Revival Of Islamic Faith Foundation
News Update :

Syirik Dalam Hal Ketaatan

24 Juni 2011

Di antara pokok aqidah Islamiyah tentang rububiyah Allah subhanahu wata’ala adalah penetapan bahwa hukum-hukum syariat dan aturan perikehidupan manusia di alam semesta ini merupakan hak kepemilikan Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah sendiri menyetarakan kedudukan hak kepemilikan hukum ini dengan hak rububiyah-Nya yang lain, yaitu hak penciptaan. Allah subhanahu wata’ala berfirman :
“Ingatlah hanya milik-Nya hak penciptaan dan hukum. Maha Suci Rabb semesta alam.” (QS. Al A’raaf : 54)
Sedangkan konsekuensi dari penetapan hak-hak rububiyah Allah di atas adalah penetapan bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat tempat mengabdi dan menghambakan diri. Sehingga Allah lanjutkan maksud dari pemberitaan ayat tadi dengan firman-Nya:

“Berdo’alah (beribadahlah) kepada Rabb kalian dengan terus menerus dan suara lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al A’raaf : 55)
Hukum syariat tersebut merupakan jalan yang Allah ? tetapkan melalui lisan para rasul-Nya yang mulia. Para rasul yang diakhiri dengan kerasulan Muhammad ? telah menyatakan sikap yang benar dan lurus di dalam wujud ketundukan mereka kepada hukum tersebut. Allah ? mengkisahkan hal tersebut di dalam Kitab-Nya :
“Katakanlah (wahai Muhammad ?) sesungguhnya petunjuk Allah itulah yang sebenar-benarnya petunjuk. Dan kami diperintah untuk tunduk kepada Rabb semesta alam.” (QS. Al An’aam : 71)


Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menafsirkan ayat di atas : “Petunjuk itu tidak lain adalah jalan yang Allah syariatkan melalui lisan rasul-Nya. Adapun selain jalan itu adalah sebuah kesesatan, kehinaan dan kehancuran. ( وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ ) dengan ketundukan untuk mentauhidkan Allah, penyerahan diri untuk mentaati perintah dan larangan-Nya serta masuk di dalam kemurnian ibadah kepada-Nya”.
Nampaklah – dengan keterangan yang ringkas namun bermakna dalam dari seorang ‘alim mufassir tadi – fungsi keberadaan hukum syariat Allah di muka bumi ini yaitu untuk ditaati dengan penuh ketundukan. Terlebih ketika ketaatan yang diiringi rasa ketundukan itu merupakan bagian inti atau bahkan makna dari ibadah.

Al Hafidh Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan ucapannya yang dinukilkan oleh Asy Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh rahimahullah di dalam Fathul Majid 1/85 bahwa ibadah itu sendiri bermakna ketaatan. Beliau mengatakan: “Dan ibadah kepada-Nya merupakan ketaatan dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya”. Inilah hakikat agama Islam karena makna Islam itu sendiri adalah penyerahan diri kepada Allah ? yang mengandung ketundukan dan penghambaan diri.”
Dari sini sangatlah tepat bila Allah ? mengutus rasul-Nya ? untuk mengingatkan Ahlul Kitab tentang prinsip ketaatan yang agung itu. Allah ? berfirman:

“Katakanlah (wahai Muhammad ?), wahai Ahlul Kitab marilah bersatu dengan kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian bahwa tidak kita sembah kecuali Allah saja, tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu apa pun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai rabb selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah pada mereka persaksikanlah bahwa kami adalah kaum muslimin.” (QS. Ali Imran : 64)
Sisi kesesuaian ayat ini untuk dibacakan kepada mereka manakala prinsip ketaatan yang hanya diberikan kepada Allah ?, mereka selewengkan kepada pendeta-pendeta dan ulama-ulama mereka di atas kemaksiatan kepada Allah ?. Selama prinsip yang batil ini ada pada mereka maka selama itu pula tidak ada ikatan persatuan antara kaum muslimin dengan mereka. Prinsip ketaatan ini benar-benar menjadi jurang pemisah antara kaum muslimin dengan Ahlul Kitab.
Memang prinsip ketaatan yang batil ini merupakan ciri khas yang paling mencolok dalam akidah Ahlul Kitab. Allah ? beritakan di dalam firman-Nya :

“Mereka (Ahlul Kitab) menjadikan ulama dan pendeta mereka sebagai rabb-rabb selain Allah dan juga mereka mempertuhankan Al Masih putra Maryam. Padahal mereka hanya diperintah untuk beribadah kepada sesembahan yang satu. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Dia saja. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah : 31)

Asy Syaikh As Sa’di rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini mengatakan : “Mereka (para pendeta dan ulama Ahlul Kitab) menghalalkan untuk para pengikutnya apa-apa yang Allah ? haramkan maka mereka pun ikut menghalalkannya. Demikian pula ketika mereka mengharamkan apa-apa yang dihalalkan Allah ? maka para pengikutnya pun ikut juga mengharamkannya. Mereka membuat syariat dan pemikiran yang bertentangan dengan ajaran para rasul maka para pengikut mereka mengikutinya. Mereka (para pengikut itu) juga berlebih-lebihan terhadap ulama dan ahli ibadah, mengagungkan, menjadikan kubur-kubur mereka sebagai berhala yng diibadahi selain Allah ? yang ditujukan sembelihan, do’a dan istighatsah kepada kubur-kubur itu.”
Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah memberikan tambahan faidah yang berharga di dalam salah satu fatwa beliau: “Maka Allah ? menamai orang-orang yang diikuti itu dengan sebutan rabb tatkala mereka dijadikan sebagai pembuat syariat bersama Allah. Dan Dia menamai para pengikut dengan sebutan para penyembah tatkala mereka tunduk dan taat kepada para pemimpinnya di dalam bermaksiat kepada Allah ?.”
Hendaklah kita menyadari dengan sepenuhnya bahwa ketaatan Ahlul Kitab kepada selain Allah di dalam kemaksiatan bukan hanya merusak dan mengancam kemurnian tauhid uluhiyah mereka, bahkan menodai kesempurnaan keyakinan bahwa hukum itu mutlak milik Allah yang berarti telah masuk dalam rangkaian tauhid rububiyah-Nya. Maha Suci Allah dari perbuatan dhalim mereka.

Asy Syaikh As Sa’di mengungkapkan kebatilan ini ketika mengomentari ayat ke : 64 dari surat Ali Imran yang telah lalu : “Maka janganlah mentaati makhluk-makhluk Allah dalam bermaksiat kepada-Nya karena hal itu berarti menjadikan makhluk-makhluk tersebut menempati kedudukan rububiyah Allah.”
Keberadaan iman seseorang yang terkait dengan ketaatan yang mungkar ini sangat dipengaruhi dengan keyakinan yang ada pada hatinya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di dalam Majmu’ Fatawa 7/ 70 berkata : “Mereka orang-orang yang telah menjadikan para ahli ibadah dan ulama sebagai rabb-rabb selain Allah dengan mentaatinya di dalam penghalalan apa yang Allah haramkan dan pengharaman apa yang Allah halalkan terbagi menjadi dua jenis :
Pertama : Mereka mengetahui bahwa para ahli ibadah dan ulama itu telah merubah agama Allah kemudian mereka mengikutinya. Mereka meyakini tentang penghalalan apa yang Allah haramkan dan pengharaman apa yang Dia halalkan dalam rangka mengikuti pemimpin-pemimpin itu. Padahal mereka telah mengetahui bahwa para pemimpin tersebut telah menyelisihi agama para rasul. Maka ini adalah kekufuran. Allah dan rasul-Nya telah menjadikan perbuatan tersebut sebagai kesyirikan walaupun mereka tidak shalat dan sujud kepada para pemimpin tersebut. Maka siapa saja yang mengikuti seseorang di dalam menyelisihi agama Allah padahal dia telah mengetahui dan meyakini bahwa apa yang orang itu katakan bukanlah perkataan Allah dan rasul-Nya adalah seorang musyrik seperti halnya mereka (Ahlul Kitab).

Kedua : Mereka masih meyakini dan mengimani tentang haramnya apa yang diharamkan Allah dan halalnya apa yag dihalalkan-Nya. Namun mereka mentaati para pemimpinnya dalam kemaksiatan kepada Allah sebagaimana yang dilakukan seorang muslim berupa perbuatan-perbuatan maksiat yang dia masih meyakini bahwa perbuatan itu benar-benar kemaksiatan. Maka mereka dihukumi sebagai pelaku dosa besar sebagaimana yang telah shahih dari Nabi ? bahwa beliau bersabda
: ِإنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ
“Hanyalah ketaatan itu di dalam perkara yang benar.” (Muttafaqun ‘Alaih)
Siapapun dari umat ini janganlah merasa aman untuk tidak terjatuh ke dalam perbuatan yang pernah dan sedang menimpa Ahlul Kitab hingga hari ini. Peringatan Allah ? kepada Ahlul Kitab merupakan peringatan bagi umat ini juga. Lebih-lebih ketika Nabi ? pernah bersabda:
لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَذْوَ الْقُذَّةِ بِالْقُذَّةِ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوْهُ قَالُوْا : يَا رَسُولَ اللهِ الْيَهُوْدُ وَ النَّصَارَى ؟ قَالَ : فَمَنْ
“Sungguh-sungguh kalian pasti akan mengikuti jejak orang-orang sebelum kalian seperti bulu anak panah yang menyerupai bulu anak panah yang lainnya. Sampai pun kalau mereka memasuki lubang biawak maka pasti kalian akan memasukinya juga. Mereka (para shahabat) bertanya: “Apakah mereka Yahudi dan Nashara ?” Beliau menjawab : “Siapa lagi kalau bukan mereka.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Sungguh telah terjadi sabda Nabi ? yang tidaklah beliau berbicara melainkan semata-mata dari wahyu Allah Yang Maha Mengetahui tentang apa yang akan terjadi. Apakah ketaatan Ahlul Kitab kepada para pemimpin mereka dalam kemaksiatan kepada Allah termasuk perkara yang sulit untuk ditiru umat ini yang beliau ? permisalkan dengan lubang biawak? Sekali-kali bukan. Terlalu banyak di antara umat ini -mudah-mudahan Allah ? selamatkan mereka- yang mentaati para pemimpinnya dalam kemaksiatan kepada Allah. Jauhnya mereka dari bimbingan akidah yang benar memaksa mereka untuk mengikuti segala tindak tanduk dan ucapan para pemimpinnya tanpa mau menengok ucapan Allah dan rasul-Nya. Tidak sedikit para anggota organisasi Islam sekalipun yang mengikuti dan taat terhadap undang-undang yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Terlalu sulit untuk dihitung jumlah penganut agama yang terbesar di negeri ini yang mendudukkan undang-undang manusia yang penuh kekurangan setingkat dengan undang-undang Allah dan rasul-Nya yang sempurna. Bahkan tatkala undang-undang mereka bertentangan dengan undang-undang Allah maka mereka dahulukan undang-undang mereka daripada undang-undang Allah dan rasul-Nya. Bagaimana pula umat yang mengharapkan hukum Allah dan rasul-Nya tegak di bumi ini justru menjadi umat terdepan di dalam memutuskan suatu perkara dengan selain keputusan Allah dan rasul-Nya. Apakah tidak terlintas sedikitpun di dalam benak-benak mereka bahwa tidaklah mungkin hukum Allah dan rasul-Nya tegak dengan mendudukkan hukum Allah dan rasul-Nya di bawah hukum manusia ?! Tidaklah mereka berhenti dan bertaubat kepada Allah melainkan ketika lepas dari jeratan hawa nafsu yang selalu mengajak kepada kejahatan. Wallahul Musta’an.
Share this Article on :

0 comments:

Posting Komentar

 

© Copyright revival of Islamic faith foundation 2012 | Design by Atmadeeva Keiza | Published by Borneo Templates | Modified by Blogger Tutorials.