Muqodimah
Segala puji hanya untuk
Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad
Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.
Orang yang paling minim tingkat ilmunya tidak meragukan keluasan
rahmat Allah Subhanahuwata’ala di dunia ini. Setiap makhluk merasakan
dan mendapatkannya. Namun, semua itu tidaklah sebanding dengan keluasan
rahmat -Nya di akhirat kelak.
Di dunia, Allah Subhanahuwata’ala menurunkan satu dari seratus
rahmat -Nya dan 99 rahmat dipersiapkan bagi orang yang beriman kelak di
hari kiamat. Tentu merugi dan celaka jika seseorang terlalaikan oleh
satu rahmat dan melupakan rahmat yang akan didapatkan kelak di akhirat.
Seseorang dengan mudah bisa mendapatkan keluasan rahmat Allah
Subhanahuwata’ala di dunia, akan tetapi untuk mendapatkan yang 99
tersebut membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit.
Dengan mengetahui luasnya rahmat Allah Subhanahuwata’ala di dunia
ataupun di akhirat, menjadikan seseorang berani sekaligus berharap
(raja’) di dalam hidup. Berani untuk menghadapi segala risiko dalam
usaha meraih rahmat yang luas tersebut dan berharap hanya ke pada –Nya
karena Allah Yang Maha Pemurah akan mencurahkan rahmat -Nya kepada siapa
pun.
Di sinilah letak keistimewaan hidup orang-orang yang beriman kepada
Allah Subhanahuwata’ala, kala menjalani hidup, dadanya senantiasa lapang
dan luas, karena dia mengetahui rahasia hidup ini dan rahasia
kebahagiaan di atasnya. Mereka berani dalam menghadapi segala
kemungkinan yang akan terjadi dalam menjalankan roda ketaatan dan
berharap dalam keluasan rahmat, pengampunan, dan kedermawanan Allah
Subhanahuwata’ala.
Namun orang-orang yang beriman tersebut sebelum menjadi orang yang
berani dan berharap, mereka telah berkarya besar sembari menyandarkan
diri kepada Allah Subhanahuwata’ala dalam segala usahanya.
Yang Menjadikan Dada Lapang
1. Tauhid
Al-Imam
Ibnu Qayyim rahimahumullah mengatakan, “Hal terbesar yang akan
menjadikan dada lapang adalah ketauhidan. Berdasarkan kesempurnaannya,
kekuatannya, dan bertambahnya, kelapangan dada akan mengalami hal yang
serupa. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,
“Apakah orang-orang
yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia
mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?”
(az-Zumar: 22)
“Barang siapa yang Allah kehendaki akan memberikan
kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk
agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah Subhanahuwata’ala
kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit,
seolah-olah ia sedang mendaki langit.” (al-An’am 125)
Petunjuk
dan tauhid adalah sebab yang paling besar bagi lapangnya dada,
sebagaimana syirik dan kesesatan sebagai sebab terbesar dada menjadi
sempit dan sulit.
2. Iman
Termasuk perkara yang
akan menjadikan dada itu lapang adalah cahaya iman yang diletakkan oleh
Allah Subhanahuwata’ala di dalam hati. Dengannya dada menjadi lapang,
menjadikan hati selalu dalam kebahagiaan. Jika cahaya iman tersebut
sirna, dadanya akan menjadi sempit dan sulit, berada dalam kungkungan
yang paling sempit dan sulit. Seorang hamba akan mendapatkan kelapangan
dada sesuai dengan bagian yang dia dapatkan dari cahaya tersebut,
sebagaimana halnya cahaya yang bisa diraba serta kegelapan yang bisa di
rasakan oleh panca indra akan menentukan sempit dan lapang nya dada
3. Ilmu
Ilmu akan menjadikan
dada lapang dan menjadikannya luas, bahkan melebihi luasnya dunia.
Sementara itu, kejahilan akan mewariskan dada yang sempit, kerdil, dan
tertutup. Di saat ilmu seorang hamba bertambah luas, maka bertambah
lapang dadanya.
Tentu saja, hal ini tidak mencakup semua ilmu, tetapi hanya ilmu
yang diwariskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu
ilmu yang bermanfaat. Pemilik ilmu yang bermanfaat adalah orang yang
paling lapang dadanya, paling luas hatinya, paling baik akhlaknya, dan
paling bagus kehidupannya.
4. Bertobat kepada Allah Subhanahuwata’ala
Bertobat
kepada Allah Subhanahuwata’ala, mencintai -Nya setulus hati,
memasrahkan diri kepad -Nya, dan menikmati beribadah kepad -Nya, akan
menjadikan dada lapang. Sebagian mereka terkadang mengucapkan, “Jika
saya di dalam surga dalam kondisi ini, niscaya saya berada dalam
kehidupan yang baik.”
5. Cinta kepada Allah Subhanahuwata’ala
Sungguh,
cinta kepada Allah Subhanahuwata’ala memiliki pengaruh menakjubkan bagi
lapangnya dada, baiknya jiwa, dan lezatnya hati. Tidak ada yang
mengetahuinya selain orang yang bisa merasakannya. Saat cinta itu kuat
dan keras, niscaya dada itu akan menjadi lapang dan luas. Tidaklah dada
menjadi sempit kecuali tatkala melihat orang-orang yang telanjang dari
semuanya ini. Memandang mereka akan menjadikan mata kita penuh kotoran
dan bergaul dengan mereka menjadikan ruh kita panas.
Termasuk perkara besar yang akan menyebabkan dada sesak adalah
berpaling dari Allah Subhanahuwata’ala, bergantungnya hati kepada selain
Allah Subhanahuwata’ala, lalai dari mengingat Allah Subhanahuwata’ala,
dan mencintai selain Allah Subhanahuwata’ala. Barang siapa mencintai
sesuatu selain Allah Subhanahuwata’ala, niscaya Allah Subhanahuwata’ala
akan memberi nya azab dengan sesuatu (selain Allah) tersebut, yang
akibatnya hatinya terbelenggu dalam mencintai selain Allah
Subhanahuwata’ala. Akhirnya, tidak ada orang yang paling celaka di muka
bumi ini daripada dirinya, tidak ada yang paling tertutup akalnya, yang
paling jelek kehidupannya, dan yang paling lelah hati daripada dirinya.
6. Zikir kepada Allah Subhanahuwata’ala
Zikir
kepada Allah Subhanahuwata’ala dalam segala kondisi dan di setiap
tempat. Maka dari itu, zikir itu memiliki pengaruh menakjubkan terhadap
lapangnya dada dan nikmatnya hati. Tentunya, sikap lalai memiliki
pengaruh yang menakjubkan dalam menyempitkan, terbelenggu dan
tersiksanya dada.
7. Berbuat Baik kepada Makhluk
Berbuat
baik kepada setiap makhluk dan memberikan manfaat kepada mereka dengan
segala yang memungkinkan seperti dengan harta, kedudukan, dan yang
bermanfaat untuk badan (jasmani), serta berbagai bentuk kebaikan
lainnya. Seorang yang dermawan dan senang berbuat baik adalah orang yang
paling lapang dadanya, yang paling baik jiwanya, dan yang paling
tenteram hatinya.
Sementara itu, sifat bakhil yang tidak ada padanya kebaikan adalah
orang yang paling sempit dadanya, paling jelek kehidupannya, serta yang
paling besar keperihan dan kesedihan hidupnya. Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam telah mencontohkan dalam riwayat yang sahih orang yang
bakhil dan rajin bersedekah seperti halnya dua orang yang memiliki dua
tameng besi.
Di saat orang yang gemar bersedekah mengeluarkan sedekahnya, maka
melebarlah tameng itu dan meluas, hingga menutupi pakaian dan anggota
badannya. Adapun apabila orang bakhil ingin bersedekah, tetaplah setiap
lingkara besi pada posisinya, tidak meluas. Demikianlah permisalan
orang yang beriman dan gemar untuk bersedekah, lapang hatinya. Demikian
pula pemisalan orang yang bakhil, sempit dadanya dan tersekap hatinya.
8. Keberanian
Seseorang yang
memiliki jiwa pemberani akan memiliki dada yang lapang, luwes
perangainya, dan terbuka hatinya. Sementara itu, seorang yang penakut
berada dalam kondisi dada yang sempit dan yang paling kerdil hatinya.
Dia tidak memiliki kebahagiaan, kesenangan, kelezatan, dan kenikmatan
selain sebagaimana halnya binatang.
Oleh karena itu, kebahagiaan ruh, kelezatan, kenikmatan, dan
kewibawaannya, menjadi sesuatu yang haram didapatkan orang yang memiliki
sifat penakut, sebagaimana halnya terhalangi bagi orang yang bakhil,
orang yang berpaling dari Allah Subhanahuwata’ala, lalai dari berzikir
kepada -Nya, jahil tentang Allah Subhanahuwata’ala, nama-nama -Nya,
sifat-sifat -Nya, dan tentang agama -Nya, serta menggantungkan hatinya
kepada selain Allah Subhanahuwata’ala.
Semua bentuk kenikmatan ini akan menjadi kebun dari salah satu kebun
surga di dalam kubur. Demikian halnya kesempitan dada dan kerdilnya
hati akan berubah menjadi azab dan belenggu di dalam kubur. Keberadaan
seseorang di alam kubur bagaikan keberadaan hati di dalam dada, akankah
mendapatkan nikmat atau mendapat siksaan, terbelenggu atau mendapatkan
kemerdekaan? Tidak ada yang menjadi penghalang jika dada tersebut
menjadi lapang, sebagaimana tidak ada yang akan menjadikan dada tersebut
sempit, karena semuanya itu akan sirna dengan sirnanya sebab-sebabnya.
Segala sifat yang akan menyentuh dan hinggap di dalam hati, maka itulah
yang akan menjadikan dada tersebut lapang atau sempit. Inilah yang
menjadi barometernya, wallahulmusta’an.”(Zadul Ma’ad 2/23)
Berani
dan berharap dalam hidup adalah dua senyawa yang jika bertemu dan
berbaur, akan menjadi sebuah akhlak yang sangat terpuji. Sifat berani
adalah sifat terpuji yang mengandung segala akhlak yang terpuji lainnya.
Keberanian adalah buah dari iman seseorang kepada Allah
Subhanahuwata’ala. Terlebih jika dia mengimani adanya hari kebangkitan
dan hari kiamat. Allah Subhanahuwata’ala telah memuji sifat berani di
jalan-Nya sebagaimana dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari
sahabat Abu Musa radhiyallahu anhu, ia berkata, “Dikatakan, ‘Ya
Rasulullah, seseorang berperang dengan keberanian, berperang karena
kebangsaan, berperang dengan landasan riya, siapakah diantara mereka
Yang benar-benar berjuang di jalan Allah Subhanahuwata’ala?’
Beliau menjawab, “Barangsiapa berperang untuk menegakkan kalimat
Allah Subhanahuwata’ala, sesungguhnya dialah yang berada di atas jalan
Allah Subhanahuwata’ala.” Kesempurnaan sifat keberanian itu ada pada
sifat al-hilm yang artinya sabar, tidak tergesa-gesa, cerdas, dan
tangkas, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Bukanlah
yang dinamakan kuat itu adalah orang yang bisa membanting lawan, tetapi
yang dikatakan kuat adalah orang yang bisa menahan diri tatkala marah.”
Berharap adalah buah dari ilmu tentang sifat rahmat Allah
Subhanahuwata’ala, seperti pengampunan, kelembutan, maaf, dan kebaikan.
Berharap terhadap pahala yang ada di sisi -Nya termasuk amalan hati yang
paling besar dan pendorong kepada ketaatan yang paling kuat. Kekuatan
berharap di dalam hati tergantung pada kekuatan ilmu kita kepada Allah
Subhanahuwata’ala dan sifat-sifat -Nya.
Ibnul Qayyim rahimahumullah berkata, “Kuatnya berharap itu
tergantung pada kekuatan pengetahuan tentang Allah Subhanahuwata’ala,
nama-nama dan sifat-sifat -Nya, serta pengetahuan bahwa rahmat Allah
Subhanahuwata’ala mengalahkan murka -Nya. Tanpa ruh berharap, niscaya
akan lenyaplah ubudiyah hati dan anggota badan. Akan hancur pula
tempat-tempat menyebut nama-nama Allah Subhanahuwata’ala.”
Berharap itu adalah sebuah ibadah yang tidak boleh lepas dari
kehidupan seorang muslim, baik saat melakukan kebaikan maupun melakukan
kejelekan. Saat dia melakukan kebaikan, dia berharap bahwa amalnya
diterima, yang wajib atau yang sunnah. Adapun saat dia melakukan
kejelekan, dia berharap diterima tobatnya dan dimaafkan
kesalahan-kesalahannya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di
jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Baqarah: 218)
Katakanlah,“Hai
hamba-hamba -Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Alah
mengampuni dosa-dosa semuanya.” (az-Zumar: 53)
Maksud ayat ini
adalah bagi orang yang bertobat. Oleh karena itu, Allah
Subhanahuwata’ala mengumumkan bagi orang yang berbuat dosa, apa pun
perbuatan dosa tersebut. Artinya, Allah Subhanahuwata’ala akan
mengampuni dengan taubat yang baik, bagi siapa pun yang berdosa atas
dosa apa pun, dan ini khusus taubat sebagai sebab pengampunan.
Sampai-sampai ulama berselisih pendapat dalam hal mana yang lebih utama
antara dua orang yang berharap tersebut. Sebagian mereka mengatakan
lebih utama berharapnya orang yang berbuat baik, karena kuatnya
sebab-sebab berharap itu pada dirinya.
Sebagian lagi mengatakan yang lebih utama adalah berharapnya orang
yang berbuat salah untuk bertobat karena berharapnya itu bersih dari
amalan yang jelek dan selalu dibarengi melihat kesalahannya. Namun, yang
tampak adalah keutamaan tersebut tidak ditinjau dari sisi berharap itu,
tetapi keutamaan tersebut sangatlah tergantung pada apa yang terdapat
di dalam hati pemiliknya yaitu sifat takwa di saat dia berharap. Barang
siapa lebih bertakwa, tentu berharapnya lebih afdal, apakah di saat dia
berbuat baik ataupun berbuat salah. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,
“Sesungguhnya
orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah orang yang
paling takwa diantara kalian.” (al-Hujurat: 13)
Dari penjelasan
di atas, tampak jelas tentang berharap yang terpuji berupa bentuk
berharapnya orang yang berbuat amalan agar amalnya diterima, atau
berharapnya orang yang bertaubat agar taubatnya diterima. Adapun
berharap yang kosong dari karya nyata (amal) dan terus dalam kemaksiatan
lalu bersandar kepada pengampunan Allah Subhanahuwata’ala maka sikap
ini adalah maghrur (tertipu) dan merasa aman dari azab Allah
Subhanahuwata’ala.”
“Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak
terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali
orang-orang yang merugi.” (al- A’raf: 99)
Sebab, hukuman orang yang
berbuat maksiat adalah istidraj (dibiarkan) atas kemaksiatannya, pada
akhirnya dibinasakan setelahnya.” (Atsar al- Matsalul al-‘A’la hlm. 25)
Ilmu, Fondasi Akhlak yang Agung
Ibnu
Qayyim rahimahumullah berkata, “Pengetahuan seorang hamba tentang
keesaan Allah Subhanahuwata’ala dalam hal menolak mudarat, mendatangkan
manfaat, memberi, tidak memberi, menciptakan, memberi rezeki,
menghidupkan dan mematikan akan membuahkan ubudiyah tawakal batiniah.
Konsekuensi
tawakal dan efeknya jelas sekali. Pengetahuan dia tentang Allah Maha
Mendengar, Melihat, dan tentang ilmu Allah Subhanahuwata’ala yang tidak
tersembunyi bagi-Nya sesuatu pun yang paling kecil, baik di langit
maupun di bumi. Allah Subhanahuwata’ala mengetahui yang tersembunyi dan
yang tampak. Allah Subhanahuwata’ala juga mengetahui mata yang
berkhianat dan segala yang tersembunyi di dalam dada. Semua ini akan
membuahkan terjaganya lisan, anggota badan, dan pikirannya dari segala
yang tidak diridhai oleh -Nya.
Dia menjadikan semua anggota tubuhnya tergantung kepada apa yang
dicintai oleh Allah Subhanahuwata’ala dan diridhai -Nya. Semua ini juga
akan melahirkan rasa malu di dalam batin yang akan membuahkan sikap
menjauhkan diri dari segala yang diharamkan dan segala yang jelek.
Mengenal Allah Subhanahuwata’ala bahwa dia adalah Dzat yang Mahakaya,
dermawan, mudah memberi, banyak kebaikannya, dan penyayang; akan
melahirkan harapan yang luas lalu membuahkan segala bentuk ubudiyah
lahiriah dan batiniah.
Semuanya tergantung pada pengetahuan dan ilmunya. Demikian pula
pengetahuan seorang hamba tentang keagungan Allah Subhanahuwata’ala,
kemuliaan -Nya akan membuahkan ketundukan, ketenteraman, dan kecintaan
yang akan melahirkan segala bentuk pengabdian lahiriah kepada -Nya dan
itulah konsekuensinya.
Demikian pula tatkala berilmu tentang
kesempurnaan dan keindahan, serta ketinggian sifat-sifat -Nya akan
melahirkan kecintaan yang khusus dalam semua bentuk ubudiyah. Oleh
karena itu, semua bentuk pengabdian akan kembali kepada nama-nama dan
sifat-sifat Allah Subhanahuwata’ala. Semua bentuk peribadahan terikat
dengan semua yang di atas, sebagaimana terikatnya ciptaan dengan -Nya.
Di alam ini, seluruh ciptaan dan perintah Allah Subhanahuwata’ala
adalah konsekuensi dari nama-nama dan sifat-sifat -Nya. Allah
Subhanahuwata’ala tidak akan menjadi mulia karena ketaatan mereka dan
tidak akan hina karena kemaksiatan mereka. Renungilah sabda Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam Shahih al-Bukhari, yang beliau
riwayatkan dari Rabbnya, “Hai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak
mampu berbuat mudarat terhadap-Ku hingga mencelakai- Ku. Kalian juga
tidak dapat berbuat kemanfaatan bagi -Ku hingga memberiku manfaat.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkannya setelahnya, “Hai
para hamba -Ku, sesungguhnya kalian melakukan kesalahan dimalam hari
dan sianghari, sementara Aku adalah pengampun dosa, maka minta ampunlah
kalian kepada -Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian.”
Ini
mengandung makna bahwa apa yang diperbuat oleh Allah Subhanahuwata’ala
terhadap mereka dalam hal mengampuni kesalahan-kesalahan mereka,
dikabulkannya permintaan mereka, dan dilepaskannya mereka dari segala
bentuk malapetaka, tidak berarti Allah mengambil manfaat dari
mereka.(Madarijus Salikin 2/90)
Koreksilah Berharapmu dan Perbaruilah Cintamu
Berharap
itu sumbernya adalah menyaksikan janji-janji Allah Subhanahuwata’ala
dan berbaik sangka kepada Allah Subhanahuwata’ala, serta menyaksikan
segala apa yang dipersiapkan oleh Allah Subhanahuwata’ala bagi orang
yang mengutamakan -Nya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan
negeri akhirat. Berharap menjadikan petunjuk sebagai hakim terhadap hawa
nafsunya, dan wahyu atas ra’yu -nya (pendapatnya), sunnah atas bid’ah,
dan menjadikan hakim segala apa yang telah dilalui oleh para sahabat
atas adat istiadat yang berlaku.
Sementara itu, cinta itu sumbernya adalah menyaksikan nama-nama
Allah Subhanahuwata’ala dan sifat-sifat -Nya sebagaimana menyaksikan
segala nikmat dan pemberian -Nya. Apabila mengingat dosa-dosanya, ia
berbalut rasa takut; apabila mengingat rahmat Allah Subhanahuwata’ala,
luas pengampuan, dan maaf -Nya, dia berbalut rasa berharap; dan apabila
mengingat keindahan dan keagungan -Nya, kesempurnaan -Nya, kebaikan dan
nikmat -Nya, ia akan berbalut rasa cinta.
Oleh karena itu, hendaklah setiap hamba menimbang imannya dengan
tiga hal ini (takut, berharap, dan cinta) agar dia mengetahui kadar iman
yang dimilikinya. Sesungguhnya, hati itu terfitrah dengan Ramah
Lingkungan cinta kepada keindahan dan cinta kepada Pemberi Keindahan,
dan Allah Subhanahuwata’ala adalah Dzat Yang Maha indah, keindahan yang
sempurna dari segala sisi.
Indah pada Dzat -Nya, indah pada sifat -Nya, indah pada
perbuatan-perbuatan -Nya, dan indah pada nama-nama -Nya. Jika berkumpul
keindahan seluruh makhluk pada seseorang, lalu dibandingkan dengan
keindahan Allah Subhanahuwata’ala, perbandingannya lebih lemah daripada
pancaran cahaya lentera yang paling lemah di hadapan pancaran sinar
matahari. (Madarijus Salikin 3/288)
Sifat berharap yang penuh kejujuran memiliki pengaruh yang sangat
besar dalam kehidupan seorang muslim. Berharap akan membangkitkan dan
mendorong untuk bertobat dengan benar, mendorong untuk beramal saleh
berharap keberuntungan dengan surga Allah Subhanahuwata’ala, melihat
-Nya, dan mendengar pembicaraan -Nya. Berharap yang jujur akan menjaga
akidah seorang muslim dari bergantung kepada makhluk mengharapkan
keberkahan dari mereka, atau syafaat, atau jalan keluar dari
malapetaka.
Oleh karena itu, pada kehidupan seorang muslim yang jujur, Anda tidak
menjumpai penampilan-penampilan syirik dalam harapan, seperti mencari
berkah melalui kedudukan para nabi, dengan para wali, dan melalui
kuburan-kuburan mereka; atau mencari berkah di sumber mata air, gua,
atau tempat sejenisnya.
Sebab, seorang muslim mengetahui dengan keyakinan yang benar bahwa
Allah Subhanahuwata’ala adalah Dzat yang tunggal dalam hal mendatangkan
manfaat dan menolak mudarat. Dia mengimani bahwa Allah Subhanahuwata’ala
adalah satu-satunya Dzat tempat menggantungkan harapan segala yang
dicita-citakannya berupa kebaikan dunia dan akhirat.
(Atsaral-Matsalulal-A’la hlm. 25)