News Update :

Apakah kaum muslimin di setiap negara diharuskan untuk berpuasa dengan rukyat yang sama?

29 Mei 2013



oleh : Muhammad Ibn Saleh al-Utsaimin   
Tanya :
Apakah   kaum  muslimin di   setiap  negara  diharuskan  untuk  berpuasa dengan  rukyat  yang  sama?  Bagaimana  dengan  kaum  muslimin  yang tinggal di negeri kafir yang tidak memiliki rukyat sar’iyah?
Jawab:
Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, yaitu jika salah satu  negeri Islam melihat  hilal dan  ditetapkan  sebagai rukyat syar’i,  apakah negeri lain harus  mengikutinya? Di  antara  ulama ada yang berpendapat mengharuskan   negeri-negeri lain  untuk   beramal  dengan  rukyat  itu, berdalil dengan keumuman firman Allah -ta'âla-:
"...Karena    itu,    barangsiapa    di  antara   kamu   hadir    (di    negeri   tempat tinggalnya) di bulan itu,  maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu..."  (QS. Al-Baqarah: 185)
Dan sabda Nabi -shalallahu alaihi wasalam-:                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             
"Jika kalian melihat hilal awal Ramadhan maka berpuasalah.."
َMereka mengatakan bahwa ungkapannya umum untuk  seluruh  kaum muslimin.
Sangat dimaklumi jika maksud  dari ungkapan  ayat dan  hadits  di  atas tidaklah memaksudkan rukyat setiap orang, karena hal itu suatu  yang tidak mungkin. Yang dimaksud adalah jika dilihat oleh siapa saja yang persaksiannya dapat diterima. Ini adalah umum di setiap tempat.
Ulama yang lain berpendapat  bahwa jika berbeda  matla'(Matla' maksudnya tempat terbit bulan.,  maka  setiap tempat memiliki rukyat sendiri. Jika tidak berbeda maka wajib bagi yang tidak melihatnya untuk  beramal dengan rukyat pada matla'nya. Mereka berdalil dengan dalil yang sama dengan pendapat pertama:
Firman Allah -ta'âla-:
"...Karena    itu,    barangsiapa    di  antara   kamu   hadir    (di    negeri   tempat tinggalnya) di bulan itu,  maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu..."  (QS. Al-Baqarah: 185)
Tentu maksudnya bukan setiap orang menyaksikannya sendiri-sendiri. Ini diamalkan di  tempat yang sama matla' hilalnya. Bagi yang berbeda matla', ia belumlah melihat secara hakiki maupun hukum jika belum melihatnya secara langsung. Mereka mengatakan:  demikian pula yang kami katakan
mengenai sabda Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-:
"Jika kalian melihat hilal awal Ramadhan maka berpuasalah, jika engkau melihatnya hilal awal Syawal maka berbukalah."
Siapa yang berada  di  matla' berbeda dengan matla' orang yang melihat hilal berarti belum melihatnya secara hakikat ataupun hukum.
Mereka mengatakan: 'Perhitungan bulan sama dengan perhitungan hari.' Sebagaimana setiap  negeri berbeda  dalam penentuan  waktu imsak dan ifthar   harian,  musti  berbeda  pula  pada  penentuan  imsak  dan  ifthar bulanan.  Sangat  dimaklumi bahwa  perbedaan  hari  memiliki pengaruh, dengan kesepakatan  kaum muslimin. Siapa yang berada di  timur, akan lebih dulu berpuasa sebelum mereka yang berada di  barat, demikian juga dalam berbuka.
Jika  kita  menghukumi perbedaan  matla'  pada  pewaktuan  hari,  maka seperti itu pula pada pewaktuan bulan.
Tidak mungkin seseorang mengatakan bahwa firman Allah -ta'âla-:
"Maka  sekarang  campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah  ditetapkan Allah  untukmu, dan  makan  minumlah hingga terang bagimu benang putih dari   benang   hitam,  yaitu   fajar.   Kemudian  sempurnakanlah   puasa  itu sampai (datang) malam..." (QS. Al-Baqarah: 187)
Dan sabda Nabi -shalallahu alaihi wasalam- :
"Jika   malam  datang  dari   sini  (timur)   dan  berakhir   dari   sini  (barat)   dan matahari tenggelam, maka waktu bagi orang yang puasa telah usai."  HR. Ibnu Khuzaimah no. 30005.
Tidak mungkin  seorang  pun  mengatakan  bahwa  hal  ini  umum  untuk setiap orang di tiap negeri.
Demikian pula kita katakan pada keumuman firman Allah -ta'âla-:
"...Karena    itu,    barangsiapa    di  antara   kamu   hadir    (di    negeri   tempat tinggalnya) di bulan itu,  maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu..."  (QS. Al-Baqarah:
Dan sabda Nabi -shalallahu alaihi wasalam-:
"Jika kalian melihat hilal awal Ramadhan maka berpuasalah, jika engkau melihatnya hilal awal Syawal maka berbukalah."
Ungkapan-ungkapan    tersebut    memiliki   kekuatan    dari    sisi    lafal, pengamatan  sahih  dan  kias  sahih,  yang mengiaskan pewaktuan  bulan dengan pewaktuan hari.
Sebagian ulama  berpendapat  bahwa perkaranya  berpulang pada  Waliul Amr  (pemimpin).  Bilamana ia menentukan wajibnya puasa  atau  berbuka dengan sandaran syar'i maka keputusannya amalkan, agar manusia tidak berselisih  dan  berbeda  dalam  satu   wilayah.  Mereka  berdalil  dengan
keumuman hadits:
"Hari  puasa (Ramadhan)  adalah  hari  manusia  berpuasa dan hari  berbuka adalah hari semua manusia berbuka."
Ada pula pendapat lain yang disebutkan oleh ulama dalam membahas perbedaan pendapat dalam hal ini.
Mengenai pertanyaan  kedua,  yaitu  bagaimana  dengan  kaum  muslimin yang berpuasa di negeri kafir yang tidak memiliki rukyat sar'i?
Sesungguhnya  mungkin  sekali  bagi  mereka  untuk   menetapkan   hilal dengan cara syar'i, hal itu dengan memperhatikan hilal awal bulan jika memungkinkan.  Jika   tidak  memungkinkan,  maka  kami  berpendapat dengan pendapat pertama, yaitu bilamana ditetapkan hilal di negeri islam, maka mereka beramal dengan penetapan itu, sama saja apakah mereka melihatnya atau tidak.
Jika kita katakan dengan pendapat kedua, di mana setiap negara memiliki rukyat sendiri pada matla' yang berbeda dan tidak dapat terlihat dari negerinya,  maka  mereka  ikut  kepada  negeri  Islam  lain  yang  terdekat kepada mereka, karena itulah yang paling dapat di lakukan.


Share this Article on :

0 comments:

Poskan Komentar

 

© Copyright revival of Islamic faith foundation 2012 | Design by Atmadeeva Keiza | Published by Borneo Templates | Modified by Blogger Tutorials.