengasih.
Kaum Muslimin hamba-hamba Allah Shubhanahu wa ta’alla….
Banyaklah berdzikir kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan khusyu.

Hukum Menggunakan Kata "Seandainya.."

6 Desember 2012





Tentang seorang yang mengatakan: Seandainya dahulu Anda dahulu melakukan begini, tentu tidak akan terjadi demikian." 
Orang lain yang mendengarnya berujar: "Kata-kata semacam itu sudah dilarang oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Itu kata-kata yang dapat mengiring orang yang mengucapkannya kepada kekufuran." 
Lalu ada lagi yang bilang: "Tetapi dalam kisah tentang Musa dan Khidir, Nabi pernah bersabda: "Semoga Allah memberi rahmat kepada Musa. Kalaulah beliau mau bersabar, tentu Allah akan menceritakan kepada kita lanjutan kisah mereka.." 
Orang yang lain lagi berdalil dengan sabda Rasulullah: "Mukmin yang kuat itu lebih baik dari mukmin yang lemah," hingga ucapan: "…karena kata "seandainya" itu membuka amalan syetan." Apakah hukum dalam hadits ini menghapus hukum dalam kisah Musa di atas atau tidak?
Semua yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya itu benar. Kata 'seandainya' itu Apabila digunakan sebagai ungkapan kesedihan menyesali yang telah lampau dan kecewa terhadap takdir, itulah yang dilarang, sebagaimana dalam firman Allah:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang:"Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh". Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam di hati mereka.." (Ali Imraan : 156)
Itulah yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau bersabda:
"Kalau engkau tertimpa musibah, janganlah engkau mengatakan: "Kalau tadi aku lakukan begini, tentu jadinya akan begini dan begini..". Tapi katakanlah: "Sudah takdir Allah, Allah melakukan apa saja yang Dia kehendaki. 
Karena kata "seandainya," itu membuka pintu amalan syetan (yakni akan membuka pintu kesedihan dan kekecewaan. Yang demikian itu hanya berbahaya dan tidak bermanfaat. Tapi ketahuilah, bahwa apa saja yang menimpamu tidak akan pernah meleset. Dan segala yang meleset tidak akan pernah menimpamu. 
Allah berfirman:
"Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.." (At-Taghaabun : 11)
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam ayat itu adalah seseorang yang tertimpa satu musibah lalu ia menyadari bahwa musibah itu berasal dari Allah, sehingga ridha dan berserahdiri.
Yang kedua, penggunaan kata "seandainya," untuk menjelaskan satu pengetahuan yang bermanfaat. Seperti firman Allah:
"Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain Allah, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa.." (Al-Anbiya : 22)
Atau untuk menunjukkan kecintaan terhadap perbuatan baik dan keinginan melakukannya. Seperti ucapan:"Kalau saja aku memiliki apa yang dimiliki oleh Fulan, tentu aku akan melakukan apa yang dia lakukan.." dan sejenisnya. Ungkapan semacam itu boleh-boleh saja. Adapun sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Kalaulah beliau mau bersabar, tentu Allah akan menceritakan kepada kita lanjutan kisah mereka.." Itu termasuk jenis yang kedua. Seperti juga firman Allah:
"Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu.." (Al-Qalam : 3)
Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam akan senang dapat mencerikan kisah kedua Nabi itu. Maka beliau mengutarakan dengan kata-kata itu untuk menjelaskan kesenangan beliau bila kesabaran yang seandainya dilakukan Musa kala itu. Beliau memberitahukan manfaat yang ada dalam kesabaran itu. Tak ada unsur kekecewaan dan kesedihan dalam unggkapan beliau, juga tidak meninggalkan kewajiban bersabar terhadap takdir..Wallahu A'lam.
Majmu' Al-Fatawa Ibnu Taimiyyah IX : 1033

Al Kautsar Dan Kenikmatan Yang Banyak

24 Oktober 2012

Surat Al Kautsar ini adalah surat yang berisi penjelasan akan nikmat yang banyak yang telah dianugerahkan pada Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, berisi pula perintah untuk shalat dan berqurban hanya untuk Allah dan akibat dari orang yang membenci Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.
Allah Ta’ala berfirman,


إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS. Al Kautsar: 1-3).


Makna Al Kautsar
Allah Ta’ala telah menyebutkan sebagian nikmat yang dikaruniakan kepada Nabi kita Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Allah Ta’ala berfirman pada Nabi kita Muhammad,


إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak”, maksudnya Kami telah menganugerahkan nikmat padamu (wahai Muhammad) dan juga Kami telah memberikan padamu Al Kautsar yaitu sungai di surga yang dijanjikan untuk Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Dan sungai itu adalah telaga Nabi ‘alaihish sholaatu was salaam.


Terdapat hadits dalam shahih Muslim, dari Anas, ia berkata, suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi kami dan saat itu beliau dalam keadaan tidur ringan (tidak nyenyak). Lantas beliau mengangkat kepala dan tersenyum. Kami pun bertanya, “Mengapa engkau tertawa, wahai Rasulullah?” “Baru saja turun kepadaku suatu surat.” Lalu beliau membaca,


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأَبْتَرُ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS. Al Kautsar: 1-3). Kemudian beliau berkata, “Tahukah kalian apa itu Al Kautsar?” “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”, jawab kami. Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda,


فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ فَيُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُمْ فَأَقُولُ رَبِّ إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِى. فَيَقُولُ مَا تَدْرِى مَا أَحْدَثَتْ بَعْدَكَ
Al Kautsar adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabbku ‘azza wa jalla. Sungai tersebut memiliki kebaikan yang banyak. Ia adalah telaga yang nanti akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat nanti. Bejana (gelas) di telaga tersebut sejumlah bintang di langit. Namun ada dari sebgaian hamba yang tidak bisa minum dari telaga tersebut.  Allah berfirman: Tidakkah engkau tahu bahwa mereka telah berbuat bid’ah sesudahmu.” (HR. Muslim no. 400).


Ada pelajaran berharga dari Ibnu Katsir mengenai cerita tentang surat Al Kautsar di atas, Beliau berkata, “Kebanyakan ahli qiroah berdalil dari sini bahwa surat Al Kautsar adalah surat Madaniyah. Dan kebanyakan dari fuqoha memandang bahwa basmalah adalah bagian dari surat ini karena ia turun bersamanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 476). Namun Ibnul Jauzi mengatakan bahwa jumhur (mayoritas ulama) termasuk Ibnu ‘Abbas berpendapat bahwa surat ini adalah surat Makkiyah. (Zaadul Masiir, 9: 247)
Ibnul Jauzi merinci ada enam pendapat mengenai makna Al Kautsar:
  1. Al Kautsar adalah sungai di surga.
  2. Al Kautsar adalah kebaikan yang banyak yang diberikan pada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pendapat Ibnu ‘Abbas.
  3. Al Kautsar adalah ilmu dan Al Qur’an. Demikian pendapat Al Hasan Al Bashri.
  4. Al Kautsar adalah nubuwwah (kenabian), sebagaimana pendapat ‘Ikrimah.
  5. Al Kautsar adalah telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang banyak manusia mendatanginya. Demikian kata ‘Atho’.
  6. Al Kautsar adalah begitu banyak pengikut dan umat. Demikian kata Abu Bakr bin ‘Iyasy. (Lihat Zaadul Masiir, 9: 247-249)
Nikmat Dibalas dengan Syukur
Syaikh Musthofa Al ‘Adawy berkata, “Orang yang masih berada dalam fitrah yang selamat, tentu ketika diberi nikmat akan dibalas dengan syukur. Maka kebaikan yang banyak yang telah diberi ini dibalas dengan:


فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah.” (Tafsir Juz ‘Amma, Musthofa Al ‘Adawi, hal. 293)


Dirikan Shalat dan Qurban Hanya untuk Allah
Yang dimaksud: Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah, adalah jadikanlah shalatmu hanya karena Allah dan jangan ada niatan untuk yang selain-Nya. Begitu pula jadikanlah hasil sembelihan unta ikhlas karena Allah. Jangan seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik di mana mereka melakukan sujud kepada selain Allah dan melakukan penyembelihan atas nama selain Allah. Bahkan seharusnya shalatlah karena Allah dan lakukanlah sembelihan atas nama Allah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,


قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (163)
Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku (sembelihanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (QS. Al An’am: 162-163)
Qotadah berpendapat bahwa yang dimaksud shalat di sini adalah shalat Idul ‘Adha. Adapun maksud ‘naher’ adalah penyembelihan pada hari Idul Adha sebagaimana pendapat Ibnu ‘Abbas, ‘Atho’, Mujahid dan jumhur (mayoritas ulama). (Lihat Zaadul Masiir, 9: 249)


Yang Membenci Nabi, Merekalah yang Terputus
Ayat terakhir,
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)
Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS. Al Kautsar: 1-3). Yang dimaksudkan ayat ini adalah orang-orang yang membenci dan memusuhi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya yang terputus dan tidak ada lagi penyebutan (pujian) untuknya setelah matinya. Orang-orang Quraisy menyatakan demikian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi memiliki keturunan laki-laki (semuanya meninggal dunia). Maka Allah pun membalasnya dengan meninggikan pujian bagi beliau. Beliau dipuji oleh orang terdahulu dan belakangan di tempat yang tinggai hingga hari pembalasan. Sedangkan yang memusuhi beliau, itulah yang terputus di belakang. (Keterangan dari Musthofa Al ‘Adawi, Tafsir Juz ‘Amma, hal. 294).


Ibnul Jauzi mengatakan bahwa yang dimaksud ‘abtar’ adalah terputus dari kebaikan (Zaadul Masiir, 9: 251).


‘Ikrimah berkata bahwa yang dimaksud ‘abtar’ adalah bersendirian. As Sudi mengatakan bahwa dahulu jika ada seseorang yang anak laki-lakinya meninggal dunia, maka disebut abtar (batar). Ketika anak laki-laki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, orang-orang Quraisy mengatakan, “Bataro Muhammad (Muhammad terputus).” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 483)


Ibnu Katsir menjelaskan, “Yang dimaksud abtar adalah jika seseorang meninggal dunia, maka ia tidak akan lagi disebut-sebut (disanjung-sanjung). Inilah kejahilan orang-orang musyrik. Mereka sangka bahwa jika anak laki-laki seseorang mati, maka ia pun tidak akan disanjung-sanjung. Padahal tidak demikian. Bahkan beliaulah yang tetap disanjung-sanjung dari para syahid (tuan) yang lain. Syari’at beliau tetap berlaku selamanya, hingga hari kiamat saat manusia dikumpulkan dan kembali.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 483)


Surat ini kata Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berisi penjelasan mengenai nikmat yang diberikan oleh Allah kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu beliau dikaruniakan kebaikan yang banyak. Kemudian di dalamnya berisi perintah untuk mengerjakan shalat dan berqurban juga ibadah lainnya atas dasar ikhlas karena Allah. Kemudian terakhir dijelaskan bahwa siapa yang membenci Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membenci satu saja dari ajaran beliau, merekalah yang nantinya terputus yaitu tidak mendapatkan kebaikan dan barokah (Tafsir Juz ‘Amma, 281).


Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad hingga Yaumat Tanaad (hari kiamat saat manusia diseru di padang Mahsyar).
Wallahu waliyyut taufiq.



---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Referensi:
Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Muassasah Qurthubah.
Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.
Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, Maktabah Adh Dhiya’.
Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, terbitan Al Maktab Al Islami.


Prioritaskan Menghafal Al Quran

menghafal_al_quran_10Al Khotib Al Baghdadi berkata, "Selayaknya bagi setiap penuntut ilmu memulai dari menghafalkan Al Qur’an. Karena Al Qur’an adalah ilmu yang paling mulia dan yang paling pantas didahulukan." (Al Jaami' li Akhlaaqir Rowi wa Li Aadabis Saami’)


Diceritakan bahwa Ibnu Jarir Ath Thobari berkata, “Aku menghafal Al Qur’an pada usia 7 tahun, aku mulai belajar shalat jama’ah pada usia 8 tahun dan aku mulai menulis hadits pada usia 9 tahun.”


Ibnu Kholdun rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa mengajarkan Al Qur’an kepada anak-anak merupakan bagian dari syi’ar agama Islam dan yang dipraktekkan umat ini. Praktek ini pun tersebar di setiap negeri. Pengaruhnya, hafalan quran bisa lebih mengokohkan iman. Setelah itu barulah kuasai akidah dari ayat-ayat Qur’an, lalu kuasai sebagian matan  hadits.”


Keutamaan menghafalkan Al Qur’an sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا
Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) Al Qur’an nanti : ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).” (HR. Abu Daud no. 1464 dan Tirmidzi no. 2914, shahih kata Syaikh Al Albani).


Ibnu Hajar Al Haitami rahimahullah berkata, “Hadits di atas menunjukkan keutamaan khusus bagi yang menghafalkan Al Qur’an dengan hatinya, bukan yang sekedar membaca lewat mushaf. Karena jika sekedar membaca saja dari mushaf, tidak ada beda dengan yang lainnya baik sedikit atau banyak yang dibaca. Keutamaan yang bertingkat-tingkat  adalah bagi yang menghafal Al Qur’an dengan hatinya. Dari hafalan ini, bertingkat-tingkatlah kedudukan mereka di surga sesuai dengan banyaknya hafalannya. Menghafal Al Qur’an seperti ini hukumnya fardhu kifayah. Jika sekedar dibaca saja, tidak gugur kewajiban ini. Tidak ada yang lebih besar keutamaannya dari menghafal Al Qur’an. Inilah yang dimaksudkan dalam hadits di atas dan inilah makna tekstual yang bisa ditangkap. Malaikat akan mengatakan pada yang menghafalkan Al Qur’an ‘bacalah dan naiklah’. Jadi yang dimaksud sekali lagi adalah bagi yang menghafal Al Qur’an dari hatinya.” (Al Fatawa Al Haditsiyah, 156)


Semoga Allah memudahkan kita menjadi penghafal-penghafal Al Qur’an dan penjaga kitabullah.
Wallahu waliyyut taufiq.



Sumber: Dalil Al Hifzh Al Muyassar (Petunjuk Menghafal Al Qur’an)

Gagalnya Usaha “Menghapus” Islam dari Jawa

16 Oktober 2012




Banyak Sekali PEMIMPI dan Pengkhayal yang berharap kalau Islam akan musnah dari muka bumi.
Dengan berbagai strategi,intrik dan Opini dibentuk yang diharapkan bisa memenuhi harapan cita cita mereka yang memusnahkan Islam dari muka bumi.


Kita perlu lihat sejarah masa lalu bagaimana mereka yang punya kekuatan Penuh,yaitu tidak sekedar Kekuatan ekonomi tetapi dekat dengan kekuasaan,bagaimana Upaya Pemurtadan didukung penuh oleh Rezim PENJAJAH,tetapi kenyataannya upaya upaya mereka mendapatkan hasil tidak sebagaimana yang mereka harapkan,KENYATAANNYA ISLAM masih TETAP EKSIS di BUMI ini. maka dalam sebagai contoh kita lihat upaya PARA PEMIMPI tersebut dengan contoh spesifik,Kegagalan Usaha “menghapus” Islam dari Masyarakat Jawa ini.


MASIH ingat, nama Mbah Petruk yang mendadak menjadi sangat populer ketika Gunung Merapi kembali bergejolak? Di samping Mbah Petruk, ada juga Nyai Rara Kidul. Berkait dengan dua tokoh jagading lelembut tadi, diadakanlah ritual sedekah gunung dan sedekah laut yang menjadi ritual rutin masyarakat Jawa. Kebanyakan, citra sinkretik seperti ini menjadi wajah tunggal ketika seseorang berbicara tentang Jawa.
Juga, apabila kita mengamati buku-buku mengenai kebudayaan Jawa, maka istilah seperti larung sesaji, kejawen, pusaka keramat, adalah tema-tema dominan ketika berbicara kebudayaan Jawa.

Pandangan seperti itulah sebenarnya yang diinginkan dari gerakan jangka panjang orientalisme dan missionarisme di Jawa di masa kolonial. Di mana mereka berusaha menghapus identitas Islam di tanah itu dengan selalu mengkait-kaitkan antara Jawa dengan Hindu atau Budha.

Namun, data sejarah justru menunjukkan hal yang sebaliknya,  Jawa dan Islam adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Upaya ”pengkerdilan” identitas Islam tidak lain bertujuan untuk memuluskan misi kristenisasi di Jawa. Tulisan ini merupakan ringkasan dari tesis Arif Wibowo di Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta, yang berhasil ia pertahankan di hadapan para penguji. Selamat menikmati.

***
Berkaca dari Kiai Sadrach
Para misionaris dan orientalis berupaya memisahkan identitas Islam dari Jawa untuk melancarkan misi kristenisasi.

Islam pada abad XIX menjadi inspirasi utama perlawanan rakyat Indonesia terhadap pemerintah kolonial Belanda. Baik yang berskala besar seperti Perang Diponegoro, Perang Padri, Perang Aceh sampai perlawanan yang berskala kecil dalam pemberontakan petani di Cilegon. Kejadian ini menyebabkan Belanda mengubah gaya politik kolonialnya, dengan melakukan politik etis yang meliputi educatie, emigratie dan irrigatie (pendidikan, perpindahan dan pengairan).

Kerstening politiek  (politik pengkristenan) merupakan bagian tidak terpisahkan dari politik etis. Sehingga kaum etisi mendapat sokongan penuh dari partai-partai agama di Belanda. Pengkristenan Nusantara tetap merupakan panggilan rakyat Kristen Eropa (Belanda).


Kisah yang Gagal
Setidaknya, ada dua macam penetrasi Kristen ke dalam masyarakat Jawa, yakni penerjemahan Alkitab dan pemakaian kebudayaan Jawa. Penerjemahan pertama kali dilakukan oleh Johannes Emde pada 1811. Sedangkan yang memelopori pemakaian budaya Jawa dalam penginjilan adalah Coenraad Laurens Colen. Konsep Colen inilah yang kemudian berkembang dan disebut inkulturasi. Nama-nama seperti Paulus Tosari, Matius Niep, Kiai Sadrach, Ngibrahim Tunggul Wulung adalah buah dari inkulturasi dalam penginjilan.


Dari deretan nama tadi, Kiai Sadrach merupakan sosok yang paling populer. Ia seorang guru ngelmu (pinisepuh). Dalam mengenalkan Kristen kepada masyarakat, Sadrach menyebut gerejanya dengan masjid. Dan memang gereja itu gaya bangunannya  mirip  masjid pada umumnya.   Sebelum upacara peribadatan dimulai, sebuah bedhug dipukul dan diakhiri dengan ritual slametan.

Bagi Kiai Sadrach, Bible adalah norma hidup yang mirip dengan pitutur (nasehat) dan wewaler (larangan, pantangan) orang Jawa dan syariat dalam pandangan Islam.

Sadrach bukan fenomena tunggal, sebab di Jawa Timur juga ada Ngibrahim Tunggul Wulung, yang memaknai kekristenannya menyerupai Muslim dan akhirnya dikafirkan oleh para pendeta Calvinis yang membaptisnya.

Kegagalan Kristen versi Sadrach dan Tunggul Wulung yang dianggap berkepercayaan ganda, separo kristen dan separo Islam, disebabkan integrasi yang sangat kuat pandangan metafisika Islam ke dalam masyarakat Jawa. Selain itu, menjadi Kristen saat itu, bagi orang Jawa adalah aib terbesar dalam hidupmenjadi Kristen saat itu, bagi orang Jawa adalah aib terbesar dalam hidup. Di masyarakat, ia akan menyandang gelar “wong jawa ilang jawane” (orang jawa hilang jawanya), atau “jawa wurung landa durung” (hilang jawanya, tapi Belanda juga belum).

Karena itu, apa yang dilakukan Sadrach maupun Ngabdullah Tunggul Wulung, bisa jadi untuk menghindari resistensi sosial masyarakat sekitar.


Orientalisme dan Usaha Kudeta Kebudayaan
SEPERTINYA, Van Lith, misionaris Katolik ordo Yesuit, belajar dari kasus Sadrach. Setelah korespondensi panjang dengan Sadrach, dan pengamatan mendalam di lapangan, Van Lith mengubah pola penginjilannya. Dari individu menjadi penginjilan kolektif dalam bentuk sekolah. Dengan mendidik anak-anak Jawa sejak kecil, diharapkan akan menghasilkan kekatolikan/kekristenan yang murni. Seiring dicanangkannya politik etis di bidang pendidikan di kalangan pribumi, Van Lith lalu mendirikan sekolah calon guru.

Dalam mencari murid yang berkualitas, Van Lith aktif melakukan kunjungan kepada para bangsawan kraton dan priyayi, agar menyekolahkan anaknya di Kolese Xaverius (sekolah yang didirikan Van Lith). Semua murid yang masuk awalnya adalah Muslim, lalu menjadi Katolik ketika lulus. Tidak cukup menjadi guru, beberapa murid Kolese Xaverius  melanjutkan pendidikannya ke jenjang imamat. Sehingga bila dilihat dari banyaknya jumlah imam pribumi yang dihasilkan, menurut Steenbrink, usaha Van Lith ini paling sukses di dunia untuk kegiatan serupa.

Dalam Kolese Xaverius, identitas kejawaan sangat ditekankan, sedangkan segala hal yang berbau Islam dihilangkan. Bahasa Melayu, yang dianggap identik dengan Islam tidak diajarkan, cukup dua bahasa: bahasa Jawa dan bahasa Belanda. Dengan demikian diharapkan proses integrasi kekatolikan dan kejawaan dapat berjalan sempurna.

Van Lith juga mendidik para muridnya untuk serius mengkaji budaya Jawa. Hasil kajian dari para muridnya itu diterbitkan dalam jurnal St Claverbond, yang diterbitkan di Belanda.

Satu karya tulis dari pastur Jesuit yang dianggap mampu menangkap inti dari kebudayaan Jawa adalah disertasi dari Petrus Joshepus Zoetmulder yang terbit pada 1935. Dalam disertasinya yang berjudul Pantheisme en Monisme In de Javaansche Soeloek-Litteratuur, Zoetmulder dianggap mampu mengungkap inti pandangan ketuhanan masyarakat Jawa, melalui telaahnya terhadap Serat Centhini dan pelbagai karya sastra suluk Jawa. Menurut Dick Hartoko, meskipun penelitian ilmiah (mengenai kebudayaan Jawa) tidak pernah berhenti, tetapi itu tidak menggoyahkan patokan-patokan yang ditancapkan oleh Dr Zoetmulder setengah abad yang lalu.

Dalam pandangan Zoetmoelder, doktrin manunggaling kawula gusti  sama sekali tidak terkait dengan konsep wihdatul wujud yang menjadi diskursus kontroversial kalangan ahli tasawuf  Islam. Menurutnya, manunggaling kawula gusti dalam budaya Jawa adalah suatu bentuk pandangan monistis yang berasal dari ajaran Atman Hindu. Bahkan pada karya sastra yang eksplisit, corak ke Islamannya pun akan dianggap sebagai Islam yang telah terpengaruh alam religius India maupun lewat alam religius Hindu Jawa.


Tetap Berlangsung Hingga Kini
Inkulturasi, pada perkembangannya tidak hanya untuk kalangan internal, tapi juga untuk membentuk konsep tentang Jawa. Sehingga dapat dilihat, saat ini pandangan Zoetmulder menjadi mainstream dalam banyak penelitian mengenai agama Jawa atau kebudayaan Jawa.
Beberapa buku tentang Jawa pada periode berikutnya, masih mengacu pada kerangka berpikir Zoetmulder, bahkan lebih menspesifikkan lagi tentang apa yang disebut sebagai agama Jawa.

Dan keseriusan ini terbukti mampu menghasilkan nama-nama besar yang dalam berbagai sisi kebudayaan Jawa, seperti Bagong Kusudiharjo di bidang tari Jawa, SH Mintarja dengan novelnya, Api di Bukit Menoreh, YB Mangunwijaya di bidang arsitektur dan pemberdayaan masyarakat.

Di kalangan antropolog ada nama Niels Mulder, penulis buku Mistisisme Jawa; Frans Magnis Suseno, “Etika Jawa, Sebuah Analisa Falsafi” tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Juga ada Sindhunata, “Anak Bajang Menggiring Angin”. Di tingkat nasional kita mengenal Prof Drijarkara, yang terkenal dengan konsep ’Indonesia bukan negara agama tapi juga bukan negara sekuler,’ WJS Poerwadarminto dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Karena itu, jika wajah sinkretik menjadi wajah utama Muslim Jawa,  Wali Sanga ”tertutupi” Siti Jenar dan munculnya anggapan bahwa aqidah kejawen “Manunggaling Kawulo Gusti” versi kebatinan dianggap sebagai wakil resmi Muslim Jawa, tidak lain dan tidak bukan adalah buah dari gerakan jangka panjang orientalisme dan misionarisme di Jawa. Setidaknya, bila masyarakat tidak berhasil “ter-kristenkan”, paling tidak, mereka akan jauh dari agamanya, sebuah wasiat suci Samuel Zwemmer untuk para penginjil.


Islam Sebagai Landasan Budaya Jawa
Eksodus masyarakat Jawa dari pusat-pusat kerajaan Hindu dan Budha yang tidak memberinya kehidupan yang aman, ke daerah-daerah pelabuhan mengantarkan mereka bersentuhan dengan para pedagang Muslim dan para ulama.

Egalitarianisme Islam dan struktur keimanan mudah dimengerti menyebabkan rakyat Jawa berbondong-bondong masuk Islam. Periode ini merupakan gelombang pertama Islamisasi di Pulau Jawa.
Dalam pandangan Zamakhsyari Dhofier, ada dua tahap penyebaran Islam di Pulau Jawa. Pertama, di mana orang menjadi Islam sekadarnya, yang selesai pada abad ke 16.
Kedua, tahap pemantapan untuk betul-betul menjadi orang Islam yang taat secara pelan-pelan menggantikan kehidupan keagamaan yang lama.

Sultan Agung Hanyokrokusumo, penguasa Mataram (1613-1645) mengawali tahap pemantapan melalui pendidikan Islam secara massal kepada masyarakat Jawa. Di setiap kampung diadakan tempat untuk belajar membaca al-Qur`an, tata cara beribadah dan tentang ajaran Islam: rukun iman dan rukun Islam.
Saat itu, apabila ada anak berusia 7 tahun belum bisa membaca al-Qur`an, ia akan malu bergaul dengan teman-temannya. Para guru agama ini diberi gelar Kyahi Anom oleh pihak kraton. Di tingkat kadipaten didirikan pesantren yang dipimpin oleh Kyahi Sepuh.

Saat itu juga dilakukan penerjemahan kitab-kitab besar berbahasa Arab dalam kajian yang bersistem bandungan (halaqah). Kitab-kitab itu meliputi kitab fikih, tafsir, Hadits, ilmu kalam dan tasawuf. Juga nahwu, sharaf dan falaq.

Sistem kalender juga disesuaikan dengan sistem Islam. Sehingga budaya ilmu tidak hanya menjadi milik elit tapi menjadi milik masyarakat secara keseluruhan.
Akselerasi pemahaman Islam melalui sistem pendidikan massal inilah yang menyebabkan Islamisasi di segala sisi kehidupan masyarakat. Konsep-konsep Islam telah menjadi landasan kegiatan kemasyarakatan. Istilah upawasa (poso) sembahyang, suwargo dan neroko hanya bisa ditafsirkan dengan pengertian shaum, shalat, jannah dan naar.

Islam juga menancapkan budaya baru seperti adil, mikir yang tidak bisa dicari padanannya dalam akar kata asli bahasa Jawa. Taawun yang dijabarkan dalam budaya gotong royong adalah ciri khas masyarakat asli Jawa, juga tasamuh yang diwujudkan dalam budaya tepa salira.

Ritus-ritus penting dalam masyarakat Jawa seperti kelahiran, perkawinan dan kematian juga didasarkan pada prinsip-prinsip Islam. Masyarakat Jawa sudah tidak mengenal bagaimana cara ijab qabul ala agama asli Jawa ataupun merawat jenazah ala kejawen.

Oleh karena itu, dikotomi antara Islam dengan abangan yang dipropagandakan anak didik orientalis maupun kalangan misionaris tidak pernah mendapatkan pijakan teoritis yang kuat. Sebab, yang berlaku di Jawa kata Andrey Moller adalah ortopraks Islam, yakni meski pelan namun pasti terus bergerak menuju Islam.
Oleh karena itu, orang Jawa, baik itu dari kalangan priyayi maupun abangan di masa tuanya akan berubah menjadi santri yang rajin ke masjid, yasinan dan khataman. Wallahu a’lam bish shawab
Sumber :hidayatullah.com

Kufurnya Orang yang Mengejek Sunnah Nabi

15 Oktober 2012

Sunnah memiliki makna luas, tidak hanya sempit pada pengertian fiqih saja, namun merupakan ajaran dan keteladanan (uswah) yang dituangkan ke dalam segenap perilaku kehidupan nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam.


Dengan demikian Sunnah merupakan agama itu sendiri yang Allah Ta’ala jadikan sebagai penerjemah dalam menafsirkan segenap ayat-ayatNya.

Saudaraku -barakallahu fiikum-, memperolok-olokan sesuatu yang berasal dari agama adalah merupakan kekufuran yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama menurut kesepakatan para ulama’. sebagai yang dinukilkan oleh Ibnul Arabiy dalam tafsirnya (2/976) dan Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alu Syaikh di dalam Taisir Al Aziizil Hamiid. Maka memperolok-olok dari sunnah-sunnah nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam tidak berbeda apakah yang melakukannya dengan sungguh-sungguh, bermain-main atau senda gurau. (Malzamah Syarh Nawaqidul Islam, Abi Ubaidah Az Zawi).

Jenis-jenis Istihza’ (Ejekan)
Manakala kita membicarakan permasalahan ini maka kita tidak akan terlepas dari beberapa permasalahan yang terkait dengannya.
Permasalahan yang berkenaan dengan memperolok-olok agama atau yang kita kenal dengan istilah istihzaa, di antaranya ialah kita dapati pada kenyataannya dalam memperolok-olokkan agama terbagi menjadi dua macam;
1. Istihzaa’ sharih, yaitu memperolok-olok agama dengan ucapan secara jelas dan terang-terangan. Sebagai contoh ucapan mereka para munafiqin kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam di suatu majlis pada perang tabuk ‘Tidaklah kami melihat orang yang lebih mementingkan perutnya, lebih berdusta ucapannya, dan lebih penakut ketika berjumpa dengan musuh daripada mereka para pembaca-pembaca Qur’an (yakni Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya)’. atau seperti ucapan mereka lainnya yang menyatakan:

‘Agama tidaklah diukur dengan jenggot kita’, yakni karena permasalahan cukur jenggot, dan masih banyak lagi yang semisal dengan itu.
2. Istihzaa’ ghairu sharih yaitu memperolok-olok agama dengan perbuatan yang menunjukkan isyarat maupun sindiran (tidak jelas atau tidak terang-terangan), seperti dengan memicingkan mata, menjulurkan lidah dan membentangkan bibir dan lain-lainnya yang bertujuan untuk merendahkan sesuatu dari agama. (lihat Kitabut Tauhid DR. Shalih Fauzan hal 43, dan Malzamah Syarh Nawaqidul Islam, Abi Ubaidah).

Dalil kafirnya memperolok-olok sunnah
Saudaraku kaum muslimin -barakallahu fiikum-, dalil-dalil tentang kafirnya memperolok-olok sunnah banyak sekali.
Namun semua berporos pada satu ayat yang menerangkan bagaimana hukum tersebut dapat menimpa seseorang dan apa penyebabnya. Allah Ta’ala berfirman:

وَلََئِنْ سَأَلْتَهمْ لَيَقُوْلُنَّ ِإنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللهِ وَآيَاتِهِ وَرُسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيماَنِكُمْ (التوبة : 65-66)
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesung-guhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: ’Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’. Tidak usah kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (At Taubah:65-66)

Ayat ini menunjukkan bahwa memperolok-olok Allah adalah kekufuran, memperolok-olok Rasul adalah kekufuran, dan memperolok ayat-ayatNya adalah kekufuran, demikian pula memperolok-olok sunnah adalah kekufuran. Maka barangsiapa yang memperolok-olok salah satu dari perkara-perkara tersebut berarti dia telah memperolok-olok keseluruhannya.

Memperolok-olok Allah dan Rasul-Nya dianggap kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari agama karena pokok agama dibangun di atas pengagungan terhadap Allah dan pengagungan terhadap Rasul-Nya, sedangkan memperolok-olok sesuatu darinya dapat menghilangkan pokok tersebut dan meruntuhkannya dengan dahsyat. (Taisir Karimir Rahman, Abdurrahman As Sa’diy, hal. 342-343)

Larangan untuk bermajlis dengan orang yang memperolok-olok agama
Saudaraku rahimakumullah terkadang kita sadar maupun tidak telah terpedaya oleh berbagai makar dan perangkap syaithan yang selalu berupaya menjerumuskan kita ke dalam kesesatan, na’udzubilah. Dimana kita dijadikannya seperti sebuah patung yang bisu atau manusia yang terlelap pulas dalam tidurnya. Bagaimana tidak, terkadang – kalau tidak mau dinilai keumumannya – kita menganggap suatu hal yang wajar atau lumrah di saat kita menyaksikan atau mendengar atau paling tidak mengetahui ada orang yang memperolok-olok agama dengan gurauannya atau candanya atau bahkan menebarkannya bagaikan menebarkan benih di sawah lantas kita terdiam melihatnya, terkesima bahkan ikut tertawa mengaminkan pelecehan agama tersebut (Seperti terjadi dalam lawakan, film, sinetron, obrolan, red).

Karenanya Allah di dalam ayat tadi atau ayat-ayat lainnya menegur dan mengancam dengan ancaman yang keras. Allah Ta’ala berfirman:
لاَ تَعْتَذِرُوا قَدْكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيماَنِكُمْ
Tidak usah kamu cari alasan karena kamu kafir sesudah beriman (At Taubah: 66)
وَإِذَا رَأَوْكَ إِنْ يَتَّخِذُوْنَكَ إِلَّا هُزُوًا أَهَذَا الَّذِيْ بَعَثَ اللهُ رَسُوْلًا إِنْ كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ ءَالِهَتِنَا لَوْ لَا أَنْ صَبَرْنَا عَلَيْهَا وَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ حِيْنَ يَرَوْنَ اْلعَذَابَ مَنْ أَضَلُّ سَبِيْلاً (الفرقان:41-42)
Dan apabila mereka melihat kamu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan (dengan mengatakan): ”Inikah orang yang diutus Allah sebagai Rasul? Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sesembahan kita, seandainya kita tidak sabar (menyembah)nya’. Dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat adzab, siapa yang paling sesat jalannya. (Al Furqan:41-42).
Maka menjadi jelaslah dengan ini, bahwa orang yang memperolok-olok Rasul dengan menyatakannya sebagai orang yang sesat adalah lebih berhak dan lebih pantas untuk disifati dengan sifat ini dan bahwa binatang ternak lebih baik dari orang tersebut. (Tafsir As Sa’diy hal.584).
Oleh karena itu Allah Ta’ala melarang mukminin untuk berkumpul, bermajlis bersama orang-orang yang memperolok-olok agama ini termasuk di dalamnya memperolok-olok Rasul dan sunnah Rasul.
وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلاَ نَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوْضُوا فِي حَدِيْثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ (النساء:140)
Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk beserta mereka. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. (An Nisa’:140)
Berkata Syaikh Abdurrahman As Sa’diy di dalam tafsirnya (hal 210): “Dan demikian pula halnya para ahlul bid’ah dengan keanekaragaman mereka, maka hujjah-hujjah mereka yang mendukung kebatilan mereka mengandung penghinaan terhadap ayat-ayat Allah. Karena ayat-ayat Allah tidaklah menunjukkan kecuali kebenaran, dan tidaklah mengakibatkan kecuali kebenaran, bahkan termasuk juga di dalamnya menghadiri majlis-majlis kemaksiatan dan kefasikan, yang akan menghinakan di dalamnya perintah-perintah dan larangan-larangan Allah, dan akan menenggelamkan hukum-hukumNya yang telah Allah tetapkan bagi para hambaNya dan penghujung dari larangan ini ialah larangan untuk duduk bersama mereka.”

Disegerakannya balasan bagi yang memperolok-olok sunnah
Sebagai penutup dari pembahasan kita kali ini tidak lupa kita utarakan juga di sini bagaimana Allah menyegerakan balasan bagi mereka-mereka yang memperolok-olok sunnah atau yang melecehkannya yang telah diriwayatkan kepada kita.

Dari Salamah bin Al Akwa’ “Bahwa seseorang makan di samping Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dengan tangan kirinya, maka beliau pun menegur: “Makanlah dengan tangan kananmu’, orang itu menjawab,’aku tidak bisa’. Beliau bersabda : ‘Engkau benar-benar tidak akan bisa’. Padahal tidak ada yang menghalanginya (makan dengan tangan kanan) kecuali kesombongannya. Salamah mengatakan: Maka ia pun tidak bisa (lumpuh) mengangkat tangan (kanan)nya ke mulutnya. (Dikeluarkan Muslim no. 2021).

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, beliau bersabda:
بَيْنَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ فِي بَرْدَيْنِ خَسَفَ اللهُ بِهِ اْلأَرْضَ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Manakala seseorang berjalan dengan sombongnya di pagi dan petang maka Allah tenggelamkan orang tersebut ke dalam bumi, dan ia akan terbolak-balik di dalamnya sampai hari kiamat”.

Maka seorang pemuda bertanya kepada Abu Hurairah –yang telah disebutkan namanya– dalam keadaan bercanda: ’Apakah seperti ini jalannya orang yang ditenggelamkan ke bumi?’ Lalu Abu Hurairah pun memukul dengan tangannya dan orang itupun merasakan sakit yang hampir mematahkan tulangnya. Kemudian Abu Hurairah berkata dengan membawakan ayat:

إِنَّا كَفَّيْنَكَ الْمُسْتَهْزِئِيْنَ.
Sungguh Kami akan balas untuk (membela)mu (wahai nabi) dari orang yang memperolok-olok. (Sunan Ad Darimi no.437)

Dari Abdurrahman bin Harmalah, dia berkata: “Datang seseorang kepada Said Ibnul Musayyab untuk pamit menunaikan haji dan umrah. Maka beliaupun berkata kepada orang tersebut: “Janganlah engkau pergi hingga engkau shalat terlebih dahulu, karena sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda:

لاَ يَخْرُجُ بَعْدَ النِّدَاِ مِنَ الْمَسْجِدِ إِلاَّ مُنَافِقٌ إِلاَّ رَجُلٌ أَخْرَجتْهُ حَاجَةٌ وَهُوَ يُرِيْدُ الرَّجْعَةَ إِلَى الْمَسْجِدِ.
Tidaklah keluar dari masjid setelah dikumandangkan adzan kecuali munafik, kecuali seseorang yang dipaksa keluar oleh kebutuhannya dan dia berkeinginan kembali ke masjid. Maka orang itu pun berkata: “Sesungguhnya teman-temanku berada di al Hurrah”. Maka orang itu pun keluar. Dan belum selesai Said menyayangkan kepergiannya dengan menyebut-nyebut tentangnya, tiba-tiba dikabarkan bahwa orang tersebut terjatuh dari kendaraannya, hingga patah pahanya. (Sunan Ad-Darimi, no. 447)

Dari Abi Yahya as-Saaji berkata: “Kami berjalan di lorong-lorong kota Bashrah menuju rumah salah seorang ahlul hadits. Maka aku percepat jalanku dan (ketika itu) ada di antara kami yang jelek agamanya, kemudian berkata: “Angkatlah kaki-kaki kalian dari sayap-sayap para malaikat, janganlah kalian mematahkannya (seperti orang yang istihza’). Maka orang itu pun tidak dapat beranjak dari tempatnya hingga kering kedua kakinya dan kemudian terjatuh”. (Bustanul Arifin, Imam Nawawi, hal. 92.)


(Semua kisah di atas dinukil dari kitab Ta’zhimus Sunnah, Abdul Qayyum as-Suhaibani, hal. 30-32). (Kitabut Tauhid, DR. Shalih Fauzan hal.43)
Maraji’:
1. Ta’dhimus Sunnah, Abdul Qayyum bin Muhammad bin Nashir.
2. Kitabut Tauhid, DR. Shalih Fauzan.
3. Malzamah Syarh Nawaqidul Islam, Abi Ubaidah az-Zawi.
4.Taisir Karimir Rahman, Abdurrahman as-Sa’diy.

revival of Islamic faith foundation

Sejarah

 

© Copyright revival of Islamic faith foundation 2012 | Design by Atmadeeva Keiza | Published by Borneo Templates | Modified by Blogger Tutorials.