Revival Of Islamic Faith Foundation
News Update :

Tinjauan Kritis Hadits Isra’ Mi’raj

1 Oktober 2012


Bismillahirrohmanirroheem ..


“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui” (Qs. Al Israa : 1)

Setiap tanggal 27 Rajab biasanya sebagian Umat Islam memperingati peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW dengan ceramah Agama. Umumnya pula para penceramah mulai dari tingkat RT sampai Istana Negara menerangkan hikmah peristiwa itu dengan turunnya perintah sholat 5 waktu berdasarkan sebuah hadits isinya cukup panjang yang diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya nomor 234 dari jalan Anas bin Malik. Namun benarkah sesungguhnya demikian ?
Adapun hadits tersebut secara riwayat adalah shahih karena terdiri dari para perawi yang tsiqoh (dipercaya). Namun secara matan (isinya) sebagian bertentangan dengan Al Quran dan hadits lainnya yang shahih. Maka kedudukan hadits tersebut adalah dhoif (lemah) dan mualal (sisipan) karena isinya diselipkan cerita – cerita Israiliyat dari kaum Bani Israil yang sengaja secara tersirat ingin mengagungkan bangsa mereka dan Nabi Musa serta mengecilkan peran Nabi Muhammad beserta pengikutnya.
Kelemahan hadits tersebut :
  1. Yang menjadi subjek memperjalankan Rasulullah Muhammad dalam Peristiwa Isra’ (perjalanan) yang bermakna Mi’raj (naik melalui tangga – tangga) adalah Allah Subhanahuta’ala (Qs.17 : 1), Dia yang Maha Berkehendak. Sedangkan dalam hadits tersebut Nabi Musa yang menyuruh Nabi Muhammad untuk naik – turun dari langit sebanyak sembilan kali guna mendapat pengurangan perintah sholat dari 50 rakaat menjadi 5 rakaat.
  2. Nampak pula dalam kisah palsu ini seolah Nabi Musa begitu perkasanya dan berilmu sehingga mampu mendikte Allah sehingga menuruti pandangan Musa alaihissalam dalam hal perintah sholat.
  3. Hadits ini menerangkan proses perintah sholat kepada Nabi Muhammad sedangkan kewajiban sholat sudah ditetapkan Allah pada tahun awal Kenabian dengan turunnya surah al Muzammil ayat 1 – 9, jauh sebelum turunnya Surah Al Isra pada tahun ke empat Kerasulan.
  4. Keganjilan tampak jelas dalam hadit ini, bahwa sebelum menuju langit Rosulullah sholat dua rakaat di Baitul Maqdis, sedangkan perintah sholat belum diterima.
  5. Dalam hadits ini menggambarkan bahwa Para Nabi yang sudah wafat sudah berada di langit. Sedangkan seluruh Manusia termasuk para Nabi yang sudah wafat berada di alam Qubur / Barzakh / dinding yang membatasi Alam Dunia dan Akhirat. Ulama menyebutnya alam genggaman Allah atas dasar Surah Azzumar ayat 42 menunggu datangnya Hari Berbangkit (Qs. 18 : 47)
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”. (Qs. 39:42)
dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorangpun dari mereka. (Qs. 18 : 47)
  1. Nabi Muhammad adalah semulia para Nabi. Beliau tidak pernah membantah atau minta dispensasi (pengurangan) tugas dari Allah. Sedangkan yang biasa menawar dan membantah perintah Allah dan rasulNya sejak dahulu adalah orang kafir dari Bani Israil. Fakta ini dapat kita temukan dalam nash Al Quran dan Hadits yang shahih. Maka mustahil rosul kita mengadakan tawar menawar kepada Musa apalagi kepada Allah. Sedangkan seluruh rosul telah berjanji kepada Allah untuk beriman dan menolong misi Muhammad Rasulullah (Qs. 3:81)
dan (ingatlah), ketika Allah mengambil Perjanjian dari Para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan Hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" mereka menjawab: "Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai Para Nabi) dan aku menjadi saksi (pula) bersama kamu".

Demikianlah sebagian tinjauan kritis terhadap sebagian isi hadits tentang Mi’raj, tanpa menafikan hadits lainnya yang menceritakan kebenaran peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Selanjutnya insyaAllah kita akan meninjau peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini menurut dalil yang shahih.

Rute perjalanan Isra’ sebenarnya adalah dari Masjidil Haram, lalu naik ke Sidrathul Muntaha sampai ke hadirat Allah, kemudian turun ke Baitul Maqdis (tanpa disaksikan manusia), dan terakhir kembali ke Masjidil Haram (disaksikan kafilah sebagai bukti) dalam waktu sebagian malam. Jadi bukan seperti umumnya difahami dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho, baru kemudian ke langit dan kembali lagi Masjidil Haram.
Lafadz min (dari) bertemu dengan ilaa (sampai dengan) pada Surah Al Isra’ ayat 1 bermakna batas lingkaran area yang diberkahi Allah untuk kepentingan Mi’raj (naik). Berkah di sini maknanya pengkondisian khusus bagi seorang manusia pilihan agar mampu melakukan perjalanan luar biasa yang mustahil ditempuh manusia biasa dengan tanpa “sarana” dan wahana khusus dariNya. Allah mengutus Malaikat Jibril yang dicipta dari cahaya (nur) untuk menarik sinar – sinar kosmik seluas wilayah yang diberkahi tersebut seolah dapat kita gambarkan seperti terowongan dari bumi menuju langit guna melindungi jasad Nabi kita selama perjalanan. Kemudian Jibril juga membawa “wahana” berupa Bouraq (dari kata barqun = kilat) yang terdiri dari meta energi untuk tenaga pendorong Muhammad Rasulullah menuju ke langit dengan kecepatan melebihi kilat.

Maka lafadz min (dari) bertemu dengan ilaa (sampai dengan) pada Surah Al Isra’ ayat 1 bermakna batas area yang diberkahi Allah untuk kepentingan Mi’raj (naik) bukan jarak tempuh awal peristiwa itu. Jika lafadz ilaa bermakna jarak lurus, maka dapat kita lihat contohnya dalam Surah Al Maidah ayat 6 :
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, …
Maka peristiwa Mi’raj Nabi merupakan tanda pengetahuan yang besar bagi umat Muhammad untuk menggugah aqal lalu menggali kaidah ilmu Alam untuk kepentingan ibadah dan kemaslahatan duniawiyah
…agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”  (Qs. Al Israa : 1)
Berarti pula Islam adalah Din yang Maha Tinggi karena memiliki Kitab yang sempurna dan menjadi rujukan pengetahuan bagi semesta Alam. Maka secara garis besar, peristiwa Isra’ dan Mi’raj sengaja ditetapkan Allah guna Dia membuktikan kepada NabiNya Muhammad SAW dan kepada muttabi’ rosul akan kebenaran Al Quran sebagai Ayatul Qubro (bukti yang besar) dariNya. Dimana seluruh kunci pengetahuan semesta alam telah Dia letakkan di dalam KitabNya yang mulia yang tidak akan habis digali dan di kaji isinya sampai akhir zaman.
“(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”. (Qs.3:138).
“dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah[1183]. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Qs.31:27)
Wallahu’alam

Share this Article on :

0 comments:

Posting Komentar

 

© Copyright revival of Islamic faith foundation 2012 | Design by Atmadeeva Keiza | Published by Borneo Templates | Modified by Blogger Tutorials.